Inventarisasi Ritus Banyulali sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan dalam Upaya Pelestarian Budaya Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Ritus Banyulali di Dusun Pinggir, Desa Tahunan Baru, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan merupakan salah satu praktik budaya lokal yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan.
Secara etimologis, “banyulali” berasal dari bahasa Jawa, yakni banyu (air) dan lali (lupa), yang dimaknai sebagai air yang diyakini mampu membantu seseorang melupakan kesedihan mendalam akibat peristiwa traumatis, seperti kehilangan anggota keluarga secara mendadak. Dalam konteks psikologis masyarakat Jawa, kondisi ini sering disebut kelarung, yaitu larut dalam duka berkepanjangan.
Kepercayaan terhadap Banyulali telah mengakar kuat selama ratusan tahun dalam kehidupan masyarakat setempat. Praktik ini tidak hanya menjadi bentuk pengobatan tradisional berbasis spiritual, tetapi juga mencerminkan sistem pengetahuan lokal dalam menghadapi persoalan emosional dan mental.
Air Banyulali yang bersumber dari belik (mata air alami) diambil oleh juru kunci untuk kemudian diminumkan kepada orang yang membutuhkan, biasanya melalui tata cara atau ritual tertentu.
Meskipun belum terdokumentasi secara tertulis dalam kajian akademik formal, eksistensinya tetap terjaga melalui narasi lisan yang diwariskan antargenerasi.
Dari perspektif mobilitas budaya, Banyulali juga menunjukkan daya tarik lintas wilayah. Pengunjung tidak hanya berasal dari Pacitan, tetapi juga dari daerah lain seperti Ponorogo, Wonogiri, hingga Surakarta. Bahkan, terdapat catatan kunjungan dari luar Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa ritus Banyulali memiliki potensi sebagai warisan budaya tak benda yang bernilai penting, baik secara lokal maupun regional.
Keterkaitan dengan Inventarisasi Kajian dan Objek Pemajuan Kebudayaan
Dalam kerangka inventarisasi kajian dan objek pemajuan kebudayaan, Ritus Banyulali dapat dikategorikan sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), khususnya dalam beberapa unsur berikut:
- Tradisi Lisan
Ritus Banyulali diwariskan secara turun-temurun tanpa dokumentasi tertulis, menjadikannya bagian penting dari tradisi lisan masyarakat Pacitan. - Pengetahuan Tradisional
Kepercayaan akan khasiat air Banyulali mencerminkan sistem pengetahuan lokal terkait penyembuhan emosional dan spiritual. - Adat Istiadat
Praktik pengambilan dan pemberian air oleh juru kunci mengandung tata cara ritual yang menjadi bagian dari adat setempat. - Ritual dan Upacara Tradisional
Banyulali dapat dipandang sebagai ritus penyembuhan yang memiliki dimensi simbolik dan spiritual dalam kehidupan masyarakat.
Urgensi Pengembangan dan Pewarisan
Inventarisasi terhadap Ritus Banyulali menjadi langkah strategis dalam upaya pelestarian budaya lokal Pacitan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Pendokumentasian ilmiah melalui penelitian akademik untuk merekam sejarah, praktik, dan makna simboliknya.
- Digitalisasi dan publikasi sebagai bagian dari literasi budaya lokal agar dapat diakses generasi muda.
- Integrasi dalam edukasi budaya di sekolah maupun komunitas.
- Pengembangan sebagai wisata budaya berbasis kearifan lokal, dengan tetap menjaga nilai sakralitasnya.
Dengan demikian, Ritus Banyulali tidak hanya dipahami sebagai praktik kepercayaan, tetapi juga sebagai identitas budaya yang memiliki nilai penting dalam penguatan jati diri masyarakat Pacitan. Upaya inventarisasi dan kajian yang sistematis akan memastikan bahwa warisan ini tidak hilang, melainkan terus hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Penulis: Suyadi,M.Pd., Dr. Agoes Hendriyanto
