Analisis Puisi Karya Chairil Anwar “AKU”

Analisis Puisi Karya Chairil Anwar “AKU”
SHARE

AKU

Chairil Anwar  Maret 1943

Kalau sampai waktuku

Ku mau tak seorang’kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar adalah seorang sastrawan kenamaan Indonesia yang nmanay sudah sering kali disebut. Karya-karyanya pun banyak dikutip dan dipentaskan ulang oleh para seniman hingga kini. Chairil Anwar merupakan salah satu pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia. Beberapa karya Chairil Anwar juga banyak dicantumkan dalam buku teks pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dan yang paling terkenal adalah puisi “AKU”.

Baca Juga  Festifal Mentari, Cara Mengajak Masyarakat Banyuwangi Rawat Sumber Mata Air

Puisi “AKU” ditulis pada tahun 1943 oleh Chairil Anwar dan masuk pada karya sastra angkatan ’45. Pada angkatan ’45 ini berkembangnya karangan puisi dan berkurangnya karangan prosa. Adapun ciri-ciri dari karya sastra angkatan ’45, antara lain :

  1. —  Terbuka
  2. —  Pengaruh unsur sastra asing lebih luas
  3. —  Corak isi lebih realis, naturalis
  4. —  Individualisme  sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis
  5. —  Penghematan kata dalam karya
  6. —  Ekspresif
  7. —  Sinisme dan sarkasme
  8. —  Karangan prosa berkurang, puisi berkembang

Chairil Anwar menulis puisi “AKU” ini pada masa penjajahan Jepang yang isinyamempresentasikan mengenai keinginan untuk berjuang dan menolak penjajahan. Keterbukaan dalam pui “AKU” ini sangat menonjol, bahkan penggunaan majas hiperbola sangat terlihat pada bait Aku ini binatang jalang” menonjolkan pribadi Chairil Anwar makin nyata disana ia mencoba untuk nyata berada di dalam dunianya

Bahasa yang digunakan oleh Chairil Anwar pun pada saat itu bertentangan dengan penguasa pada masanya dan dipandang salah. Penghematan kata pada puisi tersebut juga sangat terlihat. Tidak begitu panjang namun terkesan realistis dan naturalis.

Baca Juga  Memperkuat Silaturahmi dan Spiritualitas: Khotmil Quran dan Bukber di STKIP PGRI Pacitan

Dalam puisi “AKU” ini Chairil Anwar memberikan pesan untuk terus berjuang melawan penjajah walaupun harus dibayar dengan nyawa. Bukan hanya itu, melalui puisi ini Chairil Anwar seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya rela untuk menjadi berbeda dan dipandang bersalah dan berkeyakinan bahwa akan tiba saatnya nanti karyanya tidak lagi dipandang salah.

Penulis: ELZZA & Puput Anita