Lempung, Larangan, dan Leluhur: Cerita dari Dusun Padi, Pacitan (Dana Indonesiana 2025)

Lempung, Larangan, dan Leluhur: Cerita dari Dusun Padi, Pacitan (Dana Indonesiana 2025)
Lempung, Larangan, dan Leluhur: Cerita dari Dusun Padi
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Di sebuah sudut tenang di Dusun Padi, waktu seakan berjalan lebih lambat. Di antara rumah-rumah sederhana, tradisi lama tetap hidup, menyatu dengan denyut keseharian warga.  Cerita tutur atau tradisi lisan yang masih tersimpan di memori  generasi yang lahir sekitar tahun 1940, masih menyaksikan  keberadaan Genthong Daringan—tempayan tanah liat yang bukan sekadar wadah penyimpan beras, tetapi juga menyimpan nilai, kepercayaan, dan jejak panjang kearifan lokal.

Bagi Subari (76), generasi ketiga perajin gerabah, Genthong Daringan bukan benda biasa. Dengan ukiran khas dan bentuk yang dibuat secara teliti, genthong ini diyakini mampu menjaga kualitas beras agar tetap menthes—pulen dan enak saat dimasak. “Dari dulu memang begitu kepercayaan orang sini,” ujarnya, sembari mengingat masa kecilnya yang akrab dengan aktivitas mengolah tanah liat.

Keyakinan serupa juga disampaikan Sunardi (80). Ia menuturkan adanya pantangan yang hingga kini masih dipegang sebagian masyarakat: laki-laki tidak diperbolehkan melihat isi Genthong Daringan. “Ojo bukak Genthong Daringan supaya berasé menthes,” begitu pesan yang diwariskan turun-temurun. Larangan ini bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari sistem nilai yang menjaga penghormatan terhadap proses dan hasil pangan.

Baca Juga  Pemerintah Beri Intensif Fiskal Dorong Riset dari Badan Usaha

Beras yang disimpan dalam genthong pun bukan sembarang beras. Jenis-jenis lokal seperti Tambak Ulu, Karang Mojo, Rojolele, ketan putih, Jengkarang, hingga Rijal menjadi pilihan utama. Padi dipanen secara tradisional menggunakan ani-ani, lalu ditumbuk (ditutu) hingga menjadi beras siap tanak. Setiap tahap dilakukan dengan kesabaran, seakan menyatu dengan ritme alam.

Kearifan lokal itu tak bisa dilepaskan dari proses pembuatan gerabah yang juga masih mempertahankan cara tradisional. Tanah liat diolah dengan alat sederhana, dibentuk dengan tangan terampil, lalu dikeringkan secara alami. Proses pembakaran dilakukan menggunakan tungku tradisional selama kurang lebih tiga jam, dengan bahan bakar kayu dan jerami. Dalam satu kali pembakaran, sekitar 200 hingga 300 buah perkakas rumah tangga dihasilkan—mulai dari genthong, kendi, hingga peralatan dapur lainnya.

Baca Juga  Tim U-16 Indonesia Siap Hadapi Australia di Semifinal ASEAN U-16 Boys Championship 2024

Namun, Dusun Padi bukan hanya ruang produksi, melainkan juga ruang budaya. Tradisi ini dirawat melalui kegiatan seperti Festival Gerabah Lempung Agung 2025 yang digelar masyarakat Desa Purwoasri. Festival ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda.

Upacara adat Lempung Agung yang menyertai festival tersebut semakin memperkaya khazanah budaya di Pacitan—sebuah daerah yang dikenal dengan julukan 70-Mile Sea Paradise. Di tengah arus modernisasi, tradisi gerabah dan Genthong Daringan menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga harus dirawat.

Lebih dari sekadar benda, Genthong Daringan adalah simbol harmoni antara manusia, alam, dan kepercayaan. Ia mengajarkan bahwa dalam kesederhanaan tersimpan filosofi mendalam—tentang kesabaran, penghormatan, dan keterhubungan dengan leluhur.

Baca Juga  Kang Bupati dan Bunda Rita Tinjau Kerjabakti Lintas Dinas di Aloon-aloon Ponorogo

Selain itu, secara turun-temurun masyarakat Dusun Padi, Desa Purwoasri, tetap mempertahankan pengetahuan dan teknologi tradisional dalam pembuatan gerabah berbahan tanah liat. Berbagai peralatan rumah tangga seperti lemperan, kuali, wajan, hingga pot bunga masih diproduksi secara rutin sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari sekaligus warisan budaya.

Keberadaan tungku pembakaran tradisional yang masih dapat dijumpai hingga kini menjadi bukti nyata bahwa aktivitas kerajinan gerabah tersebut tetap lestari. Tungku-tungku ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana produksi, tetapi juga menjadi saksi bisu keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di tengah arus modernisasi.

Di Dusun Padi, tanah liat bukan hanya dibentuk menjadi perkakas, tetapi juga menjadi cerita. Cerita tentang masa lalu yang terus hidup, dan masa depan yang sedang dijaga bersama.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto