Orasi Kebudayaan Fadli Zon di UNS: Indonesia Bukan Sekadar Negara Bangsa, tetapi Negara Peradaban

Orasi Kebudayaan Fadli Zon di UNS: Indonesia Bukan Sekadar Negara Bangsa, tetapi Negara Peradaban
Orasi Kebudayaan Fadli Zon di UNS: Indonesia Bukan Sekadar Negara Bangsa, tetapi Negara Peradaban
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, SURAKARTA – Suasana Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS terasa berbeda pada Kamis (26/3/2026). Ruang yang biasanya menjadi tempat kegiatan akademik itu menjelma menjadi ruang refleksi kebudayaan ketika ratusan alumni, dosen, dan mahasiswa berkumpul dalam Gelar Budaya dan Reuni Akbar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret.

Di panggung utama, Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, menyampaikan orasi kebudayaan yang menggugah kesadaran akan posisi Indonesia dalam peta peradaban dunia.

Indonesia Bukan Sekadar Nation State

Dalam orasinya, Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa dipandang hanya sebagai nation state atau negara bangsa semata. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi yang lebih dalam sebagai negara peradaban.

Ia menyebut kekayaan Indonesia sebagai “mega diversity”, sebuah tingkat keragaman yang jauh melampaui sekadar keberagaman biasa.

“Indonesia memiliki sekitar 1.340 kelompok etnis dan 718 bahasa daerah. Kita tidak lagi berbicara soal diversity, tetapi mega diversity,” ujarnya di hadapan para peserta.

Keragaman tersebut, lanjutnya, merupakan sumber kekuatan budaya yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Jika dikelola dengan baik, Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pusat kebudayaan dunia.

Baca Juga  Juswari Umar Said Berbagi Paket Kue di Hari Lebaran

Jejak Peradaban Purba Nusantara

Fadli Zon juga menyinggung berbagai temuan arkeologis yang semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah peradaban manusia.

Salah satu temuan yang ia soroti adalah lukisan prasejarah di Gua Metandur, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas simbolik manusia di Nusantara telah berlangsung sejak puluhan ribu tahun lalu.

Ia juga mengingatkan bahwa penemuan fosil Pithecanthropus erectus di Indonesia menyumbang sekitar 60 persen dari total temuan dunia, menjadikan wilayah Nusantara sebagai salah satu laboratorium penting bagi studi evolusi manusia.

“Ini membuktikan bahwa kita bukan peradaban yang baru muncul. Kita memiliki sejarah panjang yang harus kita pahami dan banggakan,” ujarnya.

Budaya sebagai Soft Power Bangsa

Dalam konteks global, Fadli Zon mendorong Indonesia untuk menjadikan kebudayaan sebagai soft power. Ia mencontohkan bagaimana Korea Selatan berhasil mengangkat budaya populer mereka melalui fenomena Korean Wave yang dikenal luas melalui K-Pop dan industri hiburan.

Baca Juga  Ricky Siahaan, Gitaris Seringai, Meninggal Dunia di Jepang Usai Tampil di Gekiko Fest

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar. Kekayaan arca, candi, seni pertunjukan, hingga tradisi lisan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi berbasis budaya.

Ia menyebut gagasan tersebut sebagai “Indonesia Wave”, yaitu upaya menjadikan kebudayaan Indonesia sebagai daya tarik global sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

“Kita ingin budaya menjadi soft power, tetapi juga menjadi cultural economy melalui industri berbasis hak kekayaan intelektual,” jelasnya.

Dari Out of Africa ke Out of Nusantara

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga memperkenalkan sebuah gagasan ilmiah yang masih terus dikaji, yakni kemungkinan asal-usul manusia modern dari kawasan Nusantara atau yang ia sebut sebagai “Out of Nusantara.”

Teori tersebut salah satunya didukung oleh banyaknya gambar perahu yang ditemukan pada dinding-dinding gua purba di Indonesia. Lukisan tersebut dianggap sebagai indikasi bahwa nenek moyang di wilayah Nusantara telah memiliki teknologi maritim sejak puluhan ribu tahun lalu.

Kemampuan pelayaran itu memungkinkan migrasi manusia ke berbagai wilayah dunia pada masa prasejarah.

Baca Juga  Kementerian ATR/BPN Tingkatkan Capaian Target Operasi

Meski masih memerlukan kajian lebih lanjut, gagasan ini menunjukkan betapa pentingnya Nusantara dalam sejarah mobilitas manusia purba.

Orasi Kebudayaan Fadli Zon di UNS: Indonesia Bukan Sekadar Negara Bangsa, tetapi Negara Peradaban

Kampus sebagai Motor Kebudayaan

Di akhir orasinya, Fadli Zon mengajak perguruan tinggi untuk berperan aktif dalam pengembangan kebudayaan nasional. Ia menilai kampus memiliki posisi strategis sebagai pusat riset, pemikiran, sekaligus inovasi budaya.

Langkah Universitas Sebelas Maret yang membentuk Badan Pengembangan Budaya pada tahun 2025 dinilai sebagai langkah progresif dalam memperkuat ekosistem riset kebudayaan di lingkungan akademik.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas budaya, dan sektor swasta, ia optimistis kebudayaan Indonesia dapat berkembang menjadi kekuatan global tanpa kehilangan akar tradisinya.

“Jika kita mampu merawat dan mengembangkan kekayaan budaya ini bersama-sama, maka Indonesia akan berdiri tegak sebagai identitas yang membanggakan di tengah masyarakat dunia,” pungkasnya.

Orasi tersebut menutup rangkaian kegiatan Gelar Budaya dan Reuni Akbar Fakultas Ilmu Budaya dengan pesan kuat: bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga arah masa depan bangsa.