“Griyo Rumah Demang Punung” Bukti Pengetahuan Pembuatan Rumah Telah Berkembang di Pacitan
PRABANGKARANEWS || PACITAN – Griyo Demang Punung, Desa Kebon, Punung, Kecamatan Punung, Pacitan. Pada abad ke-18 M, di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Griyo Demang Punung, terdapat sebuah praktik unik dalam pembangunan rumah. Pada masa itu, banyak kalangan masyarakat yang memiliki kemampuan khusus mampu membuat lantai rumah dari batu alam. Lantai ini terbuat dari batu kapur yang dipotong secara manual dalam ukuran sekitar 20 x 20 cm.
Batu kapur yang digunakan tersebut diatur secara teratur, dan penggunaan teknik sederhana seperti penaburan pasir di antara batuan ini membuat lantai rumah terlihat sangat sederhana. Namun, lantai ini memiliki beberapa manfaat yang unik.
Batu kapur tersebut, dengan kepadatan dan sifat termalnya, membantu meredam hawa dingin yang menyengat. Maka dari itu, berada di dalam rumah dengan lantai dari batu kapur ini memberikan rasa hangat, terutama saat cuaca dingin. Keunggulan lainnya adalah jika ada hewan melata seperti lintah, mereka dapat mati dengan cepat saat berada di atas lantai batu kapur ini karena suhu panas dan kekeringan yang dihasilkan oleh batu tersebut.
Perawatan lantai batu kapur ini pun sangat sederhana. Cukup dengan menyapu dan jika perlu, menyiramnya. Jika ada kerusakan, bagian yang rusak dapat diambil dan diganti dengan bagian yang masih baik dengan cara mencongkel lantai tersebut. Hal ini membuat lantai batu kapur mudah perawatannya dan memiliki sifat abadi.
Rumah dengan lantai batu kapur ini bukan hanya menjadi saksi sejarah dalam hal pembangunan rumah, tetapi juga mencerminkan adat dan adab Bumi Jawa yang penuh misteri. Keterampilan dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk tujuan praktis, seperti menciptakan lantai yang berfungsi sebagai pengatur suhu alami dan perlindungan terhadap hewan melata, adalah bagian dari warisan budaya yang tak ternilai.
Semua ini mencerminkan pemahaman bahwa semua hal dalam hidup ini adalah berkah dari Tuhan Yang Maha Esa, untuk keluarga, rakyat, dan generasi penerus, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, serta keselarasan antara bumi dan langit.
Penulis: Amat Taufan
