Gugur Gunung Menjelang Ramadhan di Makam Gunung Pegat: Tradisi Gotong Royong yang Menjaga Ingatan Leluhur
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN MISTERI – Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, suasana di kawasan Makam Gunung Pegat, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, terlihat lebih ramai dari biasanya pada Minggu (8/2/2026). Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai desa seperti Sukoharjo, Kayen, Sirnoboyo, Kembang, Menadi, dan wilayah sekitarnya berdatangan dengan membawa peralatan kebersihan. Tanpa adanya instruksi resmi, mereka bergerak bersama dalam kegiatan kerja bakti yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai gugur gunung.
Gugur gunung merupakan bentuk gotong royong yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini mencerminkan semangat kerja bersama demi kepentingan bersama, sebuah nilai sosial yang diwariskan oleh leluhur dan menempatkan kebersamaan sebagai fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
Di kawasan Makam Gunung Pegat, kegiatan gugur gunung tidak hanya dimaknai sebagai upaya membersihkan lingkungan pemakaman. Tradisi ini juga menjadi ruang perjumpaan sosial dan spiritual bagi masyarakat. Keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan sering bertemu kembali, saling menyapa, dan mengenang para leluhur yang dimakamkan di lokasi yang sama sesuai dengan tradisi pemakaman keluarga. Dengan demikian, kegiatan ini juga menjadi semacam reuni keluarga yang berlangsung secara alami.
Diskusi dengan Kepala Desa Sirnoboyo pada Sabtu (21/2/2026) di Balai Desa Sirnoboyo juga menyoroti pentingnya tradisi ini dalam konteks Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Pacitan sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya lokal.
Dalam pembahasan tersebut, gugur gunung menjelang Ramadhan dipandang sebagai tradisi yang memiliki nilai sosial, spiritual, dan kultural yang kuat. Tradisi ini juga memiliki kaitan historis dengan keberadaan Masjid Miftahul Jannah, yang pada masa lalu dikenal sebagai surau atau langgar tempat para santri belajar mengaji, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar rumah demang Sirnoboyo.
Bagi masyarakat Desa Sirnoboyo dan wilayah sekitarnya, khususnya generasi tua, kegiatan gugur gunung menjelang Ramadhan bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Tradisi ini dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus persiapan batin dalam menyambut bulan suci. Membersihkan makam menjadi simbol membersihkan hati, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan nilai keikhlasan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam kegiatan tersebut tampak berbagai lapisan masyarakat terlibat secara aktif. Anak-anak, orang dewasa, hingga para sesepuh desa bekerja bersama membersihkan area makam. Ada yang menyapu daun kering, memangkas rumput liar, merapikan nisan, hingga membersihkan jalan setapak menuju area pemakaman. Semua dilakukan dengan semangat sukarela tanpa pamrih dan tanpa memandang perbedaan status sosial.
Di tengah kehidupan modern yang cenderung semakin individualistis, tradisi gugur gunung menjadi pengingat bahwa nilai kebersamaan dan gotong royong masih tetap hidup di tengah masyarakat. Tradisi ini mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, semangat berbagi tanggung jawab, serta menjaga hubungan kekerabatan dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, Makam Gunung Pegat tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi para leluhur, tetapi juga menjadi ruang yang menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya masyarakat Pacitan. Di tempat inilah tradisi, spiritualitas, dan kebersamaan berpadu, menjadi warisan budaya yang terus dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
