Kinerja Perdagangan Periode Agustus Tercatat Angka Luar Biasa

Kinerja Perdagangan Periode Agustus Tercatat Angka Luar Biasa

Kinerja neraca perdagangan periode Agustus mencatat angka yang luar biasa dan sangat menyenangkan.

Aktivitas perdagangan Indonesia kini sudah mulai normal kembali. Kabar menggembirakan itu berkaitan dengan ekonomi negara ini bahwa neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus USD4,74 miliar pada Agustus 2021.

Seperti disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca dagang pada Agustus 2021 surplus USD4,74 miliar, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Surplus ini terutama ditopang oleh kinerja ekspor yang melesat di tengah kenaikan impor.

“Secara kumulatif Januari-Agustus 2021, neraca perdagangan telah membukukan surplus USD19,17 miliar,” ujar Kepala BPS Margo Yuwono, dalam konferensi pers, Rabu (15/9/2021).

Margo menjelaskan, ekspor pada Agustus 2021 mencapai USD 21,42 miliar, melesat 20,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya atau 64,1 persen dibandingkan pada Agustus 2020.

Sementara itu, impor tercatat USD16,68 miliar, naik 10,35 persen dibandingkan bulan lalu atau 55,26 persen dibandingkan bulan sebelumnya.  “Tren kinerja ekspor terus menunjukkan peningkatan sejak tahun lalu, atau surplus dibukukan secara beruntun dalam 16 bulan terakhir,” kata Margo.

Mendag Cukup Puas

Berkomentar soal kinerja neraca perdagangan, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun cukup semringah dengan pencapaian kinerja ekspor dan impor pada Agustus 2021.

“Saya menilai sangat memuaskan. Saya sebenarnya sudah mendapatkan data soal itu. Angkanya luar biasa dan sangat menyenangkan,” ujar Lutfi dalam webinar UOB Economic Outlook 2022, Rabu (15/9/2021).

Dia memaparkan, ekspor nonmigas pada Januari hingga Juli 2021 tumbuh luar biasa. Menurutnya, pertumbuhan tersebut dikarenakan adanya supercycle dari harga komoditas barang yang sangat tinggi.

Sementara itu, angka impor nonmigas pada Januari hingga Juli 2021 juga mengindikasikan ekonomi Indonesia sudah sangat baik. Pada periode itu, dia menjelaskan, data menunjukkan sebanyak 90 persen adalah impor untuk kepentingan bahan baku dan barang modal untuk industri.

“Sebanyak 90 persen dari impor kita itu adalah bahan baku, bahan penolong, dan juga barang modal. Hanya 10 persen impor saja yang barang konsumsi. Jadi jika kita melihat dengan impor yang berkualitas maka sebenarnya bahan baku, barang penolong kita itu untuk industrialisasi,” tuturnya.

Merujuk data BPS, ekspor migas naik 7,48 persen secara bulanan atau melesat 77,93 persen secara tahunan menjadi USD1,07 miliar. Dari ekspor itu, sumbangan ekspor nonmigas naik 21,75 persen secara bulanan atau 63,43 persen secara tahunan menjadi USD20,36 miliar.

Membaiknya kinerja ekspor tak lepas dari tren kenaikan harga sejumlah komoditas yang masih berlanjut pada bulan lalu. Sejumlah komoditas itu adalah harga batu bara naik 11,04 persen, minyak kelapa sawit 6,85 persen, dan kernel oil 4,66 persen. Kenaikan harga juga terjadi pada alumunium, timah, dan nikel.

Sementara itu, penurunan harga produk tambang tembaga sebesar 0,85 persen, emas 1,25 persen, dan minyak mentah Indonesia atau ICP 6,06 persen.

Akibat harga yang cukup bagus dari sektor pertambangan dan lainnya, telah mendongkrak ekspor produk itu yang tumbuh signifikan hingga 162,89 persen (yoy) menjadi USD3,64 miliar. Secara bulanan, pertumbuhannya mencapai 27,23 persen (month-to-month/mtm).

Data BPS juga menyebutkan ekspor industri pengolahan juga naik 20,67 persen secara bulanan atau 52,62% secara tahunan menjadi USD16,37 miliar. Adapun ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 17,89 persen secara bulanan. Namun, secara tahunan mengalami penurunan 0,42 persen menjadi USD0,34 miliar.

Berdasarkan golongan barang berdasarkan kode HS dua digit, kenaikan ekspor terutama terjadi pada kelompok lemak dan minyak hewani/nabati USD1,54 miliar, bahan bakar mineral USD 573 juta, serta biji, logam, terak, abu USD213 juta.

Bila dilihat dari negara tujuan ekspor, beberapa negara tujuan ekspor utama, seperti Tiongkok, mengalami kenaikan ekspor yang cukup besar mencapai USD1,2 miliar, India USD759 juta, dan Jepang USD435 juta.

Sedangkan penurunan ekspor terjadi ke negara tujuan Kamboja, Georgia, dan Polandia. BPS mencatat ekspor secara kumulatif mencapai USD142,01 miliar, naik 37,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Harapan pencapaian kinerja neraca perdagangan itu terus berlanjut hingga akhir tahun dan tahun-tahun mendatang sehingga ekonomi bangsa ini kembali bergeliat dan bergairah.

Penulis: Firman Hidranto

Please follow and like us:

prabangkara press

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *