Festival Ronthek Pacitan 2026 Siap Digelar, “Gema Bambu Pacitan” Gaungkan Harmoni Budaya dan Semangat Gotong Royong

Festival Ronthek Pacitan 2026 Siap Digelar, “Gema Bambu Pacitan” Gaungkan Harmoni Budaya dan Semangat Gotong Royong
Festival Ronthek Pacitan 2026 Siap Digelar, "Gema Bambu Pacitan" Gaungkan Harmoni Budaya dan Semangat Gotong Royong
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Kemeriahan budaya kembali menyelimuti Kabupaten Pacitan. Festival Ronthek Pacitan 2026 siap digelar pada 17–19 Juli 2026 di Alun-alun Pacitan dengan mengusung tema “Gema Bambu Pacitan”. Festival yang masuk dalam agenda bergengsi Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata Republik Indonesia ini menjadi panggung pelestarian budaya sekaligus daya tarik wisata unggulan Kabupaten Pacitan.

Selama tiga hari, masyarakat akan disuguhkan parade seni rontek yang spektakuler, pertunjukan musik tradisional, atraksi budaya, serta kreativitas para seniman dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pacitan. Festival ini juga diharapkan mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif, UMKM, dan pariwisata daerah.

Tema “Gema Bambu Pacitan” dipilih sebagai simbol kuatnya identitas budaya masyarakat Pacitan yang lahir dari nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kreativitas dalam memanfaatkan potensi lokal.

Berawal dari Bambu, Lahir Seni Rontek

Seni Rontek memiliki sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Pacitan. Tradisi ini mulai berkembang sekitar tahun 1960-an hingga 1970-an, ketika berbagai kegiatan seni budaya tumbuh subur di tengah masyarakat (Indartato dkk, 2021).

Baca Juga  KISAH PENITI DI BAJU SUFI: "AKU TAK INGIN PATAH"

Pada masa itu, perangkat gamelan sebagai pengiring pertunjukan ketoprak maupun wayang orang masih tergolong mahal sehingga masyarakat berinovasi dengan memanfaatkan bambu sebagai alat musik alternatif. Bambu dengan berbagai ukuran dilubangi membentuk rongga persegi sehingga menghasilkan bunyi ritmis khas yang dikenal dengan sebutan tetek.

Nama tetek berasal dari suara yang dihasilkan alat tersebut, yakni “tek… tek… tek…”, yang kemudian menjadi ciri khas pertunjukan musik tradisional masyarakat Pacitan.

Pembuatan tetek dilakukan secara gotong royong oleh para pemuda menjelang datangnya bulan Ramadan. Kebersamaan mulai terbangun sejak mencari bambu, membuat alat musik, hingga berlatih memainkan irama rontek.

Selain sebagai alat musik pertunjukan, tetek juga berkembang sebagai media ronda malam atau Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) yang merupakan hasil akulturasi budaya kentongan kayu dengan kreativitas masyarakat setempat.

Dari Tradisi Menjadi Atraksi Wisata

Seiring perkembangan zaman, Seni Rontek terus mengalami transformasi tanpa meninggalkan akar tradisinya. Kini, pertunjukan rontek tidak hanya mengandalkan bunyi bambu, tetapi dipadukan dengan berbagai alat musik modern seperti keyboard, drum, gitar, bass, hingga instrumen elektronik lainnya.

Baca Juga  Sanksi Sosial di Hapus Pelanggar Prokes Covid19 Akan di Pidana Ringan

Kolaborasi tersebut justru memperkaya komposisi musik sehingga menghasilkan pertunjukan yang lebih dinamis dan atraktif tanpa menghilangkan karakter bunyi bambu sebagai identitas utama.

Secara musikal, Seni Rontek dibangun oleh berbagai unsur seperti melodi, irama, birama, tangga nada, harmoni, tempo, dinamika, dan timbre, yang menjadikan setiap penampilan memiliki karakter artistik yang khas.

Perpaduan antara musik tradisional dan modern inilah yang membuat Rontek Pacitan mampu diterima lintas generasi sekaligus tetap relevan sebagai bagian dari warisan budaya yang terus berkembang.

Menggerakkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Sebagai salah satu agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, Festival Ronthek Pacitan diharapkan mampu memperkuat posisi Pacitan sebagai destinasi wisata budaya nasional.

Ribuan wisatawan diperkirakan akan memadati Alun-alun Pacitan untuk menyaksikan parade rontek, menikmati pertunjukan seni, mencicipi kuliner khas, hingga membeli berbagai produk UMKM lokal.

Baca Juga  BBGTK Jawa Tengah Gelar Sarasehan Guru Bahasa Indonesia dalam Semangat Sumpah Pemuda

Festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi bagi seniman, generasi muda, dan masyarakat dalam melestarikan warisan budaya yang telah hidup selama puluhan tahun.

Melalui Festival Ronthek 2026, Pemerintah Kabupaten Pacitan mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga, mencintai, dan mengembangkan Seni Rontek sebagai identitas budaya daerah yang mampu menggema hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Jadwal Festival Ronthek Pacitan 2026

  • Tanggal: 17–19 Juli 2026
  • Tema: Gema Bambu Pacitan
  • Lokasi: Alun-alun Pacitan
  • Agenda: Parade Rontek, pertunjukan seni budaya, pameran UMKM, dan berbagai atraksi budaya lainnya.

Festival Ronthek Pacitan 2026 menjadi bukti bahwa bunyi sederhana dari bambu yang dahulu lahir dari semangat gotong royong kini telah menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Pacitan, sekaligus denyut budaya yang terus menggema dari bumi 70 Miles of Sea Paradise.