Brojo Geni: Bara Dakwah, Spiritualitas, dan Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Oleh: Dr. Agoes Hendriyanto, S.P.,M.Pd. (*)
Ketika malam 1 Muharam tiba, suasana di lingkungan Pondok Tremas, Kecamatan Arjosari, Pacitan, berubah menjadi berbeda. Di tengah lantunan doa awal tahun dan suasana religius pesantren, sekelompok santri memasuki lapangan dengan langkah mantap. Mereka tidak mengenakan seragam olahraga modern.
Sebagian hanya mengenakan pakaian sederhana khas santri, bahkan ada yang bersarung. Di tengah lapangan, sebuah bola yang terbuat dari sabut kelapa telah disulut api hingga menyala terang. Saat peluit dibunyikan, bola api itu mulai ditendang, diperebutkan, dan dimainkan. Inilah Brojo Geni, olahraga tradisional khas Pondok Tremas yang telah hidup selama hampir dua abad dan menjadi salah satu warisan budaya yang unik di Indonesia.
Brojo Geni bukan sekadar permainan yang mengandalkan keberanian. Tradisi ini lahir dari perpaduan dakwah Islam, pendidikan karakter, spiritualitas, dan olahraga rakyat. Catatan sejarah menyebutkan bahwa olahraga ini mulai dikembangkan sekitar tahun 1830 oleh Kiai Haji Abdul Manan, pendiri Pondok Tremas.
Pada masa itu, Brojo Geni digunakan sebagai media dakwah untuk mengenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Strategi tersebut memiliki kemiripan dengan pendekatan para Wali Songo yang memanfaatkan seni dan budaya sebagai sarana menyampaikan ajaran agama tanpa menghilangkan kearifan lokal yang telah hidup di tengah masyarakat.
Secara etimologis, kata brojo berarti halilintar atau petir, sedangkan geni berarti api. Nama tersebut menggambarkan karakter permainan yang menggunakan bola api sebagai media utama. Bola dibuat dari sabut kelapa yang direndam minyak tanah lalu dibakar hingga menyala.
Bentuk permainannya menyerupai sepak bola atau futsal, dimainkan oleh dua tim yang berusaha memasukkan bola ke gawang lawan. Namun, di balik kesamaan itu terdapat perbedaan mendasar. Para pemain Brojo Geni bertelanjang kaki, tidak menggunakan perlengkapan pelindung modern, dan harus memenuhi persyaratan spiritual tertentu sebelum diperbolehkan mengikuti permainan.
Di sinilah letak keunikan sekaligus nilai luhur Brojo Geni. Tidak semua santri dapat menjadi pemain. Mereka harus menjalani serangkaian riyadhoh atau latihan spiritual yang meliputi puasa, dzikir, tirakat, hingga ritual ngebleng yang dilakukan di bawah bimbingan guru.
Proses ini bertujuan membentuk ketahanan fisik, mental, sekaligus spiritual. Api yang menyala pada bola tidak hanya dimaknai sebagai unsur permainan, tetapi juga simbol hawa nafsu yang harus dikendalikan. Seorang pemain tidak cukup hanya kuat secara fisik, tetapi juga harus mampu mengendalikan diri dan menjaga kebersihan hati.
Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Brojo Geni menjadikan tradisi ini lebih dari sekadar olahraga. Di dalamnya terdapat pendidikan tentang disiplin, keberanian, kesabaran, tanggung jawab, pengendalian diri, dan persaudaraan. Setelah pertandingan usai, para pemain diwajibkan saling berjabat tangan dan saling memaafkan.
Tidak boleh ada dendam ataupun permusuhan yang tersisa. Api yang sebelumnya menjadi simbol semangat bertanding harus berubah menjadi cahaya persaudaraan. Pesan moral inilah yang menjadikan Brojo Geni sebagai sarana pembentukan karakter yang sangat relevan hingga saat ini.
Dalam perspektif Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Brojo Geni dapat dikategorikan sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) pada unsur olahraga tradisional. Tradisi ini memenuhi unsur sebagai aktivitas fisik dan mental yang diwariskan secara turun-temurun, dilakukan secara kolektif oleh masyarakat, serta mengandung nilai budaya yang kuat. Keberadaannya sejajar dengan berbagai olahraga tradisional Indonesia lainnya seperti Pasola di Sumba, Debus di Banten, dan Lompat Batu di Nias.
Lebih jauh, Brojo Geni juga layak dipandang sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia karena mengandung pengetahuan tradisional, ritus keagamaan, praktik sosial, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
Keberadaannya tidak hanya mencerminkan identitas Pondok Tremas, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Pacitan mengembangkan tradisi yang menggabungkan unsur keislaman, pendidikan, dan budaya lokal dalam satu kesatuan yang harmonis.
Di tengah arus modernisasi dan dominasi olahraga modern, Brojo Geni menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih mampu bertahan dan memberikan makna bagi masyarakat.
Setiap malam 1 Muharam, bara api yang menyala di lapangan Pondok Tremas sesungguhnya bukan hanya nyala sabut kelapa yang terbakar. Ia adalah simbol semangat menjaga warisan leluhur, menghidupkan nilai-nilai luhur, dan meneruskan identitas budaya kepada generasi berikutnya.
Brojo Geni mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan menaklukkan lawan, melainkan kemampuan menaklukkan diri sendiri. Dari Pondok Tremas, api tradisi itu terus menyala, menerangi perjalanan budaya Pacitan dari masa lalu menuju masa depan.
(*) Akademisi, Pemerhati Budaya, Peneliti
