Di Lereng Nawangan-Pacitan, Gotong Royong Menjadi Penyangga Harapan
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Pagi itu, udara di Dusun Katosan masih terasa berat. Tanah yang semalam runtuh belum sepenuhnya diam, menyisakan jejak luka di halaman sebuah rumah di RT 01 RW 13, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan. Namun di tengah kecemasan itu, satu hal tetap berdiri kokoh: kebersamaan.
Sejak matahari belum sepenuhnya tinggi, warga mulai berdatangan. Tanpa banyak kata, mereka membawa cangkul, sekop, dan peralatan seadanya. Di hadapan mereka, timbunan tanah longsor menutup sebagian rumah, mencampur dinding, perabot, dan tanah menjadi satu.
Di wilayah Kecamatan Nawangan yang dikenal dengan kontur perbukitan, bencana seperti ini bukan hal baru. Namun setiap kejadian selalu menghadirkan cerita yang berbeda—tentang kehilangan, tentang ketakutan, sekaligus tentang kepedulian yang tumbuh tanpa diminta, dilakukan oleh warga RT 01, RW 13 Nawangan, Rabu (15/4/26).
Suara cangkul yang menghantam tanah basah berpadu dengan sapaan sederhana antarwarga. Tidak ada yang memerintah, tidak ada yang menunggu. Semua bergerak dengan kesadaran yang sama: membantu sesama.
Aparat desa dan unsur terkait tampak ikut terlibat. Mereka tidak hanya mengawasi, tetapi turun langsung ke lokasi, bergabung dengan warga, mengangkat material longsoran, dan membersihkan puing-puing yang menutup akses rumah. Sinergi ini menjadi kunci agar penanganan pasca-bencana bisa dilakukan lebih cepat.
Di sela aktivitas, beberapa warga sesekali berhenti, menarik napas panjang, lalu kembali bekerja. Tanah yang mereka singkirkan bukan sekadar material longsor, tetapi juga beban kekhawatiran yang perlahan coba diangkat bersama.
Bencana tanah longsor memang menjadi ancaman nyata di kawasan ini, terlebih di tengah cuaca yang belum stabil. Hujan dengan intensitas tinggi membuat struktur tanah menjadi labil, meningkatkan potensi longsor susulan. Karena itu, kewaspadaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Namun di balik ancaman tersebut, gotong royong menjadi kekuatan yang tak tergantikan. Ia bukan hanya cara untuk membersihkan lingkungan, tetapi juga cara masyarakat merawat harapan—bahwa apa pun yang terjadi, mereka tidak akan menghadapinya sendirian.
Kegiatan hari itu bukan sekadar aksi bersih-bersih. Ia adalah refleksi nilai yang telah lama hidup di tengah masyarakat: solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan. Nilai-nilai yang justru semakin terasa kuat ketika diuji oleh bencana.
Menjelang siang, sebagian besar material telah mulai tersingkir. Rumah yang sempat tertutup kini perlahan terlihat kembali. Meski belum sepenuhnya pulih, setidaknya ada ruang untuk bernapas, ada harapan untuk memulai kembali.
Di Dusun Katosan, tanah mungkin bisa runtuh sewaktu-waktu. Namun selama gotong royong tetap hidup, masyarakat akan selalu punya cara untuk bangkit. (Hasby Fajar Pradana)
