Prof Dr. Suminto A. Sayuti, Hidup Harus kita Jalani

Prof  Dr. Suminto A. Sayuti, Hidup Harus kita Jalani
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM || YOGYAKARTA – Prof. Dr. Suminto A. Sayuti adalah seniman yang  lahir di Purbalingga  66 tahun silam. Ayahnya seorang pensiunan guru namun berhasil untuk menyekolahkan anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang unggul.  Namanya dikenal melalui sejumlah karya sastra, baik yang diterbitkan sebagai buku ajar maupun dipublikasikan di berbagai  media masa. Hidup harus selalu kita jalani apapaun bentuk dan wujudnya.

Kepada jurnalis Prabangkaranews hariKamis (28/7/2022) memberikan nasihat, (lakoni wae hidup iki)  hidup harus selalu kita jalani berat maupun ringan. Prof Suminto dengan penampilan yang selalu rapi selalu memberikan motivasi hidup kepada jurnalis untuk selalu optimis menjalani kehidupan ini.

Suminto Guru Besar UNY banyak sekali karya sastra seperti; Kumpulan Sajak Malam Tamansari; Resepsi Sastra; Intertekstualitas: Pemandu Pengkajian Sastra; Ensiklopedia Sastra Indonesia; Evaluasi Teks Sastra (2000, terjemahan The Evaluation of Literary Texts karya Rien T. Segers); Semerbak Sajak (2000); Berkenalan dengan Prosa Fiksi (2000); Berkenalan dengan Puisi (Gama Media, 2002)

Baca Juga  Gugus 01 Tulakan Pacitan, Borong Juara di Lomba Siswa Berprestasi

Profesor Suminto A. Sayuti merupakan salah satu  guru besar  di Fakultas Bahasa dan Seni dan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Selain menguji calon Doktor di UNY juga dimintamenjadi penguji Disertasi di IB, Universitas Brawijaya, UGM, ISI dan kampus ternama di Indonesia.  Banyak sekali bimbingannya kini yang telah menduduki jabatan di lembaganya masing-masing.

Kepada jurnalis Prof Sumninto berpesan bahwa kita dalam hidup apapun harus kita lakoni artinya betapaun berat kehidupan kita harus tetap kita jalani jangan putus asa Insya Allah , akan dibukakan jalan oleh Tuhan Yang Maha Esa; hidup harus kita jalani dengan ikhlas, hidup harus selalu kita syukuri apapaun capaian yang telah kita raih, dan selalu perbanyak ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga  Tradisi Lisan Ki Ageng Bandung di Desa Hadiluwih, Ngadirojo (Indonesiana 2025)

Pada dekade 1970-an saat tergabung dengan komunitas Persada Studi Klub Yogyakarta, namanya tidak pernah absen dalam forum-forum diskusi sastra maupun pementasan-pementasan puisi dan teater.  Prof Suminto juga mendapatkan  penghargaan seperti; Kedaulatan Rakyat Award, Bidang Kebudayaan tahun 2005, dan Anugerah Sastra Yayasan Sastra Yogyakarta tahun 2014.

Di kalangan seniman Yogyakarta, Suminto dikenal sebagai pemuda “bengal” yang tidak pernah puas dengan ilmu yang didapat. Bersama Almarhum Umar Khayam, Prof. Faruk Guru Besar UGM, Prof.Andrik Purwasito;   Emha Ainun Najib serta teman-teman seperjuangan sering melakukan orum-forum diskusi sastra maupun pementasan-pementasan puisi dan teater bersama  Persada Studi Klub Yogyakarta.

Proses kreatifnya dimulai dari kegemarannya membaca dan menulis sejak kecil. Semakin tersihir oleh dunia sastra sejak masuk Yogyakarta sekitar 1974. Sejak bergabung dengan komunitas Malioboro, mulailah ia menancapkan kukunya di dunia sastra.

Baca Juga  Menbud Apresiasi Film “No Other Land” dan Peran Industri Kreatif

Suminto guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini, juga menggeluti seni karawitan dan menggagas serta pengurus Masyarakat Karawitan Jawa. Ratusan karya lahir darinya, baik berupa makalah, diktat, buku, kumpulan puisi, cerita pendek, esai sastra, dan sebagainya.

Prof Suminto capkan syukur Alhamdulillah diberikan kesembuhan dari penyakit Stroke.  Beliau 2 tahun yang lalu terserang penyakit Stroke dan sekarang sudah mulai pulih.  Alhamdulillah telah diberikan kehidupan berupa panjang umur dari Tuhan Yang Maha Esa.

“Semoga Prof Suminto selalu diberikan kesehatan untuk melahirkan sosok budayawan yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal Jawa,” jelas penulis. (*)