Pacitan Kota Misteri: Menelusuri Jejak Kyai Carubuk dalam Sejarah Islamisasi (Dana Indonesiana 2025)
Penulis: Amat Taufan
Bismillah. Salam Literasi Sejarah. Pacitan Kota Misteri. Di tengah khazanah sejarah dan budaya Pacitan, tersimpan sebuah pusaka yang oleh pemiliknya diyakini memiliki keterkaitan dengan tradisi para wali dalam penyebaran Islam di tanah Jawa. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik pusaka, benda bersejarah tersebut diwariskan secara turun-temurun dan diyakini berasal dari jalur spiritual serta perjuangan dakwah Sunan Geseng (Ki Ageng Petung).
Secara bentuk, pusaka tersebut memiliki kemiripan dengan Kyai Carubuk, pusaka yang dalam tradisi masyarakat Jawa sering dikaitkan dengan Sunan Kalijaga. Menurut berbagai cerita tutur yang berkembang di masyarakat, pusaka jenis ini diperkirakan muncul pada masa peralihan antara akhir Kerajaan Majapahit menuju era Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.
Pusaka tersebut berupa keris berluk tujuh dengan panjang sekitar 25–30 sentimeter. Bilahnya terbuat dari bahan dasar pasir besi berwarna hitam legam dengan ornamen yang indah. Pada bagian bilah tampak bentuk menyerupai gerigi atau serabut yang menjadi ciri khas tertentu. Dalam tradisi masyarakat, pusaka ini dikenal dengan sebutan Kyai Carubuk.
Secara simbolik, istilah carubuk /crubuk dimaknai sebagai kondisi yang rumit, ruwet, atau menghadapi banyak musuh dan tantangan besar. Oleh karena itu, pusaka tersebut dipercaya menjadi lambang harapan agar pemiliknya memperoleh kekuatan, keteguhan hati, dan kemenangan ketika menghadapi persoalan yang berat.
Sementara itu, luk tujuh pada bilah keris dimaknai sebagai simbol “pitulungan” atau pertolongan dari Allah SWT. Filosofi tersebut mencerminkan keyakinan bahwa segala perjuangan dan ikhtiar manusia pada akhirnya bergantung kepada ridha dan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam tradisi lisan yang berkembang di wilayah Pacitan, pusaka ini diyakini pernah digunakan dalam perjuangan dakwah Islam oleh para wali dan tokoh-tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan pusaka tersebut adalah Sunan Geseng (Ki Ageng Petung). Konon, pusaka itu menjadi salah satu sarana perjuangan spiritual ketika menghadapi berbagai tantangan dalam proses penyebaran Islam di kawasan yang kini dikenal sebagai wilayah Donorojo dan Kalak, Pacitan.
Menurut berbagai sumber tradisi, Keris Kyai Carubuk diyakini merupakan salah satu mahakarya Empu Supa Mandrangi, empu legendaris yang dikenal menghasilkan sejumlah pusaka besar Nusantara. Keris ini memiliki bentuk bilah berluk tujuh dengan ukuran relatif pendek, sekitar 25–30 sentimeter. Pada bilahnya terdapat ornamen menyerupai gerigi yang menjadi ciri khas dhapur Carubuk.
Dalam filosofi keris Jawa, luk tujuh dimaknai sebagai simbol pitulungan atau pertolongan dari Allah SWT, sehingga pusaka ini sering dipandang sebagai perlambang harapan, perlindungan, dan kekuatan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Hingga saat ini, pusaka tersebut masih dirawat dan dijaga oleh pewarisnya sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya dan sejarah lokal. Terlepas dari berbagai kisah mistis yang menyertainya, keberadaan pusaka ini menjadi pengingat akan besarnya pengorbanan para pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam di Pacitan. Nilai utama yang dapat dipetik adalah semangat perjuangan, keikhlasan, keteguhan iman, serta keyakinan kepada pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, berkah, dan keselamatan kepada kita semua, keluarga, para pewaris perjuangan Rasulullah SAW, serta seluruh makhluk yang ada di bumi dan langit.
Wallahu a’lam bish-shawab.
