Dandim Bojonegroro Letkol Arm. Arif Yudho Purwanto, Belajar Pakai Penerangan Lampu Teplok
PRABANGKARANEWS.COM || BOJONEGORO – Kesan pertama setelah bertemu dengan Dandim Bojonegoro Letkol Arm Arif Yudho Purwanto sebagai sosok yang bersahaja dan sederhana. Diskusi malam juga ditemani oleh Kasdim Bojonegoro Mayor Inf. Putu Gede Widarta, beserta anggota yang juga menikmati diskusi malam tersebut. Agoes Hendriyanto sebagai Pemred Prabangkaranews.com a dengan Joko Pemred Nusantarapos.co.id moment tersebut sesuatu yang sangat luar biasa mendapatkan kesempatan untuk diskusi santai di Angkringan Fave van Jawa, Bojonegoro, Senin (24/1/2022).
Dandim Senin menghadiri rapat di Surabaya dengan Forkopinda se Jatim. Dandim datang dilokasi diskusi sekitar pukul 20.00 WIB, menyempatkan diri untuk ketemu kami dengan pakaian yang masih seragam. Hal tersebut merupakan suatu pelajaran berharga bagi kami untuk senantiasa untuk selalu bermanfaat bagi sesama.
“Jabatan itu amanah sehingga harus dikerjakan dengan tanggung jawab,” tutur Dandim.
Dandim 0813 Bojonegoro lulusan Akmil tahun 2003, berkisah tempat kelahirannya di Dusun Tlotok, Desa/Kecamatan Bubulan, Kab. Bojonegoro. Saat itu untuk menuju sekolah terutama SMA 2 Bojonegoro harus menempuh perjalanan 22 kilometer dengan berjalan kaki atau menumpang truk kayu Perhutani. Jalan bebatuan dan melintasi hutan.
Diskusi malam yang asyik Dandim 0813 Bojonegoro Letkol Arm. Arif Yudho Purwanto, bercerita saat ditugaskan di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia. Perjuangan yang sangat luar biasa di wilayah perbatasan yang saat itu penduduk lebih mudah untuk ke wilayah Malaysia daripada ke Ibukota Kabupaten saat itu.
Dandim begitu luwes bercerita tentang kenangan kabupaten kelahirannya ini. Terutama kenangan ketika menempuh pendidikan di SMAN 2 Bojonegoro, paling diingat olehnya. Jarak dari rumahnya di Dusun Tlotok cukup jauh dengan SMA di Jalan HOS. Cokroaminoto itu.
Bahkan Arif pernah berjalan dari Kecamatan Bubulan hingga Dander dengan jarak sekitar 10 km akibat tidak ada truk yang bisa ditumpangi menuju sekolah. Perjuangan itu ditempuh karena esok harinya harus bersekolah.
Selain itu, alumni SD Bubulan itu pernah menggendong sepeda temannya ketika melewati hutan. Akibat ban bocor saat melewati jalan berbatu. Perjuangan keras itu dilakukan demi menempuh pendidikan. “Di zaman itu tidak banyak yang melanjutkan pendidikan,” ujar ayah satu putra itu.
Selama bersekolah di SMA, Arif tidak setiap hari pulang ke Desa Bubulan. Dan memilih ngekos di Kelurahan Klangon, tepatnya di sekitar Treteg Penceng. Namun untuk berangkat ke sekolah tetap harus berjalan kaki sekitar 2 km. Karena tidak memiliki sepeda. “Tidak semua orang memiliki sepeda saat itu,” jelas alumni SMPN Bubulan.
Selain perjuangan ketika menempuh pendidikan SMA, Arif mengenang keterbatasan alat komunikasi dulu. Telepon umum menggunakan koin menjadi alat komunikasi sering digunakan menghubungi keluarganya. Meski harus antre lama untuk menggunakan, namun telepon umum menjadi salah satu alat komunikasi yang bisa digunakan saat itu.
“Di depan SMAN 2 Bojonegoro dulu ada telepon umum,” jelas Dandim hobi bermain bulutangkis itu, dengan pendamping dr. Luluk Nur Azizah, sekarang sebagai satu dokter bertugas di RSUD Sumberejo.
“Era digital serta adanya pandemi Covid-19 siswa sudah 2 tahun tidak belajar secara normal maka perlu asanya sinergi untuk menumbuhkan nilai karakter yang berdasarkan nilai kearifan lokal, ” jelas Dandim Bojonegoro Alumnus Akmil 2003.
“Jika mengingat masa lalu dengan penerangan pada malam hari dengan lampu teplok yang tiap paginya harus dibersihkan agar arang hitam yang nempel di kaca lampu bisa jernih kembali, sehingga bisa digunakan untuk malam hari. Terkadang saat bangun pagi ada noda hitam terkena dari asap dari lampu teplok,” jelas Dandim.
” Saat itu untuk penerangan warga saat itu ketika menjelang sore mengisi lampu Teplok dengan minyak dan membersihkannya sekaligus. Selanjutnya memasang lampu teploknya di cantelkan di dinding,” jelas Dandim. (*)
