Menanam Nilai, Menuai Perubahan: Transformasi SMP Negeri 3 Kalipuro, Banyuwangi
Oleh: Dwi Hindarti Lasmisari, S.Pd. (*)
(*) Kepala SMP Negeri 3 Kalipuro, Banyuwangi
SMP Negeri 3 Kalipuro merupakan sekolah yang berkomitmen membentuk murid CERIA, yaitu Cerdas, Berintegritas, Berkarakter, Berbudaya Lingkungan, Adaptif, dan Berkontribusi di Era Global. Visi tersebut menjadi dasar dalam membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kesiapan menghadapi masa depan.
Sekolah ini berada di Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Letaknya yang berada di lereng Gunung Merapi Ungup-Ungup menghadirkan suasana belajar yang sejuk, asri, dan mendukung tumbuhnya pembelajaran yang dekat dengan alam serta kearifan lokal. Berdiri di atas lahan seluas 5.395 meter persegi, sekolah berupaya mengoptimalkan lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses pendidikan murid.
Berdasarkan data Dapodik, seluruh murid di sekolah ini beragama Islam. Sebagian besar berasal dari keluarga buruh kebun dengan tingkat pendidikan orang tua yang relatif rendah, mayoritas lulusan sekolah dasar. Kondisi ekonomi dan sosial tersebut berdampak pada rendahnya perhatian terhadap pendidikan formal tingkat SMP. Selain itu, banyak orang tua bekerja jauh dari rumah, bahkan sekitar separuh murid berasal dari keluarga yang tidak utuh, sehingga pendampingan belajar anak menjadi kurang optimal.

Situasi tersebut berpengaruh pada rendahnya motivasi murid untuk datang ke sekolah. Pada awal tahun pelajaran 2023/2024, tingkat kehadiran murid hanya berkisar 40–50 persen dari total 120 murid. Kondisi ini turut berdampak pada rendahnya capaian literasi, numerasi, dan karakter dalam rapor pendidikan sekolah.
Pada masa itu, sekolah juga belum menjadi pilihan utama masyarakat. Banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak ke pondok pesantren dengan alasan ingin memperoleh pendidikan agama sekaligus tanpa kerepotan pengawasan di rumah. Selain itu, faktor geografis turut menjadi tantangan. Sekitar 70 persen murid menempuh jarak cukup jauh menuju sekolah, bahkan sekitar 10 persen membutuhkan waktu perjalanan hingga satu setengah jam.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, sekolah mulai melakukan perubahan melalui berbagai program pembiasaan. Program-program tersebut antara lain Sambut Pagi, Remang (Remaja Mengaji), Lentera Hati, dan Bu Karmila Mempesona yang berfokus pada pembentukan karakter mandiri dan bernalar kritis melalui pengolahan sampah organik. Sekolah meyakini bahwa penguatan karakter akan berdampak pada peningkatan kemampuan literasi dan numerasi murid.
Upaya membangun karakter tentu tidak dapat dilakukan secara instan. Tantangan yang dihadapi meliputi rendahnya motivasi belajar murid, minimnya dukungan orang tua, serta keterbatasan jumlah dan kompetensi guru. Namun demikian, seluruh warga sekolah memiliki komitmen bersama untuk terus bergerak memperbaiki kualitas layanan pendidikan.

Penguatan karakter murid berjalan beriringan dengan pengembangan komunitas belajar guru yang rutin dilaksanakan setiap Selasa dan Rabu. Melalui strategi INSPIRASI—Identifikasi, Rencanakan, Implementasi, Pendampingan, Observasi, Refleksi, dan Pengelolaan Kinerja—guru tidak hanya belajar memperbaiki metode pembelajaran, tetapi juga meningkatkan kualitas diri dalam melayani murid, termasuk kemampuan mengaji.
Sekolah memiliki modal kuat untuk bergerak. Tiga guru merupakan lulusan pondok pesantren dan satu guru memiliki sertifikat metode mengaji. Selain itu, seluruh guru dan tenaga kependidikan menunjukkan dedikasi tinggi untuk terus belajar dan melayani murid dengan sepenuh hati.
Salah satu program unggulan adalah kegiatan Sambut Pagi. Setiap pagi, guru piket menyambut murid di gerbang sekolah melalui program “Papa Suka Dawet” atau Pagi Password Masuk Sekolah One Day One Word. Setelah itu, seluruh warga sekolah melaksanakan salat dhuha, membaca Asmaul Husna, istighotsah singkat, dan kegiatan Lentera Hati di mushola sekolah.
Pada hari Jumat, kegiatan Jumat Taqwa diisi dengan pembacaan Yasin dan tahlil agar murid mampu memimpin kegiatan keagamaan di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.

Program berikutnya adalah Remang atau Remaja Mengaji. Program kokurikuler ini telah berjalan sejak tahun 2023 dan terus mengalami pengembangan. Awalnya dilaksanakan setiap Jumat pagi, namun setelah melalui evaluasi dan refleksi, pada tahun 2026 kegiatan dilaksanakan empat kali dalam seminggu dengan pendekatan pembelajaran yang lebih efektif.
Pelaksanaan Remang diawali dengan asesmen kemampuan murid. Berdasarkan hasil pemetaan, murid dibagi ke dalam beberapa kelas sesuai tingkat kemampuan, mulai dari kelas tartil, tahsin, pembelajaran membaca Al-Qur’an, hingga pengenalan huruf hijaiyah. Pendampingan dilakukan oleh guru yang telah tervalidasi kompetensinya.
Metode yang digunakan adalah metode Kitab Annahdiyah dengan teknik ketukan yang dikenalkan oleh Ustadz Lukman Syahid, S.Pd., guru Bahasa Inggris yang juga aktif mengajar di pondok pesantren. Metode ini dipilih sebagai solusi atas masih adanya murid yang belum mampu membedakan huruf hijaiyah maupun membaca panjang pendek sesuai tajwid.
Asesmen dilakukan secara berkala menggunakan jurnal digital yang dipantau langsung oleh tim sekolah dan kepala sekolah. Melalui sistem ini, murid didorong untuk terus berkembang sesuai kemampuan masing-masing sekaligus membangun semangat berkompetisi secara positif.
Selain Remang, sekolah juga menjalankan program Lentera Hati yang dilaksanakan setelah salat Zuhur berjamaah selama 30 menit. Kegiatan ini berupa kajian karakter yang membahas adab terhadap guru, orang tua, teman, maupun lingkungan sekitar. Materi disampaikan oleh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, bahkan murid dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sebagai puncak pembiasaan, sekolah melaksanakan asesmen Syarat Kecakapan Siswa (SKS) setiap bulan Ramadan hingga akhir semester genap. SKS terdiri atas tiga tingkatan, yaitu Purwa, Madya, dan Utama, yang wajib diselesaikan murid sesuai jenjangnya. Hasilnya menjadi salah satu syarat kenaikan kelas dan kelulusan serta dilaporkan secara tertulis kepada orang tua.
Konsistensi dalam pembiasaan tersebut membawa perubahan signifikan. Sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Guru yang hangat, pembelajaran yang variatif, serta target belajar yang jelas membuat murid merasa betah dan termotivasi hadir di sekolah.
Dalam kurun waktu dua tahun, tingkat kehadiran murid meningkat drastis dari sekitar 40–50 persen menjadi 90–95 persen dari total 162 murid. Kehadiran tersebut dipantau melalui sistem presensi digital. Berdasarkan survei internal, murid mengaku lebih nyaman belajar di sekolah, merasa bahagia, dan tertantang untuk terus berkembang.
Kepercayaan masyarakat pun meningkat. Jumlah pendaftar murid baru tahun pelajaran 2025/2026 mencapai 70 siswa sehingga jumlah murid meningkat dari 120 menjadi 169 murid.
Berbagai prestasi juga mulai bermunculan. Murid berhasil meraih penghargaan dalam lomba menulis surat untuk bupati tingkat kabupaten, menjadi juara interpreter Ijen Geopark, meraih prestasi dalam FLS3N cabang menulis cerita, hingga berkembang dalam bidang qira’ah dan hadrah. Sekolah juga berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata Kabupaten tahun 2025 serta menerbitkan buku antologi guru dan murid berjudul Mentari di Lereng Merapi.
Atas dedikasi dan transformasi yang dilakukan, kepala sekolah memperoleh penghargaan Kepala Sekolah Dedikatif I Jawa Timur tahun 2024 dan mendapat kesempatan mewakili Jawa Timur pada ajang nasional Jambore GTK di Jakarta.
Bagi sekolah besar, program-program tersebut mungkin tampak sederhana. Namun bagi sekolah yang sedang bertumbuh seperti SMP Negeri 3 Kalipuro, setiap langkah merupakan perjuangan yang membutuhkan dedikasi, kolaborasi, dan konsistensi luar biasa.
Di tengah keterbatasan, sekolah terus berupaya menghadirkan harapan. Dalam setiap tantangan, sekolah memilih untuk berinovasi dan melayani dengan sepenuh hati. Perjalanan ini menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang hasil instan, melainkan proses panjang dalam menanamkan nilai, karakter, dan adab demi masa depan murid yang lebih baik. Semangat bahwa “hal kecil dapat membawa dampak besar” diharapkan terus hidup dan menginspirasi banyak sekolah lainnya.
