Bumi Chaosan: Jejak Lisan, Jejak Kekuasaan, dan Jejak Keberanian dari Tanah Pacitan

Bumi Chaosan: Jejak Lisan, Jejak Kekuasaan, dan Jejak Keberanian dari Tanah Pacitan
SHARE

PRABANGKARANEWS – Rabu 10 Desember 2025 – Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Di Pacitan, sejarah tidak hanya tersimpan di nisan tua, prasasti, atau situs arkeologi. Sejarah hidup di antara bisik angin pegunungan, dalam tutur yang diwariskan para sesepuh, dalam cerita yang mengalir dari generasi ke generasi. Inilah kekuatan tradisi lisan Pacitan—sebuah ruang di mana ingatan masa lalu tetap menyala meski zaman terus berubah.

Jejak Wengker Kidul dan Pelarian Majapahit

Sejak masa akhir Majapahit, Pacitan dikenal sebagai bagian dari wilayah Wengker Kidul—sebuah kawasan yang dianggap aman namun penuh misteri. Jalur selatan yang membentang dari Kalak, Mojo, Punung, Gondosari, Nawangan, hingga lereng-lereng Gunung Lawu menjadi rute persembunyian para bangsawan Majapahit yang melarikan diri dari kehancuran kerajaannya.

Baca Juga  Gunung Padang: Benarkah Peradaban Tertua Dunia Berasal dari Indonesia?

Bagi masyarakat Pacitan, kisah ini bukan sekadar sejarah, melainkan bagian dari memori kolektif yang menegaskan bahwa daerah mereka sejak dulu merupakan tempat persinggahan tokoh-tokoh besar yang sedang dikejar kekacauan zaman.

Ontran-ontran Mataram Islam dan Jejak Mangkubumi

Tradisi lisan juga menghubungkan Pacitan dengan gejolak Mataram Islam. Ketika Pangeran Mangkubumi (kelak Sultan Hamengkubuwono I) berkonflik dengan keraton, ia memilih menyusuri jalur yang sama—masuk wilayah Pacitan untuk menghindari kejaran lawan politiknya.

Di Watu Lakar, Desa Sumberharjo, diceritakan Pangeran Mangkubumi mengucapkan sebuah sumpah yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat:

Pacitan adalah bumi chaosan.

Sebuah istilah yang terdengar lembut tetapi menyimpan makna sangat dalam.

Bumi Chaosan dan Pengabdian Setroketipo

Cerita lisan itu berlanjut dengan kehadiran Setroketipo, abdi setia Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Bupati pertama Pacitan.

Baca Juga  Pussansiad Gelar Seminar IT Security Sadar Pengamanan

Dikisahkan, saat pelarian, Mangkubumi terluka akibat perang. Setroketipo memberikan rucuh pace—ramuan tradisional dari buah pace (mengkudu)—untuk mengobati sang pangeran. Luka Mangkubumi sembuh, dan sebagai tanda terima kasih, ia menghadiahkan wilayah Pacitan kepada Setroketipo sebagai “bumi chaosan”.

Namun makna “chaosan” bukan hadiah berupa tanah kekuasaan, melainkan amanah moral.

Chaosan mengandung makna:

  • tanah titipan, bukan milik pribadi,

  • tanah penjagaan, yang harus dirawat dengan laku hati-hati,

  • tanah waspada, yang menuntut penghuninya berhati bening dan tidak serampangan,

  • tanah kewaspadaan batin, agar tidak lupa asal-usul dan tidak besar kepala oleh jabatan atau kekuatan.

Bagi masyarakat Pacitan, pesan ini membentuk karakter sosial: pendiam tetapi teguh, sederhana tetapi berprinsip, lembut namun tidak mudah goyah.

Baca Juga  Kemerdekaan Pers; Dewan Pers Dilarang Minta Perusahaan Pers Melakukan Pendaftaran!

Pacitan sebagai Ruang Ingatan

Feature ini membuka kembali simpul-simpul ingatan yang terkadang luput dalam narasi besar sejarah nasional. Di balik ketenangan pantai dan pegunungannya, Pacitan menyimpan jejak:

  • pelarian bangsawan Majapahit,

  • pertarungan politik Mataram Islam,

  • hubungan patron-klien antara Mangkubumi dan Setroketipo,

  • serta pesan etis yang membentuk karakter orang Pacitan hingga hari ini.

Tradisi lisan inilah yang menegaskan bahwa identitas suatu daerah tidak hanya dibangun dari catatan sejarah tertulis, tetapi dari ingatan kolektif masyarakatnya—ingatan yang terus hidup, menyala di antara cerita-cerita yang diwariskan para sepuh.

Di tengah modernitas yang mengaburkan batas tradisi, kisah tentang Bumi Chaosan menjadi pengingat lembut bahwa asal-usul adalah arah, dan waspada adalah laku hidup.

Penulis: Amat Taufan