[BUKU] Rekonstruksi Sejarah Desa Sirnoboyo Pacitan: Kajian Filologis, Historis, dan Kebudayaan Lokal (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Bertempat di Balai Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan, dilaksanakan penyerahan buku karya Dr. Agoes Hendriyanto, S.P., M.Pd. kepada Sekretaris Desa Sirnoboyo, Khamim Turmudzi, Senin (10/8/2026). Buku berjudul Rekonstruksi Sejarah Desa Sirnoboyo Pacitan: Kajian Filologis, Historis, dan Kebudayaan Lokal tersebut diserahkan sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan sejarah, tradisi, serta warisan budaya yang berkembang di Desa Sirnoboyo.
Penyerahan buku ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi Pemerintah Desa dan masyarakat dalam mengenali serta memahami sejarah desanya. Selain menjadi dokumentasi tertulis, buku tersebut diharapkan dapat memperkuat ingatan kolektif masyarakat mengenai asal-usul Sirnoboyo, tokoh-tokoh terdahulu, peninggalan budaya, tradisi, serta perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan. Kehadiran buku di tengah masyarakat juga menjadi langkah untuk menjaga warisan sejarah lokal agar tetap dikenal dan dipelajari oleh generasi mendatang.
Upaya pelestarian sejarah lokal Kabupaten Pacitan kembali diwujudkan melalui penerbitan buku berjudul Rekonstruksi Sejarah Desa Sirnoboyo Pacitan: Kajian Filologis, Historis, dan Kebudayaan Lokal. Buku ini menjadi salah satu karya ilmiah yang mendokumentasikan sejarah, naskah kuno, serta perkembangan kebudayaan masyarakat Desa Sirnoboyo secara komprehensif.
Buku tersebut ditulis oleh Dr. Agoes Hendriyanto, S.P., M.Pd. dari STKIP PGRI Pacitan bersama Dr. Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A. dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Penyuntingan dilakukan oleh Muhammad Rafid Musyaffa’, S.T., Muhamad Rafid Romadhoni, S.T., dan Indah Nawangsari, S.H., sedangkan penelusuran situs melibatkan Eko Haryono, Khamim Turmudzi, dan M. Choiri.
Diterbitkan oleh CV. Nata Karya dengan penata letak Tim Socio Cultura Indonesia (SCI), buku ini merupakan hasil penelitian sejarah lokal yang menggabungkan pendekatan filologi, sejarah, dan kebudayaan dalam merekonstruksi perjalanan panjang Desa Sirnoboyo.
Menurut penulis, penyusunan buku berangkat dari kegelisahan akademik atas minimnya dokumentasi sejarah desa yang selama ini lebih banyak diwariskan melalui tradisi lisan. Kondisi tersebut mendorong dilakukannya penelitian yang menggabungkan data lapangan, kajian naskah, serta sumber-sumber sejarah lokal agar memori kolektif masyarakat dapat terdokumentasikan secara ilmiah.
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah keberadaan prasasti beraksara Arab Pegon yang terdapat pada dinding Masjid Miftahul Jannah Sirnoboyo, serta naskah Rajah Qithmir yang memiliki nilai historis, religius, dan simbolik bagi masyarakat setempat.
Temuan tersebut kemudian menjadi titik awal untuk menelusuri sejarah Desa Sirnoboyo secara lebih mendalam, termasuk perkembangan kehidupan sosial, tradisi, spiritualitas, dan identitas budaya masyarakat dari masa ke masa.
“Buku ini tidak hanya berbicara mengenai sejarah sebuah desa, tetapi juga merekam memori kolektif masyarakat yang selama ini hidup dalam tradisi lisan. Kami berupaya menghadirkan rekonstruksi sejarah berdasarkan kajian filologis, historis, dan kebudayaan sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” ujar Dr. Agoes Hendriyanto.
Melalui pendekatan interdisipliner, penelitian dalam buku ini menganalisis berbagai sumber, mulai dari naskah kuno, inskripsi Arab Pegon, arsip sejarah, wawancara dengan tokoh masyarakat, hingga penelusuran situs-situs bersejarah di Desa Sirnoboyo.
Selain menyajikan rekonstruksi sejarah desa, buku ini juga mengulas berbagai nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk tradisi keagamaan, struktur sosial masyarakat, hingga perkembangan peradaban lokal yang membentuk identitas Sirnoboyo sebagai salah satu desa bersejarah di Kabupaten Pacitan.
Menurut Dr. Asep Yudha Wirajaya, kajian filologi memiliki peran penting dalam mengungkap informasi yang selama ini tersimpan dalam naskah-naskah lama.
“Naskah kuno bukan sekadar dokumen masa lalu, tetapi merupakan sumber pengetahuan yang dapat menjelaskan perkembangan masyarakat, bahasa, budaya, dan kehidupan sosial pada zamannya. Karena itu, pelestarian serta kajian terhadap naskah lokal menjadi sangat penting,” jelasnya.
Khamim Turmudzi menjelaskan bahwa dengan penerbitan buku ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, pemerhati sejarah, pemerintah desa, maupun masyarakat umum yang ingin memahami sejarah dan kebudayaan lokal Pacitan secara lebih mendalam.
“Lebih jauh, buku ini juga diharapkan mampu memperkuat kesadaran historis masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya lokal di tengah arus modernisasi,” jelas Khamin. Sebab, desa bukan hanya wilayah administratif, tetapi merupakan ruang peradaban yang menyimpan jejak sejarah, nilai-nilai sosial, tradisi, dan spiritualitas yang layak didokumentasikan serta diwariskan kepada generasi mendatang.
Dengan hadirnya Rekonstruksi Sejarah Desa Sirnoboyo Pacitan: Kajian Filologis, Historis, dan Kebudayaan Lokal, diharapkan semakin banyak penelitian sejarah desa yang lahir di Pacitan sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas budaya sekaligus memperkaya khazanah historiografi lokal Indonesia.
Silakan Klik untuk membaca bukunya Rekonstruksi Sejarah Desa Sirnoboyo Pacitan: Kajian Filologis, Historis, dan Kebudayaan Lokal,

