Representasi Busana Pribumi Terpelajar Pacitan dalam Pengaruh Gaya Kolonial (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.CON, OPK-PACITAN – Pakaian kalangan pribumi terpelajar di Pacitan pada awal abad ke-20 memperlihatkan adanya proses adaptasi terhadap gaya busana kolonial yang berkembang pada masa Hindia Belanda. Hal ini tergambar dalam sebuah potret formal pasangan suami istri pribumi yang diabadikan pada era ketika fotografi studio mulai dikenal luas. Keduanya tampil dengan sikap tenang dan berwibawa, mencerminkan identitas sosial sekaligus latar pendidikan yang relatif maju pada zamannya.
Sosok perempuan dalam foto tampak duduk anggun dengan mengenakan gaun panjang berwarna putih, dilengkapi detail renda dan kerah tinggi yang menunjukkan pengaruh kuat gaya busana Eropa. Tatanan rambut yang disanggul rapi semakin menegaskan kesan elegan dan terhormat. Sementara itu, laki-laki yang berdiri di sampingnya mengenakan pakaian serba putih dengan model jas tertutup, serta kumis tipis yang menjadi ciri khas laki-laki terpelajar pada masa kolonial.
Latar belakang dekoratif berupa pagar dan taman buatan khas studio foto memperkuat nuansa formal sekaligus merepresentasikan simbol modernitas. Dengan demikian, foto ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi visual keluarga, tetapi juga menjadi representasi dinamika sosial-budaya masyarakat pribumi yang mulai berinteraksi dengan sistem pendidikan Barat, gaya hidup kolonial, serta simbol-simbol status sosial pada awal abad ke-20.
Dalam konteks kajian kebudayaan, representasi busana ini menjadi penting untuk ditelaah lebih mendalam sebagai bagian dari pengetahuan tradisional yang mengalami proses transformasi. Busana tidak hanya dimaknai sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai simbol identitas, stratifikasi sosial, serta negosiasi budaya antara tradisi lokal dan pengaruh kolonial.
Oleh karena itu, upaya revitalisasi dan kajian komprehensif terhadap pengetahuan tradisional busana kaum terpelajar Pacitan menjadi sangat penting. Revitalisasi ini tidak hanya bertujuan untuk mendokumentasikan bentuk dan makna busana pada masa lalu, tetapi juga untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kultural yang terkandung di dalamnya sebagai bagian dari identitas lokal. Melalui inventarisasi dan kajian Objek Pemajuan Kebudayaan, warisan busana tersebut dapat dipahami secara lebih kontekstual, dilestarikan, serta dikembangkan sebagai sumber pembelajaran, inspirasi desain, dan penguatan jati diri budaya masyarakat Pacitan di tengah arus globalisasi.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.

