Komunitas Pengkaji Naskah Kuna Ajak Generasi Muda Menyelami Warisan Intelektual Nusantara
PRABANGKARANEWS.COM, SURAKARTA – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan teknologi informasi, upaya pelestarian warisan intelektual Nusantara terus dilakukan dengan berbagai cara kreatif. Salah satunya melalui program Obrolan Komunitas yang diselenggarakan RRI Pro 1 Surakarta bersama Komunitas Pengkaji Naskah Kuna pada Kamis (18/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama satu jam tersebut menghadirkan dosen Filologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Asep Yudha Wirajaya, bersama empat mahasiswa Filologi UNS, yakni Putri Aulia Nur Fauziah, Tiara Putri Maharani, Lutfia Hardiantari, dan Rezty Putri Ariana Gunarso. Diskusi dipandu oleh penyiar RRI, Dedi, dengan tema utama mengenalkan naskah kuno kepada generasi muda.
Dalam pemaparannya, Asep Yudha Wirajaya menjelaskan bahwa naskah kuno merupakan naskah tulisan tangan berusia lebih dari 50 tahun yang ditulis menggunakan aksara daerah maupun aksara Arab. Naskah-naskah tersebut menyimpan beragam informasi penting, mulai dari sejarah, kebudayaan, pendidikan, hingga ilmu pengetahuan yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Menurut Asep, tantangan terbesar pelestarian naskah kuno saat ini adalah anggapan bahwa naskah hanya menarik bagi kalangan tua atau akademisi tertentu. Padahal, di balik lembaran-lembaran tua tersebut tersimpan pengetahuan yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi masa kini. Karena itu, diperlukan inovasi untuk mendekatkan naskah kuno kepada generasi Z, salah satunya melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
“Isi naskah dapat dialihwahanakan menjadi video, animasi, podcast, maupun berbagai media kreatif lainnya sehingga lebih mudah dipahami dan diminati generasi muda,” jelasnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh para mahasiswa yang aktif mengkaji naskah kuno. Putri Aulia Nur Fauziah menuturkan bahwa digitalisasi membuka peluang besar dalam pelestarian manuskrip. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait bahasa, bentuk aksara lama, dan kondisi fisik naskah yang terkadang sudah rapuh. Menurutnya, ketekunan dan kebiasaan membaca menjadi kunci untuk memahami kandungan naskah.
Sementara itu, Tiara Putri Maharani menekankan pentingnya penyajian isi naskah melalui media visual seperti animasi dan film pendek agar lebih menarik bagi masyarakat luas. Di sisi lain, Lutfia Hardiantari mengaku tertarik pada naskah sejarah yang mampu membuka perspektif baru terhadap berbagai peristiwa masa lalu. Ketertarikannya tumbuh setelah membaca sejumlah penelitian filologi yang mengungkap fakta-fakta sejarah dari sumber manuskrip.
Pengalaman menarik juga dibagikan oleh Rezty Putri Ariana Gunarso yang terlibat dalam kegiatan digitalisasi naskah di Sragen serta sosialisasi naskah di Boyolali. Menurutnya, masih banyak naskah yang tersimpan di tengah masyarakat sebagai benda pusaka, padahal sesungguhnya naskah tersebut adalah pustaka yang menyimpan pengetahuan berharga dan layak dikaji lebih lanjut.
Dalam praktik penelitian, para pengkaji naskah menggunakan berbagai perlengkapan khusus seperti sarung tangan, masker, kaca pembesar, hingga meteran kain untuk menjaga kondisi fisik manuskrip. Hasil kajian tidak hanya berupa transliterasi dan penelitian ilmiah, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi video, audio, film, dan berbagai bentuk karya kreatif lainnya.
Menutup diskusi, para narasumber mengajak generasi muda untuk tidak melupakan akar sejarah bangsanya. Mereka menegaskan bahwa masa depan memang penting untuk dibangun, namun pemahaman terhadap masa lalu juga menjadi fondasi penting dalam membentuk identitas bangsa.
“Jadikan naskah kuno sebagai pustaka, bukan sekadar pusaka,” tegas Asep Yudha Wirajaya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa manuskrip kuno bukan hanya warisan budaya yang perlu disimpan, tetapi juga sumber ilmu pengetahuan yang harus terus dibaca, diteliti, dan dimanfaatkan untuk generasi mendatang.
Penulis: Wisnu Agung Wicaksono
