Agoes Hendriyanto, Modernitas Penuh dengan Pencitraan dalam Keterasingan

Agoes Hendriyanto, Modernitas Penuh dengan Pencitraan dalam Keterasingan

Oleh: Agoes Hendriyanto

Era globalisasi membuat dunia tidak ada jarak.  Teknologi informatika dengan jaringan internet memudahkan manusia untuk tukar informasi dan berita di suatu wilayah di dunia. Tidak ada batas ruang dan waktu. Batas antar wilayah menjadi kabur.  Kejadian di suatu wilayah di dunia dalam hitungan detik sudah bisa dilihat di wilayah lainnya.  Sehingga kita mengenal adanya “Global Village”.  Desa global menjadi  sebuah fenomena di era teknologi informasi yang menghubungkan antar wilayah satu dengan wilayah lainnya tanpa ada batasan.

Perkembangan  ilmu pengetahuan di bidang teknologi informasi merubah seluruh aspek kehidupan sosial budaya manusia.  Sisi lainnya apakah mereka sudah siap untuk menghadapinya !

Manusia dimanjakan dengan berbagai barang penemuan yang semakin hari semakin banyak variasinya.  Hal ini telah membuat diri kita begitu lengah dan hanyut terhadap berbagai perkembangan-perkembangan yang begitu pesat setiap hari bahkan setiap jam nya.

Sehingga manusia hanya terjebak pada kepuasaan dan kesenangan tanpa memikirkan nilai kegunaan dari sebuah barang. Baudrilland (2018: 35) konsumsi sekedar nafsu untuk membeli begitu banyak komoditas, satu fungsi kenikmatan, satu fungsi individual, pemebabasan, kebutuhan, pemuasaan diri, kekayaan atau konsumsi namun konsumsi diartikan sebagai satu tatanan pemaknaan pada satu “panoply” objek, satu sistem, atau kode, tanda, atau” satu tatanan manupulasi tanda, manupilasi objek sebagai tanda, satu sistem komunikasi seperti bahasa, satu sistem pertukaran (seperti kekerabatan primitive), satu moralitas, yaitu satu pertukaran ideologis, produksi perbedaan, satu generasi proses fashion secara kombinatif, menciptakan isolasi atau mengindividu, satu pengekang orang secara bawah sadar, baik dari sistem tanda dan dari sistem, sosio-ekonomi-politik dan satu logika sosial.

Apalagi teknologi terbaru tersebut sebagai hasil dari riset sebuah perusahaan besar, otomatis untuk mempromosikan barang terbaru tersebut akan membuat media untuk promosi dengan gambar, tulisan ataupun audio visual yang menarik yang menimbulkan sugesti khususnya anak-anak muda untuk memilki barang terbaru.  Masing-masing merk android, computer, televise menawarkan vitur-vitur terbaru. Iklan tersebut akan sering dilihat setiap harinya masyarakat di , yang didalamnya mengandung unsur social-ekonomi-politik yang menawarkan banyaknya sugesti-sugesti dari luar.

Individualistik

Media dengan kemudahan teknologi informasi memudahkan orang untuk membeli suatu barang tanpa melakukan komunikasi social namun hanya lewat perangkat android atau computer manusia sudah bisa membeli barang kesukaannya.  Fenomena hidup individualitik akan semakin menjadi sebuah budaya apalagi sekarang ini dalam pandemik Covid-19, dengan harus di rumah, physical distancing. Baudrillard berusaha memperluas konsumsi dari barang bukan hanya kepada jasa namun juga kepada semua yang menjadi objek konsumen, sehingga konsumsi akan mencekeram seluruh sendi kehidupan manusia (Baudrillard, 2018: 35).

Hal itulah yang menjadi ladang emas bagi para pelaku bisnis dalam mengambil strategi untuk menguasai pasar, salah satunya dengan adanya sistem belanja online yang memungkinkan pembeli untuk melakukan transaksi lebih instan dan mudah tanpa menghiraukan jarak.

Komodifikasi Budaya

Komodifikasi budaya akan mengarah pada salah satu premis dasar postmodernisme, yaitu danya pengikisan pemisahan antara budaya rendah dengan budaya adiluhung.  Sebuah karya seni semakin tidak dapat dibedakan dengan segala komoditas lainnya, ebagai contohnya karya seni sekarang dikonsumsi dengan cara yang sama seperti jeans levi’s, hamburger, mc-donald.  Sehingga seni akan tergantung dengan permintaan akan tanda yang sama dengan komoditas lainnya dan seni diciptakan untuk memenuhi permintaan itu.  Komoditas dari sebuah seni sudah menjadi fenomena terkini dalam jaman mileneal.

Hoax atau berita bohong.

Media yang telah dikuasai oleh pemilik modal dan kekuasaan akan dengan lelkuasanya untuk menanamkam paham-paham kepada masyarakat.  Namun dalam perkembanganya rakyat mempunyai cara sendiri untuk mencari informasi.  Oleh sebab itu spemerintah lewat dewan pers yang seharusnya mempunyai tugas untuk mendidik masyarakat untuk membuat berita yang baik dan benar.  Namun peran dari Pemerintah yang diserahkan kepada Dewan Pers tidak berfungsi secara baik.  Masyarakat yang mempunyai keinginan untuk membuat berita viral sehingga akan banyak yang membaca ini merupakan salah satu fenomena social yang menjadi trend secara global.

Pemerintah sendiri dengan masih berkutat pada paradikma lama tidak mampu untuk menjadi pendidik bagi masyarakat untuk membuat sebuah berita yang baik.  Akhirnya pemerintah membuat atau memproduksi sebuah undang-undang yang berkaitan dengan hukuman bagi yang membuat berita bohong.  Akhirnya pemerintah sendiri nelalui kepolisian mulai menangkan masyarakat yang membuat berita bohong.

Seharusnya peran pemerintah yang melihat fenomena masyarakat yang suka untuk membuat berita dan menyebarkan berita yang dianggap viral tanpa memperhatikan kebenaran sebuah berita.  Apalagi dengan adanya pandemic Covid-19, produksi berita jumlahnya miliaran per hari, satu orang bisa menghasilkan 20 an berita baik melalui media social maupun melalui website.

Sebelum era digital berita hanya dikuasai oleh pemilik media masa yang besar yang mudah untuk pengendalian isi berita atau pesan.  Sehingga validitas berita tersebut bisa dipertanggungjawabkan.  Apalagi sekarang dengan begitu banyaknya produksi pesan baik yang dilakukan oleh media maupun media sosial.  Ibaratnya sekarang ini berita yang berupa pesan diibaratkan sebagai banjir bandang.  Berita yang berupa pesan yang seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat.  Namun masyarakat dengan banyaknya berita atau pesan baik di media online maupun media sosial kebingungan mencari kebenaran. Oleh sebab itu setiap pesan yang seharunya dijadikan acuan masyarakat malah sebaliknya.  Kondisi banjir informasi yang sebelumnya belum diantisipasi.  Adanya Covid-19 menjadi kebingungan khususnya dalam memberikan oinformasi kepada masyarakat.

Semakin menjamurnya Lembaga Pembiayaan

Lembaga pembiayaan baik berupa BUMN, BUMD, maupun swasta menandakan bahwa masyarakat sudah menjadi budaya untuk meminjam di perbangkan.  Sebenarnya mereka meminjam di bang untuk modal namun di lapangan untuk dibelikan pada benda atau barang yang secara ekonimis tidak menguntungkan.  Sebagai contohnya beli sepeda motor atau mobil baru.

Sepeda motor dan mobil baru tersebut jika sudah berumur satu tahun harganya akan turun dari harga membelinya.  Gaya hidup dan pencitraan di tengah masyarakat menjadi salah satu sebab seseorang untuk membeli barang yang sebanarnya sudah dia miliki.  Sehingga sekarang ini seseorang yang mempunyai android lebih dari satu, sepeda motor lebih dari satu, mobil lebih dari satu, rumah lebih dari satu.

Pola konsumtif ini terjadi jika seseorang masih dipercaya untuk meminjam di perbangkan, dan belum mencapai batas maksimum.  Namun jika telah mencapai batas maksimum dan kesulitan untuk mengangsur baru mereka rasakan.  Namun perbangkan tidak akan berhenti disebabkan nasabah-nasabah batru yang belum punya pinjaman diberikan kemudahan.

Begitu seterusnya sehingga perbangkan akan selalu selalu mencari pangsa pasar baru.  Sehingga oarng-orang yang baru tetsebut akan membelanjakan uangnya dari hasil pinjaman tanpa memperhitungkan bagaimana mereka dapat melunasi hutangnya.  Setiap tahun akan diperbaharui kreditnya dengan pinjaman yang terus naik, bukan malah dikurangi.  Fenomena perilaku konsumtif sebenarnya dapat dilihat di lembaga pembiayaan baik di daerah bahkan sampai kepolosok kecamatan.

Fenomena budaya dan gaya hidup pada jaman sekarang ini lebih mudah kita dapati, walaupun semuanya itu ada nilai negative dan positif.  Jika manusia tidak mempunyai keinginan untuk merubah gaya hidupnya maka manusia tersebut akan sama dengan masyarakat tradisional yang monoton dalam kesehariannya.  Kita sekarang terjebak dalam sebuah realitas yang semu.  Padahal semuanya diciptakan oleh manusia sebagai makhluk sosial.

Pencitraan atau disebut dengan framing seseorang menjadi asalah satu fenomena dalam realistis sebuah kehidupan.  Masyarakat seharusnya sadar bahwa framing atau pencitraan seseorang baik lewat media online dan media sosial menjadi pesan yang setiap hari diproduksi oleh pembuat pesan untuk disampaikan kepeda pembaca atau masyarakat.  seharusnya masyarakat harus bisa mengkontruksi pesan tersebut dengan hati nurani sehingga menemukan pemaknaan yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Proses pemaknaan dalam sebuah realitas kehidupan yang penuh pencitraan terkadang mengkaburkan makna kebenaran dari sebuah realitas.  Pemaknaan biasa dilakukan oleh pembaca yang mempunyai pendukung ataupun simpatisan sehingga akan menjadi pedoman bagi simpatisannya.  Oleh sebab itu sangat sulit terjadinya semiosis atau sering disebut dengan pemaknaan yang sama baik pengirim pesan maupun penerima pesan.  Oleh sebab itu diperlukan sebuah konsensus untuk menyamakan pesan dari sebuah fenomena realitas di masyarakat.

Pandemi covid-19 dalam memandang dari sudut pandang yang berbeda-beda akan mengakibatkan pemaknaan yang berbeda-beda.  Hal ini sangat tergantung dari pengetahuan dan pengalamannya.  Hal ini diperlukan sebuah kebijakan yang tegas dan pengawalan kebijakan yang tegas juga.  Diperlukan seorang leader atau pemimpin yang tegas.

Simpulan

Individualistik, komodifikasi seni dan budaya, berita hoax atau bohong, semakin menjamurnya lembaga pembiyaan menjadi fenomena yang terlihat pada era globalisasi sekarang ini.  Hal tersebut akan merubah gaya hidup masyarakat.  Kebenaran sangat tergantung dari sudut pandang masing-masing individu dan kelompok.  Hal ini memerlukan sebuah konsensus dalam memandang sebuah kebenaran.  Kebenaran sangat tergantung dari waktu, tempat, dan situasi.   Oleh sebab itu hadapi semuanya dengan akal sehat, berdoa, dan selalu bahagia.

Daftar Pustaka

Baudrilland, Jean. (2018). Masyarakat Konsumsi. Bantul: Kreasi Wacana

Please follow and like us:

prabangkara press

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *