Banyusongo dan Petilasan Mbah Mantri: Ritus, Tradisi Lisan, dan Jejak Sakral di Tegalombo Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-CB PACITAN – Di tengah perbukitan dan lembah hijau Dusun Sawahan, Desa Tahunan Baru, Kecamatan Tegalombo, Pacitan, terdapat sebuah ruang yang tidak hanya dipahami sebagai pemakaman, tetapi juga sebagai pusat ingatan kolektif masyarakat: Petilasan Makam Mbah Mantri di Banyusongo. Tempat ini hidup bukan semata karena keberadaan nisan atau pagar bambu, melainkan karena lapisan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan yang terus dijaga hingga kini.
Dalam cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun, Mbah Mantri dikenal sebagai salah satu tokoh sakti pada masa kolonial Belanda, bersama dua figur lain yang juga melegenda, yakni Mbah Taun dan Mbah Nitipati. Ketiganya dipercaya sebagai sesepuh yang memiliki peran penting dalam sejarah lokal masyarakat Tahunan Baru. Meski makam mereka terpisah, ketiganya berada dalam satu ruang desa yang sama, membentuk jaringan situs-situs sakral yang saling terhubung dalam memori budaya masyarakat.
Makam Mbah Taun berada di tengah persawahan, Mbah Nitipati di tengah ladang, sementara Mbah Mantri bersemayam di area pemakaman umum Banyusongo. Nama Banyusongo sendiri diyakini berasal dari dua kata: banyu yang dimaknai sebagai air, dan songo yang berarti sembilan.
Di sekitar lokasi makam terdapat sumber air yang konon berjumlah sembilan titik dan tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang. Dari sinilah nama Banyusongo kemudian dilekatkan sebagai identitas tempat tersebut.

Secara visual, kompleks makam Mbah Mantri tampak sederhana namun sarat makna simbolik. Sebuah cungkup kecil berbahan bambu, beratap ilalang dan ijuk, menaungi area makam yang berada di tengah pemakaman umum. Di dalamnya terdapat gundukan tanah yang diyakini terbentuk dari akumulasi bunga-bunga ziarah selama puluhan bahkan ratusan tahun. Lapisan bunga yang terus bertambah itu menjadi penanda bahwa ruang ini tidak pernah benar-benar sepi dari kunjungan manusia.
Setiap Jumat Pahing, kawasan ini berubah menjadi ruang ritus yang hidup. Masyarakat dari berbagai daerah datang untuk melaksanakan nyadran, membawa ubarampe berupa nasi, panggang, lauk-pauk, bunga ziarah, hingga uang mahar atau “kancing” yang diserahkan kepada juru kunci (kuncen). Dalam prosesi tersebut, kuncen kemudian memimpin ritual sederhana: membakar dupa atau kemenyan, menaburkan bunga di atas makam, serta menyampaikan doa dan maksud para peziarah.
Ritus ini tidak hanya berlangsung sebagai praktik individual, tetapi juga sebagai peristiwa sosial-budaya yang mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat. Para peziarah tidak hanya datang dari Pacitan, tetapi juga dari luar kabupaten, luar provinsi, bahkan luar Pulau Jawa. Mereka membawa harapan yang beragam: penglarisan usaha, penguatan niat, hingga pelaksanaan nazar yang diyakini memiliki keterkaitan dengan ruang sakral tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi lisan dan ritus bekerja secara bersamaan dalam membentuk makna tempat. Cerita tentang Mbah Mantri tidak hanya hidup sebagai kisah masa lalu, tetapi juga terus dihidupkan melalui praktik ziarah, simbol-simbol ritual, serta keyakinan kolektif masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
Namun di sisi lain, praktik ini juga berada dalam ruang dialektika sosial-keagamaan. Sebagian pandangan menilai bahwa ritus yang berlangsung di Banyusongo bertentangan dengan pemahaman Islam normatif. Meski demikian, dalam realitas sosial masyarakat, tradisi ini tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam perspektif Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), Petilasan Mbah Mantri dapat dipahami sebagai warisan budaya tak benda yang hidup (living tradition). Ia tidak hanya berupa situs fisik, tetapi juga mencakup pengetahuan lokal, sistem kepercayaan, ritus, serta tradisi tutur yang menyertainya. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana sejarah lokal tidak selalu ditulis dalam arsip formal, melainkan direkam dalam ingatan kolektif dan praktik budaya yang terus berlangsung.
Lebih jauh, Banyusongo menjadi cermin bagaimana masyarakat desa membangun relasi dengan ruang sakral yang mereka yakini. Air yang tidak pernah kering, gundukan tanah dari bunga ziarah, hingga ritual Jumat Pahing membentuk satu kesatuan narasi budaya yang kompleks—antara keyakinan, sejarah, dan identitas lokal.
Pada akhirnya, Petilasan Mbah Mantri bukan sekadar ruang ziarah, tetapi juga ruang interpretasi budaya. Ia mengajarkan bahwa di balik setiap cerita rakyat, terdapat lapisan makna yang terus bergerak: antara yang diyakini, yang diwariskan, dan yang terus diperdebatkan dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Penulis: Suyadi, M.Pd., Dr. Agoes Hendriyanto

