Representasi Busana dan Identitas Sosial Perempuan Pacitan di Kawasan Gua Tabuhan Awal Abad ke-20 (Dana Indonesiana 2025)

Representasi Busana dan Identitas Sosial Perempuan Pacitan di Kawasan Gua Tabuhan Awal Abad ke-20 (Dana Indonesiana 2025)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Pada awal abad ke-20, kawasan Gua Tabuhan tidak hanya dipahami sebagai bentang alam karst yang memiliki nilai geologis, tetapi juga sebagai ruang sosial dan kultural yang hidup dalam dinamika masyarakat Pacitan. Lingkungan gua dengan dinding batu kapur yang tinggi, lembap, dan bertekstur khas membentuk lanskap yang unik sekaligus menjadi latar aktivitas sosial masyarakat. Kehadiran perempuan Pacitan di kawasan ini mencerminkan praktik budaya, pola berbusana, serta nilai-nilai kesopanan yang berkembang pada masa tersebut (Hendriyanto A, 2026g).

Busana yang dikenakan perempuan Pacitan umumnya berupa kebaya sederhana dengan pilihan warna terang seperti putih atau krem. Kebaya berlengan panjang dengan minim ornamen mencerminkan nilai kesederhanaan sekaligus norma kesopanan perempuan Jawa pada masa kolonial. Warna yang cenderung netral menunjukkan fungsi busana sebagai pakaian sehari-hari yang praktis, sekaligus memperlihatkan pengaruh budaya Jawa di wilayah pesisir selatan.

Baca Juga  Update Covid-19 di Jatim, +117 Kasus Baru per 13 Mei 2020

Untuk bawahan, digunakan jarik atau kain batik dengan motif klasik yang relatif sederhana, seperti pola geometris atau ragam flora dengan komposisi yang tidak rumit. Hal ini mengindikasikan bahwa pemakainya berasal dari kelompok sosial menengah—bukan kalangan bangsawan keraton, tetapi juga bukan dari lapisan pekerja kasar. Cara pemakaian kain yang dililit hingga mata kaki menegaskan nilai kesopanan sekaligus memberikan kenyamanan dalam beraktivitas.

Gaya rambut perempuan pada masa itu umumnya berupa sanggul atau konde sederhana yang ditata ke belakang tanpa hiasan berlebihan. Dalam situasi tertentu, sanggul tersebut dapat dilengkapi dengan bunga kecil atau sisir sederhana sebagai pemanis. Riasan wajah cenderung alami tanpa penggunaan kosmetik mencolok, mencerminkan konsep kecantikan perempuan Jawa yang menonjolkan keanggunan alami dan kesederhanaan.

Baca Juga  PSSI Tunjuk Alexander Zwiers sebagai Direktur Teknik Baru: Bangun Fondasi Sepak Bola Indonesia yang Berkelanjutan

Aksesori yang digunakan pun terbatas, seperti anting kecil atau bros kebaya, yang lebih berfungsi sebagai pelengkap daripada simbol status sosial. Alas kaki yang dikenakan juga sederhana, seperti sandal, bahkan dalam beberapa situasi perempuan berjalan tanpa alas kaki, terutama ketika berada di lingkungan alam terbuka seperti kawasan gua.

Dalam perspektif kajian budaya, representasi perempuan Pacitan di kawasan Gua Tabuhan menunjukkan hubungan yang selaras antara manusia dan lingkungan alam. Gua tidak hanya diposisikan sebagai objek alam semata, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki dimensi sosial, spiritual, dan kultural. Oleh karena itu, dokumentasi mengenai busana, aktivitas, dan representasi sosial perempuan di kawasan ini menjadi bagian penting dalam proses inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan, khususnya dalam upaya memahami identitas budaya lokal Pacitan pada masa lampau.

Baca Juga  Taman Balekambang: Destinasi Hijau yang Tak Lekang oleh Waktu di Tengah Kota Solo

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd