Keindahan Pesona Alam Pantai “Watu Karung” Pacitan

Keindahan Pesona Alam  Pantai “Watu Karung” Pacitan
SHARE

Oleh: Desi Savitri

Tidak dapat kita pungkiri Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Terbukti dengan banyaknya hamparan laut, sungai, pantai dan pegunungan ataupun destinasi alam lainnya. Hal itu patut kita syukuri karena kita memiliki daya tarik wisata yang cukup besar. Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan.

Pulau Jawa salah satu pulau di Indonesia dan juga merupakan pulau terbanyak yang memiliki tempat wisata di Indonesia. Tentunya kita sudah sangat mengetahui bahwa pulau Jawa memiliki potensi-potensi wisata yang sangat besar terbukti dari terus meningkatnya wisatawan yang datang tiap tahunnya. Kekayaan alam di pulau jawa yang sangat terkenal adalah pegunungan, lautan, dan ada juga tempat-tempat bersejarah lainnya. Keindahannya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung untuk liburan atau melepas kejenuhan.

Pada salah satu kota yang biasa kita sebut kota 1001 Goa. Kota Pacitan memiliki daya tarik wisata yang cukup tinggi. Tidak hanya goa yang tersebar di beberapa desa,di Kab. Pacitan juga memiliki tempat destinasi wisata.  Dengan memanfaatkan keindahan alam berupa  sungai, tebing-tebing dan juga pantainya yang elok dipandang mata.

Pantai merupakan batas antara wilayah daratan dengan wilayah lautan. Daerah daratan merupakan daerah yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan dimulai dari batas garis pasang tertinggi. Di kota Pacitan sendiri tersebar destinasi wisata alam  pantai.  Salah satunya pantai Watu Karung yang terletak di Dusun Ketro, Desa, Watu Karung,  Kecamatan Pringkuku, Kab. Pacitan.

Pantai Watu Karung  terbilang cukup jauh dari pusat kota namun karena beragam keindahannya tidak menyurutkan wisatawan yang ingin berkunjung ke pantai Watu Karung. Pantai ini juga di sinonimkan atai dipadankan dengan sebagai Raja Ampatnya Pacitan. Karena kemiripan pantai Watu Karung  dengan Raja Ampat di Papua yang juga dikelilingi oleh batu-batu karang yang cukup besar .

Baca Juga  Tradisi dan Kepercayaan Unik Wong Samin Menjadi Topik Perbincangan di RRI Surakarta

Pantai Watu Karung mempunyai hamparan pasir yang berwarna putih bersih ditambah lagi dengan air lautnya yang berwarna biru kehijauan dan pulau-pulau karang serta pohon pinus yang ada di kawasan pantai ini semakin mempercantik pemandangan di pantai ini. Selain itu pantai Watu Karung juga menawarkan ombak kelas dunia untuk para pecinta selancar, bayangkan saja ombak di sini mampu mencapai ketinggian 4 meter. Dengan ombak yang cukup bagus tak heran peselancar kelas dunia macam jawara dunia Bruce Irons tertarik mencoba berselancar di sini.

Kozak dan Rimmington dalam Huh (2002) menjelaskan, kepuasan wisatawan (tourist satisfaction) mempengaruhi wisatawan dalam memilih destinasi, mengonsumsi produk dan jasa, serta keputusan berkunjung kembali.

Sedangkan  teori The Expectancy Disconfirmation, puas atau tidak puasnya wisatawan terhadap produk dan jasa ditentukan oleh proses evaluasi wisatawan dengan membandingkan persepsi hasil suatu produk dengan standar yang diharapkan wisatawan (Payangan, 2014).

Menurut Laws dalam Naidoo et al., (2010) bahwa persepsi wisatawan dalam mengkonsumsi produk dan jasa selama wisatawan berkunjung ke beberapa destinasi akan dipengaruhi oleh perbedaan faslitas, daya tarik wisata, dan playanan di masing-masing destinasi.

Terbukti Pantai Watu karung ini cukup membuat wisatawan puas dengan destinasi yang disuguhkan. Berkat Bruce dan fotonya yang sedang berselancar di Pantai Watu Karung dijadikan cover salah satu majalah internasional terkemuka Waves, banyak sekali pecinta ombak dan selancar yang kemudian tertarik lalu datang ke tempat indah ini. Deretan karang berjejer menambah keindahan dari pantai ini. disamping hal-hal tersebut terdapat juga pepohonan hijau yang melengkapi elemen-elemen keindahan dari tempat ini. Ombak besar yang berada di pantai watu karung akan tepat berhenti di bibir pantai dan tidak akan menyeret para wisatawan ke tengah laut, jadi para wisatawan tidak perlu khawatir dan bisa bermain pasir di pantai Watu Karung.

Baca Juga  Perlunya Terus Melestarikan dan Mengembangkan Seni Budaya di Pacitan

Selain ombaknya yang menjadi daya tarik wisatawan pantai Watu Karung Pacitan juga termasuk sejumlah pulau karang di lepas pantainya. Tersebutlah satu di antaranya yang unik sehingga diberi nama “Putri Samudera”. Bentuknya seolah menggambarkan wajah perempuan memakai mahkota dengan rambut yang terurai panjang. Wajahnya menghadap ke samudera. Sementara itu Desa Watukarung sebagai tempat pantai ini berada juga mencakup Sungai Cokel. Sebuah sungai berair jernih yang bersumber dari Goa Luweng Jaran. Nuansa alaminya menenangkan dengan jajaran pohon kelapa menghias tepiannya. Secara terpisah Sungai Cokel sebagai wisata susur sungai.

Fasilitas yang ada di Pantai Watu Karung sudah memadai. Di mulai dengan adanya fasilitas seperti Mushola, warung penjual makanan dan minuman, toilet dan lahan parkir. Untuk akomodasi, sudah ada beberapa jenis penginapan di sekitar pantai seperti homestay, guest house, villa, dan resort. Jika ingin berkemah, bisa juga mendirikan tenda. Di sebelah timur pantai ini juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Di sana Anda bisa membeli ikan segar dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran untuk oleh-oleh atau dibakar sebagai sajian di pinggir pantai. Apabila ada keinginan memancing ke tengah laut, bisa menyewa perahu dari nelayan sekitar.

Tentunya tersedianya fasilitas yang memadai di dukung dengan pengelolaan pemerintah daerah juga masyarakat setempat yang senantiasa menjaga tempat destinasi tetap lestari. Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu adalah suatu pendekatan pengelolaan wilayah pesisir yang melibatkan dua atau lebih ekosistem, sumber daya, dan kegiatan pemanfaatan (pembangunan) secara terpadu guna mencapai pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan.

Dalam hal ini keterpaduan mengandung tiga dimensi: sektoral, bidang ilmu, dan keterkaitan ekologis. Keterpaduan secara sektoral berarti bahwa perlu ada koordinasi tugas, wewenang dan tangggung jawab antar sector atau instansi pemerintah. Keterpaduan dari sudut pandang keilmuan mesyarakatkan bahwa di dalam pengelolaan wilayah pesisir hendaknya dilaksanakan atas dasar pendekatan interdisiplin ilmu yang melibatkan bidang ilmu: ekonomi, ekologi, teknik, sosiologi, hukum dan lainnya yang relevan.

Baca Juga  PPLP PT PGRI Pacitan, Selamat Tim Voli Putra STKIP PGRI Pacitan Raih Juara 1 di PPIM Volleyball Cup 2024

Mengingat bahwa suatu pengelolaan terdiri dari tiga tahap utama: perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi maka keterpaduan tersebut perlu diterapkan sejak tahap perencanaan sampai evaluasi. Dengan salah satu pesona Indonesia yang berada dipulau Jawa tepatnya berada di kota pacitan ini tentunya kita harus bangga memiliki Negara yang elok dengan kekayaan alamnya. Dan juga sebagai masyarakat kita juga harus turut serta dalam menjaganya.

DAFTAR PUSTAKA

https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5073720/pantai-watu-karung-pacitan-raja-ampatnya-jawa-timur

Diarto, Hendrarto, B., dan Suryoko, S. (2012). Partisipasi Mayarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Kawasan Hutan Mangrove Tugurejo di Kota Semarang. Jurnal Ilmu Lingkungan, Vol 10 Issue 1 : 1-7 Tahun 2012. Semarang.

Dirhamsyah. (2006). Pengelolaan Wilayah Pesisir Terintegrasi di Indonesia. Jurnal Oseana, Vol XXXI Nomor 1 Tahun 2006 : 21-26. Bogor. Sumber : www.oseanografi.lipi.go.id. Diakses pada tanggal 26 September 2013.

Djunaedi, A., dan Basuki, M.N. (2002). Perencanaan Pengembangan Kawasan Pesisir. Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol 3 Nomor 3, September 2002 : 225-231. Yogyakarta.

Muljadi, A. J. dan Warman Andri. 2014. Kepariwisataan dan Perjalanan. Jakarta: Rajawali Pers.

Pitana, I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta:Andi. Suryadana, M. Liga dan Vanny Octavia. 2015. Pengantar Pemasaran Pariwisata.

Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2009. “Undang-Undang Republik Indonesia No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan”, diakses pada tanggal 20 Februari 2016 dari http://www.peraturan.go.id/ uu/nomor-10- tahun-2009.html

Yoeti, Oka A. 2008. Ekonomi Pariwisata: Introduksi, Informasi, dan Aplikasi. Jakarta: Kompas

Angkasa Zaenuri, Muchamad. 2012. Perencanaan Strategis Kepariwisataan Daerah: Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: e-Gov Publishing.