Laku Garu, Garu Bumi: Semangat Donorojo dalam Festival Ronthek Pacitan 2025
PRABANGKARANEWS, Pacitan – Festival Ronthek Pacitan 2025 yang digelar pada 5–7 Juli di depan Kantor Bupati Pacitan kembali menjadi sorotan publik. Mengusung tema besar “Pacitan Sumandhang Nugraha”, festival tahunan ini dimeriahkan oleh 12 kecamatan dan tiga perwakilan sekolah tingkat SMA/SMK/MA dari seluruh penjuru Pacitan. Salah satu penampilan yang berhasil mencuri perhatian datang dari Kecamatan Donorojo, yang mengusung judul rontek “Garu Bumi” dengan tema “Laku Garu”.
Kata laku berarti jalan atau proses, sementara garu merujuk pada alat tradisional untuk membajak sawah dengan sapi. Tema ini menggambarkan gerak kolektif dan harmoni manusia dengan alam, berangkat dari falsafah pertanian tradisional yang sarat nilai kebersamaan—mulai dari membajak, menanam, hingga panen. Dalam konteks modern, “Laku Garu” menjadi simbol semangat ketahanan pangan yang bertumpu pada gotong royong dan kerja kolektif.
“Mengangkat semangat gotong royong petani dalam membajak sawah hingga panen, Ronthek Garu Bumi kami hadirkan sebagai persembahan istimewa dari para pemuda untuk tanah yang mereka pijak dan budaya yang terus mereka rawat,” ujar Eko Haryanto (44), pelatih rontek Kecamatan Donorojo.
Proses persiapan berlangsung selama 19 hari, dimulai dari awal Juni hingga menjelang hari pelaksanaan. Seluruh elemen pemuda dan masyarakat dari 12 desa di Donorojo terlibat secara aktif, mulai dari penyusunan konsep, penggarapan koreografi, penciptaan musik, hingga pembuatan properti.

Replika sapi, damen (jerami), serta ornamen khas suasana persawahan dibuat secara mandiri oleh tim lokal. Caping dibeli dari pengrajin sekitar, sementara kostum penari disewa melalui perias lokal di Donorojo.
“Setelah melalui musyawarah bersama seluruh tim—pelatih, perontek, penanggung jawab properti, KNPI, Forum Pemuda, hingga pihak kecamatan—kami sepakat untuk memaksimalkan potensi lokal. Hampir semua properti kami buat sendiri, kecuali kostum penari yang kami sewa,” jelas Eko Haryanto.
Penampilan “Garu Bumi” bukan sekadar tontonan seni, tetapi sebuah pernyataan kuat tentang makna kolektivitas. Semangat kebersamaan dan kerja sama lintas desa menjadi pondasi utama dalam menghadirkan pertunjukan yang utuh dan berkesan. Karya ini menjadi bukti bahwa sinergi antara tradisi dan semangat muda dapat menghasilkan sesuatu yang besar.
Rontek “Garu Bumi” pun berhasil meraih predikat Penyaji Terbaik dalam Festival Ronthek Pacitan 2025. Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus tonggak untuk mengembangkan potensi seni dan budaya lokal secara berkelanjutan.
“Hasil yang kami raih sudah merupakan capaian luar biasa, terlebih melihat penampilan dari kecamatan lain yang juga tak kalah mengesankan. Tapi dengan keyakinan, garapan yang maksimal, dan landasan pengetahuan yang kuat, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kerja bersama yang sungguh-sungguh bisa menghasilkan karya terbaik,” pungkas Eko.
Kecamatan Donorojo membuktikan bahwa rontek bukan hanya sekadar festival tahunan, tetapi ruang ekspresi budaya yang menyatukan, menginspirasi, dan memperkuat jati diri masyarakat Pacitan.
Penulis: Dinda Naulia Fatonah- Universitas Sahid Surakarta
