Sirnoboyo 1745: Jejak Hijrah, Doa, dan Lahirnya Peradaban di Tanah Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, OPK – PACITAN – Di balik lanskap tenang Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan, tersimpan sebuah kisah tua yang tidak sekadar berbicara tentang waktu, tetapi tentang perjalanan spiritual sebuah peradaban. Tahun 1745 Masehi diyakini menjadi simpul penting—ketika sejarah, keyakinan, dan budaya lokal berkelindan membentuk identitas yang masih terasa hingga hari ini.
Bagi sebagian masyarakat, Sirnoboyo bukan sekadar nama wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan ingatan kolektif tentang hijrah, doa, dan upaya manusia menjaga keseimbangan antara dunia yang tampak dan nilai yang tak kasat mata.
Jejak Awal: Dari Hijrah ke Peradaban
Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa sekitar pertengahan abad ke-18, terjadi perpindahan kelompok leluhur dari wilayah asal menuju kawasan yang kini dikenal sebagai Sirnoboyo. Peristiwa ini tidak dipahami semata sebagai perpindahan geografis, melainkan sebagai hijrah spiritual—sebuah langkah meninggalkan ruang lama menuju tatanan hidup baru yang lebih terarah.
Di titik inilah, kisah pembangunan masjid awal yang dikaitkan dengan Ki Ageng Asin menjadi penting. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi pusat peradaban: tempat masyarakat belajar, bermusyawarah, dan membangun nilai bersama.
Senin Kliwon: Hari yang Dipilih, Bukan Kebetulan
Dalam penelusuran tradisi lokal yang memadukan catatan Pegon, sejarah lisan, dan simbol-simbol spiritual Jawa-Islam, tanggal Senin Kliwon, 24 Agustus 1745 Masehi muncul sebagai momentum yang sarat makna.
Bagi masyarakat Jawa, weton bukan sekadar penanda waktu, melainkan ruang simbolik yang dipercaya memiliki energi spiritual tertentu. Senin Kliwon dianggap sebagai waktu yang kuat untuk memulai sesuatu yang besar—termasuk pendirian sebuah komunitas baru.
Dari sinilah muncul keyakinan bahwa hari tersebut layak dimaknai sebagai titik lahirnya Sirnoboyo.
Rajah Qithmir dan Doa yang Mengiringi Sejarah
Di sisi lain, naskah-naskah Pegon yang ditemukan dalam tradisi lokal menyimpan bentuk tulisan yang menyerupai rajah, dikenal sebagai Rajah Qithmir. Di dalamnya termuat nama-nama yang diasosiasikan dengan kisah Ashabul Kahfi, kelompok pemuda yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai simbol perlindungan dan keteguhan iman.
Bagi masyarakat setempat, rajah ini bukan sekadar tulisan, melainkan doa yang menyertai perjalanan pendirian desa—sebuah harapan agar kehidupan baru yang dibangun senantiasa berada dalam lindungan Tuhan.
Ziarah, Leluhur, dan Ingatan yang Tak Putus
Hingga kini, tradisi ziarah ke petilasan tokoh-tokoh spiritual seperti Sunan Ngadiluwih masih menjadi bagian dari praktik budaya masyarakat. Ziarah ini bukan hanya ritual, tetapi cara masyarakat merawat hubungan dengan masa lalu.
Di titik inilah Sirnoboyo menunjukkan dirinya bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga ruang ingatan—tempat sejarah tidak pernah benar-benar selesai, melainkan terus dihidupkan kembali melalui tradisi.
Warisan yang Hidup di Tengah Masyarakat
Jika ditarik lebih jauh, Sirnoboyo 1745 adalah kisah tentang bagaimana sebuah komunitas membangun dirinya bukan hanya dengan tenaga dan struktur sosial, tetapi juga dengan nilai-nilai spiritual yang mengikat mereka sebagai satu kesatuan.
Hijrah, doa, masjid, rajah, dan ziarah menjadi satu rangkaian narasi yang membentuk identitas kolektif masyarakat. Ia menjadi pengingat bahwa sebuah desa tidak hanya lahir dari tanah, tetapi juga dari keyakinan yang mengakar di dalam hati manusia.
Sejarah yang Terus Bernapas
Hari ini, Sirnoboyo berdiri sebagai desa modern. Namun di balik perubahan zaman, jejak 1745 masih terasa sebagai denyut halus yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Penetapan Senin Kliwon, 24 Agustus 1745 Masehi sebagai Hari Jadi Desa Sirnoboyo bukan sekadar penanda administratif, tetapi upaya membaca ulang sejarah sebagai ruang spiritual, kultural, dan identitas bersama.
Sebab bagi masyarakatnya, sejarah bukan sesuatu yang selesai ditulis—tetapi sesuatu yang terus hidup, bernapas, dan diwariskan.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd., Dr. Asep Y. W., S.S., M.A.
