Kemarau Berkepanjangan Membuat Peternak Kambing dan Sapi di Pacitan Kesulitan Memenuhi Kebutuhan Pakan
PRABANGKARANEWS || Pacitan sedang menghadapi musim kemarau yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Musim kemarau yang berlarut-larut ini berdampak serius pada para peternak kambing dan sapi di Plapar 2, Jatigunung, Tulakan. Mereka mengalami kesulitan mencari pakan hijau segar untuk ternak mereka, seperti rumput segar, karena ketersediaannya semakin berkurang akibat cuaca panas yang berkepanjangan.
Kondisi rumput yang mengering dan kualitasnya yang menurun drastis membuat peternak terpaksa memberikan pakan yang kurang memadai kepada ternak mereka. Harga rumput pun mengalami kenaikan signifikan, sehingga peternak harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli pakan. Akibatnya, sebagian peternak beralih ke alternatif seperti damen (jerami kering) untuk memberi makan ternak mereka.
“Biasanya, rumput ini dijual dengan harga yang sekitar Rp 15.000 per ikat. Namun, akibat berlanjutnya musim kemarau, harga tersebut kini mencapai Rp 20.000 per ikat”, tegas Wasito kepada jurnalis hari Jum’at (3/11/2023).
Ternak yang semakin kurus akibat kualitas pakan yang rendah selama musim kemarau dapat menjadikan harga jualnya menurun. Dengan sapi yang kurus, peternak mengalami kesulitan dalam menemukan pembeli yang bersedia membayar dengan harga yang wajar.
Namun, penggunaan damen (jerami kering) sebagai pakan ternak tidak sama efektifnya dengan rumput hijau, dan ternak menjadi kurang doyan. Kesulitan finansial peternak dan kualitas pakan yang rendah selama musim kemarau mengakibatkan ketidakpastian ekonomi bagi mereka, serta kekhawatiran akan menurunnya harga jual ternak mereka yang kurus. (Febriani C)
