Sejarah Terbentuknya Wilayah Administratif Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Pasca wafatnya Ki Ageng Buwono Keling, wilayah Wengker Kidul berada di bawah pengaruh Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong, serta Syeikh Maulana Maghribi. Ketiga tokoh tersebut berperan penting dalam penyebaran agama Islam secara luas kepada masyarakat setempat hingga akhir hayat mereka, yang kemudian dimakamkan di wilayah Pacitan.
Dalam perkembangan selanjutnya, dinamika politik di Jawa turut memengaruhi struktur pemerintahan di Pacitan. Setelah terjadinya konflik internal yang menyebabkan kerusakan Keraton Kartasura dan perpindahan pusat kekuasaan ke Surakarta, Pakubuwono II mengangkat Raden Tumenggung Notopuro sebagai Adipati Rejoso pada tahun 1745–1750. Wilayah Rejoso saat itu berada di kawasan Pacitan, Jawa Timur. Berdasarkan garis keturunan, R.T. Notopuro merupakan keturunan dari Ki Ageng Petung dan Ki Ageng Posong. Kepemimpinannya kemudian dilanjutkan oleh Notoprojo.
Di sisi lain, Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan Yogyakarta, juga memberikan kedudukan kepada abdi setianya, Setri Ketipo, sebagai adipati Pacitan dengan pusat pemerintahan di Nanggungan pada periode 1757–1812. Setri Ketipo memperoleh gelar R.T. Setrowidjojo I dan selanjutnya digantikan oleh putranya, Setrowidjojo II.
Memasuki abad ke-19, kekuasaan kolonial Belanda mulai masuk ke Pacitan dengan kepentingan ekonomi, khususnya pengembangan perkebunan kopi yang memiliki nilai tinggi di pasar Eropa. Selain itu, Belanda juga melakukan eksplorasi dan pembangunan pelabuhan. Pada tahun 1826, Teluk Pacitan dipetakan secara trigonometri oleh perwira Angkatan Laut Belanda, yaitu Letnan Laut F.J.A. Hugenholtz dan A.J. Voet dari kapal korvet Z. M. Pollux di bawah komando Kapten Laut C. Eeg. Survei lanjutan dilakukan pada tahun 1831 oleh Letnan Laut P.J. de Perez sehingga menghasilkan peta yang lebih akurat.
Secara geografis, Teluk Pacitan terletak pada koordinat 8°15’ Lintang Selatan dan 111°7’15” Bujur Timur. Meskipun memiliki potensi sebagai tempat berlabuh, kondisi gelombang besar di Laut Selatan menjadikan teluk ini kurang aman bagi kapal. Namun demikian, dasar perairannya yang terdiri dari tanah liat dan pasir hitam memungkinkan kapal untuk berlabuh pada kedalaman tertentu.
Terdapat dua lokasi utama yang memungkinkan kapal untuk merapat, salah satunya di sisi barat dengan pantai berpasir putih dan sumber air, serta lokasi lainnya di bagian tenggara yang dikenal oleh pelaut Belanda sebagai Teluk Pollux. Masyarakat lokal menyebut kawasan tersebut sebagai Gelon atau Magelon, yang dikenal memiliki perairan tenang dan terlindung dari ombak besar.
Selama masa kolonial, terjadi proses akulturasi budaya antara masyarakat lokal dan orang Belanda, termasuk melalui perkawinan campuran. Pada masa pemerintahan Bupati Jagakarya I sekitar tahun 1826, perkembangan Islam di Pacitan semakin pesat.
Hal ini ditandai dengan kembalinya Bagus Darso—yang kemudian dikenal sebagai KH. Abdul Manan—dari Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo di bawah asuhan Kyai Hasan Besari. Sekembalinya ke Pacitan, ia mendirikan pesantren di Semanten sebelum akhirnya berpindah ke Tremas, Arjosari, yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Tremas.
Seiring dengan janji politiknya, Sultan Hamengkubuwono I juga mengangkat para pengikut setianya yang berjasa dalam perjuangan. Raden Ngabehi Tumenggung Notoprojo diangkat sebagai bupati pada 17 Januari 1750 setelah membantu perjuangan gerilya di wilayah Pacitan. Sebelumnya, ia dikenal sebagai Ngabehi Suromarto yang menjabat sebagai Demang Nanggungan. Setelah itu, jabatan bupati Pacitan dilanjutkan oleh Setroketipo sebagai bupati berikutnya.
Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd
