Upacara Jangkrik Genggong di Dusun Tawang: Tradisi, Mitos, dan Nilai Kearifan Lokal

Upacara Jangkrik Genggong di Dusun Tawang: Tradisi, Mitos, dan Nilai Kearifan Lokal
Upacara Jangkrik Genggong di Dusun Tawang: Tradisi, Mitos, dan Nilai Kearifan Lokal
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Upacara Jangkrik Genggong merupakan salah satu tradisi ritual masyarakat pesisir yang berkaitan dengan kegiatan sedekah bumi serta kepercayaan terhadap mitos penguasa Laut Selatan. Upacara ini dilaksanakan sejak siang hingga malam hari, dengan puncak acara pada malam hari yang diisi dengan pagelaran seni Tayub. Tradisi tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat Dusun Tawang, Desa Sidomulyo.

Setiap tahun masyarakat setempat menyelenggarakan upacara bersih desa dengan membawa sesaji berupa replika ikan kakap merah berukuran besar yang diarak oleh para pemuda yang masih lajang dengan mengenakan busana adat Jawa. Prosesi tersebut diiringi oleh musik tradisional Jangkrik Genggong serta tarian Minoagung. Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara unsur kepercayaan masyarakat, seni pertunjukan, serta kehidupan masyarakat nelayan.

Dusun Tawang dikenal memiliki keunikan tersendiri dibandingkan desa lain di wilayah Pacitan. Di kawasan tersebut terdapat tujuh sumur yang dipercaya masyarakat sebagai sumber air yang masing-masing dijaga oleh makhluk gaib. Setiap sumur memiliki nama dan penguasa spiritualnya sendiri, seperti Sumur Wungu yang dipercaya berada di bawah kekuasaan Tumenggung Mangkunegoro, Sumur Nglandang yang dijaga oleh Kethok Jenggot dan Rogo Bahu, Sumur Turen yang diasosiasikan dengan Wonocaki, Sumur Watugupit yang dipandegani Bumiyah, Sumur Pinggir yang berada di bawah pengaruh Gambirsari, Sumur Seda Rawa yang dikaitkan dengan Cikrak, serta Sumur Gedhe yang diyakini sebagai sumber air terbesar dan berada di bawah kekuasaan Gadhung Mlati.

Baca Juga  Kunjungi Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI)  Madiun, Ini Pesan dan Harapan Danrem 081/DSJ

Kepercayaan terhadap para penguasa sumber air tersebut menjadi dasar pelaksanaan upacara Jangkrik Genggong. Masyarakat meyakini bahwa sebagai bentuk ungkapan syukur atas ketersediaan air yang menjadi sumber kehidupan, mereka harus mengadakan ritual bersih desa dan memberikan sesaji setiap tahun. Dalam pelaksanaannya, berbagai gending atau lagu tradisional dimainkan dengan judul yang sama dengan nama para penguasa sumur tersebut. Setiap gending memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir, seperti gending Surung Dayung yang menggambarkan aktivitas nelayan saat mendayung perahu di tengah laut.

Berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, tradisi ini bermula dari kisah penguasa Sumur Gedhe yang bernama Gadhung Mlati. Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa Gadhung Mlati pernah meminta agar dalam upacara bersih desa diadakan pertunjukan Tayub yang diiringi dengan gending Jangkrik Genggong. Permintaan tersebut disampaikan melalui perantara seorang tokoh masyarakat yang mengalami kerasukan roh Rogo Bahu. Sejak saat itu, masyarakat Dusun Tawang selalu melaksanakan pertunjukan Tayub dengan iringan gending Jangkrik Genggong setiap kali upacara bersih desa diselenggarakan.

Rangkaian prosesi upacara dimulai dengan arak-arakan sesaji yang membawa replika ikan kakap merah menuju balai desa, kemudian dilanjutkan menuju pesanggrahan yang berada di kawasan pesisir. Kegiatan diawali dengan pertunjukan tari yang menggambarkan sejarah munculnya tradisi tersebut, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa ritual oleh tokoh adat setempat. Para pemuda kemudian mengarak sesaji dengan diiringi tarian dan musik tradisional. Setelah doa selesai dipanjatkan, masyarakat yang hadir biasanya berebut mengambil berbagai sesaji seperti ingkung ayam dan hidangan lainnya yang dipercaya membawa keberkahan.

Baca Juga  Presiden Prabowo Siap Sampaikan Misi Indonesia di Sidang Umum PBB ke-80

Setelah prosesi ritual selesai, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni. Biasanya pertunjukan diawali dengan Tari Gambyong sebagai tari pembuka, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Tayub yang dimainkan oleh beberapa penari pria. Para penari tersebut melambangkan tokoh-tokoh spiritual yang diyakini sebagai penjaga sumber air di wilayah tersebut. Pada bagian akhir pertunjukan, dimainkan gending Jangkrik Genggong yang menjadi inti dan simbol utama dari keseluruhan upacara adat ini.

Secara sosial, Upacara Jangkrik Genggong memiliki fungsi penting bagi masyarakat. Ritual ini tidak hanya menjadi sarana ekspresi spiritual, tetapi juga berperan dalam mempererat hubungan sosial serta memperkuat solidaritas di antara warga masyarakat. Bagi masyarakat nelayan, upacara ini juga memiliki makna simbolis sebagai bentuk persiapan bagi para pemuda yang telah memasuki usia dewasa untuk mulai melaut dan mencari nafkah dengan harapan memperoleh keselamatan.

Baca Juga  Maarten Paes Berharap Indonesia Raih Kemenangan di Kandang Melawan Australia

Selain itu, Upacara Jangkrik Genggong juga mengandung berbagai nilai kearifan lokal. Nilai religius terlihat dari doa-doa yang dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta permohonan keselamatan. Nilai sosial tercermin dari semangat gotong royong masyarakat dalam mempersiapkan hingga melaksanakan kegiatan upacara. Nilai seni tampak dalam berbagai pertunjukan tari, musik tradisional, serta arak-arakan sesaji yang menghadirkan pengalaman estetis bagi masyarakat dan penonton.

Dari sisi budaya, tradisi ini merupakan warisan leluhur yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat pesisir Pacitan. Selain itu, upacara ini juga memiliki potensi nilai ekonomi apabila dikembangkan sebagai agenda wisata budaya tahunan yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung ke wilayah tersebut. Kehadiran wisatawan diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat, terutama melalui aktivitas perdagangan dan usaha kecil di sekitar lokasi kegiatan.

Dengan berbagai nilai yang dimilikinya, Upacara Jangkrik Genggong merupakan salah satu tradisi budaya yang penting untuk didokumentasikan dalam kajian Inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan di Pacitan. Upaya dokumentasi dan pelestarian diharapkan dapat menjaga keberlangsungan tradisi ini agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah

Dana Indonesiana 2025: Ketika Ribuan Gagasan Budaya Menemukan Ruang Tumbuh

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.