Pendopo Djogokaryo: Warisan Arsitektur dan Identitas Budaya Pacitan (Dana Indonesiana 2025)

Pendopo Djogokaryo: Warisan Arsitektur dan Identitas Budaya Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
Pendopo Djogokaryo: Warisan Arsitektur dan Identitas Budaya Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Berdasarkan arsip foto yang tersimpan di perpustakaan Leiden, Belanda, bangunan pendopo di Pacitan pada masa lampau mengusung bentuk arsitektur joglo khas Jawa. Struktur bangunan ini terdiri atas beberapa ruang penting, seperti ruang penyimpanan pusaka, ruang tamu, ruang tidur, hingga dapur, yang mencerminkan tata ruang tradisional dalam lingkungan pemerintahan lokal.

Keberadaan arsip visual semacam ini memiliki peran krusial dalam kegiatan inventarisasi dan kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), khususnya yang berkaitan dengan pengetahuan tradisional dalam teknologi pembangunan pendopo. Pendirian pendopo ini diperkirakan berlangsung pada masa awal pemerintahan Bupati Djogokaryo atau Kanjeng Jimat, setelah pemindahan pusat pemerintahan dari Semanten ke Pacitan.

Baca Juga  Menko AHY dan Menko PMK Bahas Strategi Pembangunan Inklusif dan Tanggap Bencana

Foto yang merekam Pendopo Djogokaryo pada awal abad ke-20 memperlihatkan karakter kuat arsitektur Jawa tradisional yang berpadu dengan konteks kolonial Hindia Belanda. Bangunan pendopo tampak terbuka tanpa dinding, ditopang oleh deretan tiang kayu besar (saka) yang tersusun simetris. Atapnya menjulang tinggi, kemungkinan berbentuk limasan, dengan konstruksi rangka kayu dan penutup atap tradisional. Ruang yang luas dan terbuka menunjukkan fungsi pendopo sebagai pusat aktivitas publik sekaligus ruang resmi pemerintahan.

Dalam dokumentasi tersebut juga terlihat dalang dan pengrawit Wayang Beber yang mengenakan busana tradisional berupa jarik dan ikat kepala atau blangkon. Mereka duduk di atas tikar anyaman dengan sikap yang tertib dan penuh tata krama. Tikar tersebut terbuat dari daun pandan, bahan lokal yang banyak ditemukan di kawasan perbukitan dan pesisir Pacitan. Di hadapan mereka terdapat perlengkapan sesaji, yang menandakan masih berlangsungnya praktik ritual dan tradisi budaya Jawa dalam aktivitas di pendopo.

Baca Juga  Kades Sirnoboyo Eko Haryono Mendukung Vaksinasi Covid-19 Dosis Lanjutan atau Booster

Lantai bangunan tampak menggunakan ubin atau batu, yang menunjukkan bahwa pendopo ini merupakan bangunan permanen dengan status penting. Di bagian latar terlihat bangunan pendukung beratap genteng serta keberadaan sepeda, yang menjadi penanda kehidupan sehari-hari dan mobilitas masyarakat pada masa kolonial.

Secara keseluruhan, arsip foto ini merepresentasikan Pendopo Djogokaryo sebagai pusat kekuasaan lokal yang menjadi ruang pertemuan antara tradisi Jawa dan sistem administrasi kolonial. Pendopo tidak hanya berfungsi sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai simbol interaksi budaya, kekuasaan, dan awal modernitas di Pacitan pada awal abad ke-20, sekaligus menyimpan nilai historis dan kultural yang sangat penting dalam memahami perjalanan sejarah daerah tersebut.

Baca Juga  Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kegiatan Keagamaan tidak Bemuatan Politis

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.