Diskusi dan Pertunjukan Wayang Beber Joko Kembang Kuning Meriahkan Museum Ullen Sentalu
PRABANGKARANWS, Yogyakarta, 26 Juli 2025 — Suasana edukatif dan penuh antusiasme menyelimuti Museum Ullen Sentalu, Jalan Kaliurang, Yogyakarta, saat digelar acara Pertunjukan dan Diskusi Wayang Beber Joko Kembang Kuning/Tawangalun Donorojo. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian dan pengenalan kembali warisan budaya visual tertua Nusantara kepada generasi muda.
Acara ini dihadiri oleh siswa dan siswi dari berbagai daerah seperti Kaliurang, UGM, Sleman, Mangunan, Purworejo, Magelang, Blitar, Mergangsan, Kulonprogo, serta perwakilan dari Barahmus (Badan Musyawarah Museum se-DIY dan sekitarnya). Mereka hadir untuk menyaksikan pertunjukan dan mengikuti diskusi bersama dua narasumber utama, yaitu Tri Hartanto dan Faris Wibisono.
Pertunjukan dimulai dengan pembacaan dan pengisahan lembar pertama dari Wayang Beber Joko Kembang Kuning, yang memuat cerita 1 hingga 4. Pembacaan dilakukan oleh Tri Hartanto dengan gaya penceritaan yang komunikatif dan menyentuh, membuka ruang apresiasi terhadap narasi kuno yang tersimpan dalam lembaran bergambar tersebut.
Selanjutnya, Faris Wibisono, sang penyungging dan peneliti wayang beber, memberikan presentasi mengenai perbandingan gaya sungging dari tiga jenis wayang beber: Wayang Beber Joko Kembang Kuning/Tawangalun dari Pacitan, Wayang Beber Remengangun Jaya, dan Wayang Beber koleksi Leiden, Belanda.
Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa gaya sungging (lukisan hias pada wayang) yang memiliki garis goresan kaku dan sederhana biasanya menandakan usia yang lebih tua. Dari ketiga jenis wayang yang dibahas, Wayang Beber Tawangalun Donorojo dianggap yang paling tua. Hal ini dikuatkan oleh keberadaan candrasengkala “Gawe Srabi Jinamah Wong” yang bermakna tahun 1614 Saka atau 1692 Masehi.
Sebaliknya, Wayang Beber Leiden terlihat memiliki gaya sungging yang lebih halus dan rinci, namun belum memiliki candrasengkala, serta belum sepenuhnya rampung. Diduga kuat penyebabnya adalah terganggunya proses penyelesaian karya ini karena peristiwa Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1742 Masehi, yang berdampak besar terhadap kehidupan budaya dan politik di Jawa pada masa itu.
Diskusi ini membuka wawasan baru bagi para peserta, terutama tentang cara membaca sejarah dan usia karya seni melalui pendekatan gaya visual dan konteks historis. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa warisan budaya seperti Wayang Beber tak hanya bisa dinikmati secara estetis, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan lintas disiplin—melibatkan sejarah, seni rupa, dan antropologi.
