Debat Publik Pilbup Pacitan 2024: Paparkan Visi Misi untuk Tingkatkan Kesejahteraan dan Pelayanan Publik
PACITAN (PRABANGKARANEWS) – Debat publik Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Pacitan tahun 2024 dengan tema “Meningkatkan pelayanan, kesejahteraan, dan kemajuan Kabupaten Pacitan” dilaksanakan pada Minggu (3/11/24) pukul 20.00 WIB. Ketua KPU Pacitan, Aswika Budi Arfandy, menyampaikan terima kasih kepada Bawaslu, Forkompimda, pimpinan perguruan tinggi, ormas, panelis, moderator, media, dan pendukung yang hadir di Gedung Gasibu Swadaya Pacitan.
Sandra Laksmi dan Ario bertugas sebagai moderator resmi, sesuai SK dari KPU. Debat ini diharapkan menjadi referensi bagi pemilih dalam menentukan pemimpin Pacitan periode 2024-2029. Para undangan wajib mengikuti tata tertib, menggunakan ID card, serta dilarang membawa alat peraga, yel-yel, miras, alat komunikasi, atau musik. Mereka juga diingatkan untuk menjaga ketenangan selama debat berlangsung.


Pada segmen pertama, tiap pasangan calon (paslon) diberikan waktu 4 menit untuk menyampaikan visi misi. Paslon nomor urut 1, Ronny Wahyono dan Wahyu Saptono Hadi, menekankan visi “Pacitan Mandiri dan Religius,” dengan program-program seperti gerakan sholat berjamaah di masjid, membaca Al-Quran, dan menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan. Mereka juga mengusulkan program ketahanan pangan yang selaras dengan kebijakan Presiden Prabowo, seperti peningkatan produksi daging dan beras, serta menjadikan Pacitan sentra peternakan dan pertanian. Sementara itu, paslon nomor urut 2, Indrata Nur Bayuaji dan Gagarin, membawa visi “Pacitan yang semakin sejahtera dan bahagia,” dengan fokus pada pemberantasan kemiskinan, peningkatan SDM, pengembangan pariwisata, dan perbaikan birokrasi.
Segmen kedua memperdalam visi misi melalui pertanyaan dari lima panelis. Isu ekonomi menjadi fokus, dengan diskusi tentang perlunya meningkatkan daya saing wisata, ketahanan pangan, dan dukungan terhadap UMKM. Ronny Wahyono menyoroti rendahnya capaian wisata di Pacitan yang baru mencapai 50% dari target. Kedua paslon juga mengangkat pentingnya pemberdayaan UMKM, akses infrastruktur internet, dan dukungan permodalan bagi wirausaha muda.
Segmen ketiga mengangkat isu infrastruktur dan kesehatan. Paslon membahas pentingnya perbaikan jalan antar kecamatan dan desa di wilayah pegunungan Pacitan. Ronny Wahyono menekankan perlunya pemerataan pembangunan jalan di 12 kecamatan. Dalam bidang kesehatan, paslon nomor 2 mengusulkan layanan kesehatan gratis bagi warga miskin melalui dana tak terduga dan kerjasama dengan Baznas, serta peningkatan jumlah dokter spesialis. Wahyu Saptono Hadi mengusulkan rumah sakit tipe D di beberapa kecamatan agar akses kesehatan masyarakat semakin dekat dan tidak harus ke luar kota.
Pada segmen keempat, debat berfokus pada sektor pariwisata dan keterlibatan pemuda dalam perekonomian Kabupaten Pacitan. Pertanyaan diajukan mengenai rendahnya tingkat okupansi wisata di Pacitan, dengan capaian tahun 2024 baru mencapai 50% dari target, setelah target 2023 juga tidak tercapai. Paslon nomor urut 1, Ronny Wahyono dan Wahyu Saptono Hadi, menyoroti perlunya peningkatan event dan wisata di Pacitan.
Indrata Nu Bayuaji menjelaskan bahwa survei menunjukkan setiap event dapat menggerakkan dana hingga satu miliar rupiah, namun tantangan yang dihadapi adalah masih sedikitnya wisatawan dari luar Pacitan. Ia mengusulkan kerjasama dengan biro wisata serta peningkatan infrastruktur dengan dukungan dari Menteri AHY agar Pacitan lebih mudah diakses.
Selanjutnya Ronny Wahyono menekankan pentingnya, konektivitas melalui pembangunan pelabuhan laut, udara, dan penyambungan Jalur Lintas Selatan (JLS) akan membantu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Paslon nomor urut 2, Indrata Nur Bayuaji dan Gagarin, membahas tantangan pengangguran di kalangan Gen Z. Indrata menyoroti bahwa banyak pemuda telah bekerja namun terkena PHK. Ronny Wahyono mengusulkan pengembangan SDM dan SDA melalui pelatihan produktif bagi Gen Z, termasuk peluang kerja di luar kota dan luar negeri, untuk meningkatkan kesejahteraan. Terutama untuk maksimalkan usaha peternakan agar daing Pacitan bisa dijual ke luar daerah bahkan ke luar negeri.
Indrata menjawab dengan rencana program sekolah pengantar kerja untuk menyiapkan generasi muda, seperti di wilayah Tegalombo yang memiliki potensi ternak sapi perah. Ronny juga menekankan pentingnya menyediakan sarana dan prasarana, termasuk pendirian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk mendukung pemasaran hasil produksi dan memastikan akses internet di desa untuk memperluas peluang usaha pemuda.
