Sungai Baksoka sebagai Situs Budaya Pacitanian dalam Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, OPK-PACITAN – Sungai Baksoka merupakan salah satu lokasi penting dalam kegiatan inventarisasi dan kajian situs prasejarah di Kabupaten Pacitan. Situs Baksooka terletak di 3 desa yaitu Desa Sooka, Desa Punung, dan Desa Mendolo Kidul, di wilayah Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dengan panjang sekitar 23 kilometer dan lebar rata-rata sekitar 50 meter.
Hulu sungai berada di kawasan Gunung Batok, sementara alirannya bermuara di Samudra Hindia di pesisir selatan Pulau Jawa. Plakat perlu diperbaiki dengan membuat sebuah tulisan yang bisa menjadi literasi bagi generasi muda. Sekitar situs terdapat SD yang perlu dimaksimalkan dalam rangka untuk mengenalkan Situs Baksooka sebagai materi pembelajaran.
Dalam perjalanan alirannya, sungai ini dikenal dengan beberapa nama. Pada bagian hulu hingga tengah disebut Kali Baksoka, sedangkan di bagian hilir alirannya dikenal dengan nama Kali Kladen, Kali Sambi, dan Kali Maron yang bermuara di Pantai Ngiroboyo. Keberagaman nama tersebut mencerminkan dinamika geografis sekaligus tradisi penamaan lokal yang berkembang di masyarakat.
Berdasarkan informasi yang tercatat di Museum Song Terus, kawasan Kali Baksoka telah menarik perhatian para peneliti sejak abad ke-19. Hal ini disebabkan oleh ditemukannya berbagai artefak batu dari masa Paleolitikum yang tersebar di dasar sungai maupun pada teras-teras aliran sungainya. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi lokasi aktivitas manusia purba pada masa lampau.
Pada Minggu, 6 Agustus 2023, tim BPK XI bersama sejumlah relawan yang dipimpin oleh Heru melakukan kegiatan penelusuran lapangan di kawasan Kali Baksoka. Kegiatan ini bertujuan untuk mengamati secara langsung potensi geologis dan arkeologis di wilayah tersebut. Dalam penelusuran tersebut ditemukan susunan lapisan batu di aliran sungai yang secara visual menyerupai struktur batu yang tertata rapi, seolah-olah seperti batu pondasi atau batu yang direkatkan dengan semen. Temuan ini menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi para peneliti untuk menelaah lebih lanjut karakter geologi kawasan tersebut.
Kawasan Sungai Baksoka sebelumnya telah menjadi objek penelitian penting pada masa kolonial. Dalam sebuah ekspedisi penelitian yang dilakukan oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald bersama M.W.F. Tweedie, ditemukan sekitar 3.000 artefak batu di sepanjang aliran sungai tersebut. Di antara temuan tersebut terdapat berbagai jenis alat batu, termasuk kapak genggam (hand axe). Penemuan artefak dalam jumlah besar ini menjadikan Sungai Baksoka dikenal secara luas dalam dunia penelitian prasejarah.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, penemuan tersebut bahkan pernah dirayakan oleh von Koenigswald dengan menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Kisah ini kemudian menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat mengenai sejarah penelitian prasejarah di Pacitan.
Selain memiliki nilai arkeologis, kawasan Sungai Baksoka juga menarik perhatian para ahli geologi. Struktur undak-undak dan teras sungai yang terbentuk secara alami menjadi objek kajian penting dalam memahami proses geomorfologi serta dinamika lingkungan purba di wilayah karst Pacitan.
Pacitan mulai dikenal luas dalam kajian arkeologi internasional sekitar tahun 1935, ketika Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald bersama M.W.F. Tweedie melakukan penelitian di wilayah Punung dan mengidentifikasi situs Kali Baksoka sebagai salah satu lokasi penting temuan artefak prasejarah (Hendriyanto & Taufan, 2025).
Situs Kali Baksoka kemudian diidentifikasi sebagai salah satu bengkel pembuatan alat batu manusia purba terbesar dari periode Paleolitikum. Tradisi teknologi batu yang berkembang di wilayah ini kemudian dikenal sebagai Budaya Pacitanian, yang menjadi penanda penting perkembangan teknologi alat batu sekaligus bukti keberadaan manusia purba di kawasan Pacitan (Hendriyanto & Taufan, 2025).
Dalam dokumentasi foto penelitian awal terlihat beberapa orang duduk di bagian depan area penggalian sambil mengamati lembah yang menjadi lokasi penelitian. Mereka kemungkinan merupakan peneliti, asisten lapangan, atau pekerja lokal yang terlibat dalam kegiatan eksplorasi arkeologi. Posisi mereka yang menghadap ke arah lembah menunjukkan fokus terhadap lokasi temuan artefak. Busana sederhana yang dikenakan—seperti kain, baju polos, dan penutup kepala—mencerminkan kondisi penelitian lapangan pada awal abad ke-20 yang masih sangat mengandalkan observasi langsung di lokasi.
Secara geomorfologis, lapisan tanah yang terbuka akibat erosi sungai memberikan informasi penting bagi penelitian arkeologi. Potongan lapisan tanah tersebut memperlihatkan stratigrafi yang memungkinkan peneliti memahami konteks temuan artefak. Di kawasan Baksoka inilah kemudian ditemukan berbagai alat batu Paleolitik seperti kapak perimbas dan alat serpih yang semakin mengukuhkan Pacitan sebagai salah satu pusat budaya manusia purba yang dikenal sebagai Kebudayaan Pacitan atau Pacitanian (Hendriyanto & Taufan, 2025).
Ketertarikan para arkeolog, khususnya dari Belanda, terhadap Pacitan tidak terlepas dari potensi ilmiah kawasan ini dalam memahami kehidupan manusia purba yang hidup di lingkungan karst. Gua-gua yang tersebar di wilayah Punung, serta bentang alam berupa sungai, tebing, dan lahan terbuka, menjadi semacam “arsip alam” yang menyimpan lapisan sejarah lingkungan dan kehidupan manusia sejak ribuan hingga jutaan tahun yang lalu.
Dalam sejarah penelitian arkeologi Pacitan, kegiatan penggalian yang dikenal sebagai Opgraving te Baksoka menjadi fase penting ketika wilayah ini mulai dikenal di tingkat internasional sebagai salah satu laboratorium alam prasejarah di Nusantara.
Dalam perspektif kajian revitalisasi Objek Pemajuan Kebudayaan, situs Sungai Baksoka merepresentasikan berbagai aspek penting, antara lain pengetahuan tradisional dan ilmiah mengenai lingkungan purba, perkembangan teknologi awal manusia yang beradaptasi dengan alam Pacitan, serta sejarah penelitian arkeologi yang menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Dengan demikian, Sungai Baksoka tidak hanya dipahami sebagai bentang alam berupa aliran sungai, tetapi juga sebagai ruang memori kolektif yang menghubungkan masyarakat Pacitan masa kini dengan jejak awal kehidupan manusia di Pulau Jawa.
Artefak batu yang ditemukan di aliran Sungai Baksoka merupakan alat budaya dari masa Paleolitikum yang dikenal sebagai bagian dari tradisi Pacitanian. Secara morfologis, alat-alat tersebut didominasi oleh kapak perimbas dan kapak penetak yang dibuat dari batu sungai berukuran sedang hingga besar. Bentuknya masih sederhana dan tidak simetris, dengan satu sisi yang diserpih untuk menghasilkan bagian tajam, sementara sisi lainnya dibiarkan alami sebagai pegangan.
Teknik pembuatannya menggunakan metode pukulan langsung (direct percussion), tanpa proses penghalusan lanjutan, sehingga permukaannya tampak kasar dengan bekas-bekas serpihan yang jelas.
Fungsi alat-alat batu tersebut diperkirakan berkaitan erat dengan pola hidup manusia purba yang mengandalkan kegiatan berburu dan meramu. Alat ini kemungkinan digunakan untuk memotong daging hasil buruan, menguliti hewan, memecah tulang, serta mengolah bahan makanan seperti umbi-umbian.
Saat ini sebagian koleksi alat batu dari Sungai Baksoka disimpan di Museum Leiden di Belanda sebagai bagian dari hasil penelitian arkeologi pada masa kolonial. Keberadaan artefak tersebut di luar negeri menunjukkan pentingnya situs Pacitan dalam peta penelitian prasejarah dunia, sekaligus menegaskan bahwa wilayah Pacitan merupakan salah satu pusat awal perkembangan teknologi alat batu di Asia Tenggara.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd.
