Jejak yang Terhalang di Pancer Door: Ketika Keindahan Tertutup Kelalaian
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Langkah-langkah kaki yang seharusnya ringan di bawah rindangnya cemara laut, kini terasa ragu. Di Pantai Pancer Door, jalur pejalan kaki yang dulu menjadi ruang favorit wisatawan, berubah menjadi lintasan yang harus dilalui dengan hati-hati.
Rabu pagi itu (15/4/2026), suasana di kawasan wisata Dusun Temon tampak berbeda. Bukan lagi sekadar sunyi, tetapi menyisakan kesan terabaikan. Di tengah jalur pedestrian utama, sebuah pohon tumbang membentang, menutup akses yang selama ini menjadi urat nadi pergerakan pengunjung.
Batang kayu besar itu tergeletak tanpa tanda-tanda penanganan. Ranting-rantingnya menjulur ke berbagai arah, seolah menghalangi siapa pun yang ingin melintas. Wisatawan yang datang terpaksa melangkah pelan, mencari celah, atau bahkan berbalik arah.
Padahal, jalur ini bukan sekadar jalan setapak. Ia adalah pengalaman. Lorong alami yang diapit deretan cemara laut, tempat cahaya matahari menembus sela daun, menciptakan bayangan yang kerap diburu kamera para pelancong.
Namun kini, keindahan itu seolah terhenti.
Di sepanjang jalur, gapura-gapura berwarna merah yang dahulu menjadi penanda visual kawasan, tampak mulai kehilangan pesonanya. Catnya mengelupas, besi-besinya berkarat, dan warnanya memudar dimakan waktu. Struktur yang dulu berdiri sebagai simbol estetika kini justru memperlihatkan jejak minimnya perawatan.
Di sisi lain, rumput liar tumbuh tanpa kendali. Menutupi tepi jalur, merambat ke badan jalan, menciptakan kesan semak yang tidak terurus. Jalur pedestrian yang semestinya nyaman dilalui, perlahan berubah menjadi ruang yang terasa asing bahkan bagi pengunjung yang pernah datang sebelumnya.
Sebagai bagian dari kawasan wisata yang terhubung dengan Pantai Teleng Ria, kondisi ini menjadi ironi tersendiri. Potensi yang besar tidak diiringi dengan perawatan yang memadai.
Beberapa pengunjung tampak tetap mencoba menikmati suasana. Mereka berjalan perlahan, berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkah dengan kewaspadaan. Namun pengalaman yang mereka rasakan jelas berbeda—bukan lagi sekadar menikmati alam, melainkan beradaptasi dengan keterbatasan.
Keindahan hutan cemara laut yang menjadi daya tarik utama masih ada. Angin tetap berhembus, suara ombak tetap terdengar, dan bayangan pepohonan masih menari di tanah. Namun tanpa dukungan fasilitas yang layak, semua itu terasa setengah utuh.
Pancer Door hari itu bukan kehilangan pesonanya, tetapi pesona itu tertutup oleh sesuatu yang seharusnya bisa dicegah: kelalaian.
Dan di antara batang pohon yang tumbang serta gapura yang berkarat, terselip pertanyaan yang sederhana—siapa yang akan mengembalikan jalur ini seperti dulu? (Arlan Bayu Nugroho)
