Situs Makam Syekh Brubuh di Pacitan: Jejak Awal Dakwah Islam
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Keberadaan makam Syekh Brubuh yang terletak di Jalan WR Supratman, tepat di belakang Kantor Disbudparpora Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, hingga kini masih menyimpan banyak misteri. Meski belum banyak dikenal masyarakat luas, sosok ulama yang diyakini berasal dari Persia ini dipercaya sebagai salah satu pendakwah Islam paling awal di wilayah selatan Pulau Jawa.
Menurut cerita yang berkembang, kabar tentang keberadaan wilayah selatan Jawa yang masih dipenuhi kekuatan alam dan spiritual terdengar hingga ke negeri Persia. Sejumlah ulama ahli kemudian datang ke tanah Jawa, terdiri dari mereka yang menguasai bidang ruqyah (tolak bala), ekologi, meteorologi, hingga geofisika. Kehadiran rombongan tersebut diyakini bertujuan untuk membersihkan wilayah dari gangguan gaib serta menata keseimbangan alam.
Konon, kedatangan Syekh Brubuh di Pacitan terjadi sekitar 200 tahun lebih awal dibandingkan Syekh Subakir. Para ulama ini disebut menanam tumbal di sejumlah titik yang dianggap rawan bencana atau memiliki energi negatif. Praktik tersebut dimaknai sebagai ikhtiar pembersihan secara spiritual terhadap tempat-tempat yang dianggap wingit. Dalam buku Atlas Walisongo, KH Agus Sunyoto menjelaskan bahwa penanaman tumbal merupakan upaya penyucian tempat melalui jalur rohani dengan menanam tanah di lokasi yang dianggap angker.
Saat ini, makam Syekh Brubuh dirawat oleh Husnuddin (55), warga Desa Sirnoboyo, yang menjadi juru kunci dengan niat tulus tanpa pamrih materi. Ia mengabdikan diri semata-mata untuk menjaga dan merawat makam para tokoh yang diyakini sebagai orang-orang saleh.
Upaya pendokumentasian tradisi lisan juga memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa tradisi lisan termasuk salah satu dari sepuluh kategori Objek Pemajuan Kebudayaan yang harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina. Dengan demikian, penulisan dan kajian terhadap cerita-cerita rakyat, legenda lokal, hingga kisah tokoh spiritual seperti yang berkembang di masyarakat menjadi bagian dari strategi pemajuan kebudayaan nasional.
Tradisi lisan merupakan bagian penting dari warisan pengetahuan budaya yang diwariskan secara turun-temurun melalui cerita, tuturan, legenda, maupun kisah sejarah yang hidup dalam kehidupan masyarakat. Agar tidak hilang akibat perubahan zaman, tradisi lisan perlu didokumentasikan dan ditulis secara sistematis sehingga dapat menjadi sumber pengetahuan yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Upaya penulisan tersebut juga berfungsi untuk menjaga keberlanjutan memori kolektif masyarakat terhadap sejarah, nilai-nilai budaya, serta identitas lokal yang berkembang di suatu wilayah
Berdasarkan cerita lisan yang berkembang di kalangan peziarah, Syekh Brubuh memiliki nama asli Abdurrahman bin Baraqbah, seorang sayyid yang berasal dari Yaman. Atas perintah KH Fuad Habib Dimyathi, pusara makam Syekh Brubuh direnovasi pada tahun 2017. Di sisi kanan makam tersebut, juga terdapat pusara lain yang diyakini sebagai Syekh Brojo, yang oleh sebagian peziarah disebut pula sebagai Syekh Alif.
Husnuddin menuturkan bahwa sejak akhir tahun 2016 dirinya mulai aktif merawat kawasan makam tersebut. Ia menyebut, makam Syekh Brubuh memiliki keterkaitan erat dengan kisah dakwah Islam di Pacitan. Dalam cerita tutur yang beredar, Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong, dan Syekh Maulana Maghribi pernah mengalami kekalahan melawan Ki Buwono Keling, penguasa Wengker Selatan yang dikenal sakti. Namun setelah berziarah ke makam Syekh Brubuh, Ki Buwono Keling akhirnya dapat ditaklukkan tanpa melalui peperangan.
Seiring waktu, makam Syekh Brubuh menjadi tujuan ziarah tidak hanya warga Pacitan, tetapi juga peziarah dari wilayah Karesidenan Madiun hingga Jawa Tengah. Suasana makam terasa semakin teduh dengan keberadaan pohon jambu klampok besar yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun dan tumbuh di tengah area makam.
Tak jarang, rombongan peziarah dari kalangan pesantren menggelar kegiatan keagamaan seperti pembacaan shalawat dan doa bersama di kawasan makam tersebut. Keberadaan makam Syekh Brubuh pun terus menjadi bagian penting dari jejak sejarah dakwah Islam serta khazanah spiritual masyarakat Pacitan.

