Dari Kendang Mainan Menuju Panggung Profesional

Dari Kendang Mainan Menuju Panggung Profesional
Perjalanan Ricky Aditya Pradana Menjadi Pengendang Tayub yang Menghidupkan Napas Budaya Pacitan
SHARE

Perjalanan Ricky Aditya Pradana Menjadi Pengendang Tayub yang Menghidupkan Napas Budaya Pacitan

Oleh: Agoes Hendriyanto, Suyadi

Di setiap dentuman kendang yang dimainkan Ricky Aditya Pradana, tersimpan cerita panjang tentang mimpi seorang anak desa yang tumbuh bersama irama gamelan. Bagi Ricky, kendang bukan sekadar alat musik, melainkan sahabat yang telah menemaninya sejak masa kanak-kanak. Berawal dari kegemarannya memukul kendang buatan sendiri hingga selalu meminta dibelikan kendang setiap kali orang tuanya mengajaknya berwisata, tanpa disadari benih kecintaannya terhadap seni tradisi telah tumbuh begitu kuat. Kini, di usia 25 tahun, pemuda asal Dusun Tahunan, Kabupaten Pacitan itu dikenal sebagai salah satu pengendang tayub profesional yang banyak dipercaya mengiringi berbagai pertunjukan seni di Pacitan maupun daerah sekitarnya.

Perjalanan Ricky menuju panggung profesional tidak dibangun dalam waktu singkat. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bakatnya mulai terlihat ketika terpilih mewakili Kabupaten Pacitan dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat Jawa Timur. Memasuki kelas lima SD, langkahnya semakin mantap ketika diajak dalang kondang Ki Nardi Carito Mudo menjadi bintang tamu cilik dalam pertunjukan wayang kulit bersama Kabul Sucipto atau yang lebih dikenal sebagai Gareng Pacitan. Dalam setiap pementasan limbukan, Ricky kecil tak hanya memainkan kendang, tetapi juga menyanyikan bawa, berjoget, bahkan sesekali ikut melawak bersama Gareng Pacitan, Mamik Slank, dan Lusi Brahman. Keberanian tampil di depan publik sejak usia dini menjadi sekolah kehidupan yang membentuk rasa percaya dirinya sebagai seniman.

Baca Juga  Dluwang Pulang dan Ngrembaka: Semangat Gayuh Styono untuk Ponorogo

Kesempatan tampil bersama para maestro seni tradisi semakin membuka cakrawala Ricky. Ia pernah dipercaya mengiringi pementasan bersama Ki Dalang Purbo Asmoro ketika tampil di Pantai Klayar, salah satu destinasi wisata unggulan Pacitan. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bekal berharga yang mengasah kepekaan musikal sekaligus memperkaya jam terbangnya di dunia karawitan.

Menurut Suyadi, S.Pd., M.Pd., yang mengenal perjalanan Ricky sejak masa sekolah, bakat seni tersebut semakin berkembang ketika Ricky menempuh pendidikan di SMP Negeri 3 Tegalombo. Lingkungan sekolah yang aktif mengembangkan kegiatan karawitan memberi ruang bagi Ricky untuk terus belajar dan memperhalus teknik permainan kendangnya. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 8 Surakarta (SMKI) dengan mengambil jurusan Karawitan, sebuah pilihan yang semakin meneguhkan jalan hidupnya sebagai seniman.

Di Surakarta, dunia seni yang lebih luas terbentang di hadapannya. Ricky bergabung dengan Sanggar Sekar Arum Pringkuku dan terlibat dalam berbagai kegiatan seni, termasuk mengiringi Festival Dalang Bocah serta Misi Duta Seni di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Salah satu momen membanggakan adalah ketika ia turut mengiringi Gandang Gondo Waskito, dalang bocah asal Karangnongko, Kebonagung, Pacitan, yang berhasil meraih Juara Nasional Festival Dalang Bocah. Pengalaman tersebut semakin memperkaya wawasan artistik Ricky sekaligus mempertemukannya dengan para pelaku seni terbaik dari berbagai daerah.

Baca Juga  Bersih-bersih Sampah di Obyek Wisata Pantai Randusanga Indah, Brebes

Semangat belajar tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan menengah. Ricky melanjutkan studi ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan dan berhasil menyelesaikan pendidikannya pada akhir tahun 2024. Bekal akademik tersebut semakin memperkuat kemampuannya, bukan hanya sebagai pemain kendang, tetapi juga sebagai pendidik dan penggerak seni tradisi.

Sekembalinya ke Pacitan, Ricky memilih mengabdikan ilmunya dengan mendirikan Sanggar Seni Suryo Sumirat di Tahunan Baru. Sanggar tersebut menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal karawitan dan seni tayub. Puluhan kelompok tayub dan karawitan telah mendapatkan pendampingan darinya. Di sela-sela kesibukannya memenuhi undangan pentas dalam berbagai hajatan dan pernikahan, Ricky juga menjadi pembina ekstrakurikuler karawitan di SMP Negeri 3 Tegalombo dan SMAN Tegalombo. Baginya, menjaga keberlangsungan seni tradisi tidak cukup hanya dengan tampil di panggung, tetapi juga harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga  Bupati Pacitan Hadiri Upacara Hari Bhayangkara Ke-80, Tekankan Sinergi dan Pelayanan Humanis

Kini nama Ricky Aditya Pradana semakin dikenal sebagai pengendang tayub profesional. Tangannya yang lincah memainkan kendang telah mengiringi berbagai pertunjukan di Kecamatan Tegalombo, Tulakan, Ngadirojo, Bandar, Slahung, hingga Kabupaten Trenggalek. Setiap hentakan kendangnya menjadi penanda bahwa seni tradisi masih hidup, berkembang, dan tetap mendapat tempat di tengah masyarakat.

Perjalanan Ricky menjadi bukti bahwa kesuksesan lahir dari kecintaan, ketekunan, dan konsistensi. Ia mengikuti jejak para seniman Pacitan seperti Kabul Sucipto (Gareng Pacitan), Ki Nardi Carito Mudo, dan Gandang Gondo Waskito, yang telah lebih dahulu mengharumkan nama daerah melalui dunia seni pertunjukan. Mereka merupakan aset budaya Pacitan yang menjaga denyut kehidupan kesenian tradisional agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Bagi Ricky, setiap tabuhan kendang bukan sekadar irama pengiring tari atau wayang. Di balik setiap bunyi yang dihasilkannya, tersimpan doa, dedikasi, dan komitmen untuk terus menjaga warisan budaya leluhur. Dari seorang anak yang dahulu bermain kendang dengan penuh kegembiraan, kini ia telah menjelma menjadi seniman profesional yang membuktikan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari kesederhanaan, selama dijaga dengan kerja keras dan kecintaan terhadap budaya sendiri.