Agoes Hendriyanto, Jurnalis di Era Hiperealitas

Agoes Hendriyanto, Jurnalis di Era Hiperealitas
Oleh: Agoes Hendriyanto
Kegiatan jurnalisme untuk menyebarkan informasi yang akan disajikan di media online, media elektronik maupun media cetak.  Masa hiperealitas yang jadikan sebuah realitas menjadi semu antara kebenaran dan ketidaakbenaran.  Kita sebagai manusia yang hidup di jaman tersebut setidaknya harus berperan dalam rangka untuk  membuka takbir kebenaran. Banyak sekarang ini yang mengaku semua benar.  Informasi bias tersebut banyak yang menjadi konsumsi khalayak.
Walaupun itu sulit kita lakukan.  Simulasi dalam dunia modernitas sekarang ini harus kita sikapi untuk terus mengambangkan potensi diri untuk terus mengoptimalkan semua potensi realitas.  Sebagai contohnya dalam masa pandemi Covid-19 kita harus mampu untuk bersikap untuk terus jalankan prokes di tengah warga yang tidak patuh.  Apalagi yang memberikan contoh tak patuh orang yang selama ini menjadi panutan.  Akhirnya banyak yang ragu terhadap ketokohan seseorang.  Namun ada yng ikuti apa yang dilakukannya.
Oleh sebab itu perbanyak literasi.  Namun kenyataannya rendahnya tingkat  literasi khalayak jadikan informasi menjadi bias.  Apalagi informasi yang tidak benar disebarkan melalui media online, media sosial akan jadikan  informasi jauh dari nilai kebenaran.
Apalagi diperparah dengan masa pandemi dijadikan alasan untuk pembenaran informasi yang tidak diverifikasi kebenarannya.
Sebagai insan jurnalis  kita harus punya komitmen untuk memberikan literasi warga untuk membuat berita yang benar.  Aktualisasi dan faktualitas senantiasa menjadi semangat jurnalis dalam menyampaikan informasi didasarkan pada realitas nyata.   Media online sebagai media massa depan harus didorong untuk menghasilkan karya jurnalistik yang bisa mengedukasi dan memotivasi dalam rangka bangkit dalam era new normal.

Jurnalisme berasal dari a journal arti catatan harian atas kejadian sehari-hari. Journal berasal bahasa Latin yaitu diurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik (Hikmat. K dan Purnama K, 2017; 32).

Effendi Siregar. A (2014; 234)   berpendapat jurnalisme adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan suatu peristiwa menggunakan media. Jurnalisme adalah kegiatan mengumpulkan, menilai, membuat, dan menyajikan berita dan informasi (Tara Susman-Peña, Mehri Druckman, and Nina Oduro, 2020: 9).

Seorang jurnalis harus selalu berpegang teguh pada sembilan eleemen jurnalisme Bill Kovach.  Siapa saja yang menyebarkan berita harus berpedoman pada kode etik jurnalisme media siber.
Bill Kovach menyarankan sembilan hal yang mesti dipegang teguh dalam melaksanakan kegiatan jurnalistik mereka. Sembilan hal tersebut adalah: (1) Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. (2) Loyalitas pertama jurnalisme adalah memenuhi hak mengetahui warga. (3) Intisari jurnalisme adalah disiplin dalam verifikasi. (4) Para wartawan harus menjaga independensi terhadap sumber berita. (5) Jurnalisme harus berfungsi sebagai pemantau kekuasaan. (6) Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga. (7) Jurnalisme harus berupaya membuat hal-hal penting menarik dan relevan. (8) Jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional (9) Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.
Objektivitas, keberimbangan dan netralitas pemberitaan pers merupakan hal yang mutlak tersaji dalam liputan pers nasional. Walaupun secara individu jurnalis ada yang berprofesi sebagai dosen, politisi, bahkan ASN namun independensi dalam menyajikan berita menjadi sebuah tantangan.
Pada prinsipnya pemberitaan yang nihil kepentingan politik, ekonomi bahkan kepentingan kekuasaan maupun kepentingan lainnya akan menghasilkan karya jurnalistik yang memberikan motivasi dan dorongan kepada khalayak untuk kemajuan dan kebermanfaatan bersama.  Terutama untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.   Dengan demikian, berita yang bersih dari sisipan kepentingan  diharapkan mampu melaksanakan proses pembelajaran proses kehidupan bermasyarakat dalam bingkai NKRI.
Generasi muda sebagai penerus bangsa harus dibekali dengan ilmu jurnalistik agar unsur faktualitas dalam hal ini kebenaran, akurasi, relevansi, serta kelangkapan unsur berita terpenuhi.  Selain itu juga mengajak generasi muda untuk tidak berpihak dan selalu menjaga netralitas dalam setiap kegiatan.  Sehingga apa yang kita sajikan meruapakan berita yang diharapkan oleh masyarakat berasal dari data yang akurat dan kredibel yang senantaisa menjunjung tinggi “cover both side”.
Mengelola mindset dan melakukan inovasi pengembangan produk ke arah digital salah satunya melalui media online memerlukan pengetahuan yang lebih di bidang jurnalistik.  Sembilan elemen jurnalisme Bill Kovach, aspek faktualitas berita,aspek  imparsialitas serta kode etik jurnaisme media siber dalam rangka memberikan informasi yang kredibel, akurat kepada khalayak .  “Sekolah Jurnalistik Mengenal Potensi Lokal dan Pengembangan Diri Siswa di Era New Normal sangat dibutuhkan, untuk pengembangan diri siswa sebagai tempat penyaluran bakat siswa dibidang penulisan.
Please follow and like us:

prabangkara press

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *