Nilai Fisofofi Wayang Beber Jagong 12 “Pertarungan Tawangalun Melawan Kebo Lorodan”

Nilai Fisofofi Wayang Beber Jagong  12 “Pertarungan Tawangalun Melawan Kebo Lorodan”
SHARE

WAYANG BEBER (PRABANGKARANEWS) – Wayang Beber Tawangalun, Pacitan yang disungging oleh manusia hasil dari cipta rasa, dan karsa yang tertera pada gulung 1 ydengan bunyi candra sengkala “Gawe Srabi Jinamah Wong” diartikan 1614 saka atau dibuat masehi ditambahkan 78 menjadi 1692 M. Koentjaraningrat mendefinisikan budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa.  Oleh sebab itu Wayang Beber Tawangalun, termasuk dalam 10 Objek Pemajuan Kebudayaan sesuai yang diamanatkan UU Nomor 5 tahun 2017.

Wayang Beber Tawang Alun, hasil karya agung Sungging Prubengkara, merupakan warisan seni yang luar biasa. Karya ini tidak hanya mengisahkan cerita Panji tetapi juga menjadi dokumentasi peristiwa-peristiwa penting pada zamannya. Dengan candra sengkala “Gawe Srabi Jinamahing Wong”, gulungan pertama pada jagong keempat memiliki arti mendalam yang berhubungan erat dengan jagong ketiga dalam kisah tersebut.

Candra sengkala ini melambangkan tahun Jawa 1614 atau 1692 Masehi, yang digambarkan melalui adegan seorang pria menyentuh wanita penjual serabi di pasar. Tahun tersebut  awal masa kritis di Kerajaan Mataram Kartasura, ketika intervensi VOC Belanda memicu konflik internal yang dikenal sebagai Peristiwa Pecinan. Peristiwa Geger Pecinan adalah pemberontakan yang terjadi di Kartasura pada tahun 1740-1743 M. Peristiwa ini melibatkan pasukan Tionghoa yang bersekutu dengan pasukan Jawa melawan VOC. Pemberontakan ini menyebabkan kerusakan yang luas di Kartasura dan perpindahan ibu kota kerajaan dari Kartasura ke Surakarta. 

Baca Juga  Janji Turunkan Bansos, Suku Anak Dalam Jambi: Bu Risma ke Sini Janji Doang

Lakon Joko Kembang Kuning dalam Wayang Beber Tawang Alun menampilkan kisah Panji Inukertapati dari Kediri, yang merefleksikan keagungan budaya Majapahit dengan nilai-nilai luhur yang tetap lestari. Karya ini tidak hanya menonjolkan kemampuan seni Sungging Prubengkara tetapi juga menunjukkan kebijaksanaannya dalam menyatukan seni, spiritualitas, dan sejarah.

Tetenger ini menjadi bukti perjalanan panjang seni tradisional Indonesia sekaligus mencerminkan perubahan sosial-politik yang terjadi pada masanya. Usia Wayang Beber Tawang Alun yang sudah sangat tua—diciptakan pada akhir era Majapahit dan disempurnakan oleh Sunan Kalijaga—membuat upaya duplikasi menjadi sangat penting untuk melestarikan warisan budaya ini bagi generasi mendatang.

Tri Hartanto sebagai salah satu pelestari Wayang Beber Tawangalun, Rabu 11 Juni 2025 akan melaksanakan launching buku Wayang Beber dan pertunjukan replika Wayang Beber jagong 1, 2 yang merupakan kerjasama dengan Dana Indonesia, Kementerian Kebudayaan, yang didanai oleh LPDP.

Dalam Cerita 12 Gulungan 3, Tawangalun dan Kebo Lorodan bersiap untuk bertarung di arena yang telah disiapkan. Raja Klana Sewandana, setelah memperhatikan kekuatan Kebo Lorodan, memutuskan untuk mengirimkan ratusan prajurit sebagai pendukungnya melawan Tawangalun.

Sebelum pertarungan dimulai, Raja Klana Sewandana berusaha mempengaruhi Kebo Lorodan agar lebih cermat memantau kondisi Tawangalun. Namun, Tawangalun yang tetap waspada dari kejauhan, mampu mengantisipasi langkah ini dan memahami keadaan serta strategi Kebo Lorodan.

Pertarungan sengit pun berlangsung. Dalam duel tersebut, Kebo Lorodan berhasil mengalahkan Tawangalun. Akibatnya, Tawangalun mengalami luka parah yang membahayakan keselamatannya.

Baca Juga  Topeng Jatiduwur: Kisah Mistis dalam Goyangan Budaya Jombang

Kondisi Tawangalun yang terluka berat membuatnya memerlukan perawatan segera. Kekalahan ini menjadi pukulan berat bagi Tawangalun, namun perawatan medis harus dilakukan untuk memastikan pemulihan kesehatannya.

Cerita ini menampilkan dinamika kekuatan, strategi, dan pentingnya keberanian meski dalam situasi genting. Kekalahan Tawangalun memberikan pesan bahwa setiap perjuangan membutuhkan kesiapan fisik dan mental, sekaligus menunjukkan sisi kemanusiaan dalam menjaga kehidupan meskipun dalam kondisi sulit.

Tradisi Wayang Beber melalui cerita ini menggambarkan nilai perjuangan dan kepedulian, yang terus relevan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Versi Bahasa Jawa jagong  12 gulungan 3 sebagai berikut: ing gelanggang tandhing antawis Kebo Lorodan lan Tawangalun, padha dipunwetengake. Raja Klana Sewandana, sawise mriksa kakuwatanipun Kebo Lorodan, milih tumrap ratusan prajurit kang nggadhahi nggawi Tawangalun. Ing gelanggang tandhing menika, Raja Klana Sewandana mbujuk Kebo Lorodan supaya ningali kahananipun kahanan Tawangalun.

Nanging, Tawangalun, kang wonten ing posisi saka tanggul woneng prabu, tanggap menika lan sae meni, nyritakake Kebo Lorodan. Pungkasanipun, Kebo Lorodan menang kaliyan cekak Tawangalun, sing pethak kanggo urip marang tatu kang ageng lan pungkasanipun dhaptaraken kanggo dipunobati. Tawangalun ingkang kalah kasekten kenging tatu ingkang ageng saha kedhah dipunobati rumiyin

Wayang Beber: Jejak Konflik, Cinta, dan Nilai Hidup Orang Jawa

Wayang Beber bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan refleksi nilai dan falsafah hidup yang dalam. Dalam kisahnya, konflik yang terjadi digambarkan secara nyata melalui perang tanding antara Tawangalun—yang mewakili tokoh Panji Inu Kertapati—melawan Kebo Lorodan, sosok yang mewakili Prabu Klana Sewandono.

Baca Juga  Pintu Keberanian: Membuka Jalan Menuju Kesuksesan

Konflik ini tak lahir dari permusuhan semata, melainkan dilatarbelakangi oleh kisah cinta sejati antara Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji. Sebuah kisah yang melampaui masa, tentang cinta yang tulus dan perjuangan menjaga kehormatan.

 Nilai-Nilai Luhur yang Melekat

Di balik cerita cinta dan peperangan itu, Wayang Beber menyampaikan pesan mendalam:

  • Keikhlasan dalam hidup

  • Jiwa satria yang tetap teguh meski dalam tekanan

  • Empati dan kasih sayang

  • Sikap saling membantu dan menghargai sesama

Nilai-nilai luhur ini bukan hanya bagian dari masa lalu. Ia adalah warisan jiwa yang seharusnya terus tumbuh dan hidup di sanubari kita, terlebih sebagai masyarakat Pacitan dan bangsa Jawa. Jiwa ksatria bukan berarti menang dengan segala cara, tetapi berani menjaga kehormatan, kebenaran, dan kemanusiaan.

Hidup: Perjalanan Roh dan Raga

Pada akhirnya, hakikat hidup adalah penyatuan antara roh dan jasad. Ketika saatnya tiba, roh akan melanjutkan perjalanan suci menuju keabadian di sisi Allah SWT. Sementara jasad akan kembali ke tanah, tempat ia berasal.

Maka selama hidup, mari kita jaga nilai dan laku kita—agar saat roh meninggalkan raga, ia membawa cahaya, bukan beban.

Sumber: Tri Hartanto, Agoes Hendriyanto. (2025). Wayang Beber Tawangalun, Donorojo, Pacitan. Nata Karya: Ponorogo.