Asal-usul Seni Tradisional Tetek
PRABANGKARANEWS.COM || Pada umumnya asal-usul musik tradisional tidak ada yang bisa menyebutkan secara valid kapan musik tradisional pertama kali diciptakan dan sulit untuk memastikan subjek penciptanya. Tahun 1966, berbagai seni tradisional di Pacitan mulai marak pada saat Kabupaten dipimpin oleh Bupati Pacitan Tedjo Sumarto, yakni sekitar tahun 1966-an.
Pada masa itu seni budaya yang berkembang di Kabupaten Pacitan antara lain seni pertunjukan ketoprak dan wayang orang. Kedua seni tradisional itu sering
dipertunjukkan pada acara di sekolah, balai desa, atau pada acara-acara lainnya di wilayah Kabupaten Pacitan.
Tahun 1960-an Pacitan masih dikenal sebagai wilayah yang terpencil sehingga alat musik belum dapat dijangkau. Untuk musik pengiring kedua seni tersebut masih menggunakan alat musik mulut, dengan iringan benda yang menimbulkan bunyi. Tentu saja bunyi dan irama yang dihasilkan tidak sebagus yang dihasilkan oleh alat musik gamelan. Namun kegiatan berkesenian tersebut tetap berlangsung dengan suka cita dan kegembiraan. Hal itu sesuai dengan salah satu fungsi musik, yakni bisa membawa rasa bahagia sehingga rasa lelah, murung, dan gelisah bisa hilang.
Dampak itu juga dirasakan oleh pemain maupun penikmat seni tersebut. Sekitar tahun 1960-an hingga tahun 1970-an kegiatan seni budaya dengan memanfaatkan potensi lokal sangat gencar dilakukan baik pemerintah maupun oleh masyarakat. Karena gamelan sebagai perangkat yang mengiringi pertunjukan Ketoprak dan Wayang Orang pada waktu itu harganya mahal, dibuatlah musik pengiring yang terbuat dari bambu bermacam ukuran yang dilobangi tengahnyadengan bentuk persegi untuk menimbulkan bunyi berirama.
Pada masa selanjutnya alat musik tersebut disebut dengan tetek. Disebut tetek karena suara yang dihasilkan terdengar tek..tek..tek. Gotong royong, kerjasama, serta setia kawan menjadi landasan dasar dalam pembuatan tetek sampai pelaksanaan latihan menjelang bulan Ramadhan. Remaja Masjid mempersiapkan tetek yang terbuat dari bamboo ori menjadi bentuk kentongan kecil yang terbuat dari bambu dengan variasi lubang dengan berbagai ukuran yang biasa dilakukan oleh semua anggota tim rontek.
Kemudian tali yang dipergunakan untuk mengalungkan tetek pada leher tiap-tiap pemain untuk memudahkan proses latihan dan pertunjukan seni musik rontek. Selain itu juga rontek alat musik yang biasa dipergunakan untuk ronda malam atau siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan) sebagai hasil akulturasi budaya kenthongan dari kayu.
Alat pemukul tetek bisa terbuat dari kayu maupun belahan bambu yang didesain sedemikian rupa. Besar-kecilnya alat penabuh, jenis bambu, serta besar-kecilnya celah yang dibuat menjadi salah satu faktor pembeda suara yang dihasilkan oleh tetek.
Pembuatan tetek bagi masyarakat Pacitan tidak menempuh cara yang rumit. Tanaman bambu yang melimpah di tengah-tengah masyarakat Pacitan. Pembuatan
tetek sangat marak, terutama dilakukan oleh pemuda pada saat akan memasuki bulan Ramadan. Mereka terbiasamencari Bambu yang dipergunakan untuk membuat alat musik “Tetek”.
Sumber: Indartato dkk. 2021. Rontek Seni Ikonik Masyarakat Pacitan. Nata Karya: Ponorogo
