Tetaken Gunung Limo: Ritual Pertapaan dan Sedekah Bumi Warisan Budaya Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Upacara adat Tetaken merupakan tradisi ritual sedekah bumi yang hidup dan lestari di lereng Gunung Limo, tepatnya di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan. Tradisi ini dilaksanakan setiap tanggal 15 Muharam dan diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Tetaken tidak sekadar ritual seremonial, tetapi juga sarana untuk mengenang sejarah berdirinya Desa Mantren sekaligus menghormati jasa leluhur, khususnya Kyai Tunggul Wulung yang diyakini sebagai tokoh pembabat alas sekaligus penyebar Islam di wilayah tersebut. Nama “Tetaken” sendiri berasal dari kata tetekian (bahasa Sanskerta) yang berarti pertapaan, mencerminkan inti dari praktik spiritual yang dijalani dalam tradisi ini.
Rangkaian upacara dimulai jauh sebelum hari pelaksanaan. Sekitar 40 hari sebelumnya, calon peserta menjalani tahapan sebo, kemudian diangkat menjadi cantrik oleh sesepuh adat. Mereka melaksanakan semedi di kawasan Gunung Limo sebagai bentuk laku spiritual untuk membersihkan diri dan mempersiapkan batin.
Pada hari pelaksanaan, prosesi diawali dengan bunyi thontongan sebagai tanda dimulainya ritual. Para pertapa kemudian diarak menuju lokasi upacara oleh masyarakat yang mengenakan busana adat Jawa. Warga membawa berbagai hasil bumi, tumpeng, ingkung, serta bumbung berisi legen (nira aren) sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Prosesi inti meliputi berbagai tahapan simbolik seperti mandhap, siraman, padhadaran, kirab, srah-srahan, hingga doa bersama. Salah satu momen penting adalah ketika para peserta meminum legen sebagai simbol penyucian diri, dilanjutkan dengan ujian mental dan fisik berupa demonstrasi bela diri, bahkan dalam beberapa kasus disertai cambukan sebagai bentuk pengendalian diri.
Seluruh rangkaian ritual ditutup dengan pertunjukan tari tradisional Langen Bekso yang dibawakan secara berpasangan dengan iringan gending Jawa, serta makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan persatuan warga.
Sejak tahun 2015, Tetaken menjadi bagian dari agenda wisata budaya daerah melalui Festival Gunung Limo. Berbagai kegiatan pendukung seperti pendakian, kajian kasepuhan, wejangan pinisepuh, hingga ruwatan nagari turut memperkaya makna tradisi ini sekaligus menarik minat generasi muda untuk ikut melestarikannya.
Secara keseluruhan, Upacara Adat Tetaken mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang kuat, seperti rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan sosial, serta pengendalian diri melalui laku spiritual. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai media pendidikan karakter dan penguat identitas budaya lokal.
Sebagai bentuk pengakuan atas nilai penting tersebut, Tetaken telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2020. Oleh karena itu, upaya pelestarian melalui inventarisasi, dokumentasi, dan kajian berkelanjutan menjadi sangat penting agar tradisi ini tetap hidup dan bermakna bagi generasi mendatang.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd., Amat Taufan, S.Sos
