Seni Batu Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi, Berusia Hampir 68 Ribu Tahun

Seni Batu Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi, Berusia Hampir 68 Ribu Tahun
SHARE

PRABANGKARANEWS – Para ilmuwan mengidentifikasi seni batu tertua yang pernah diketahui di dunia berupa stensil tangan berwarna merah yang telah memudar, berusia setidaknya 67.800 tahun. Temuan ini berada di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Nature pada 21 Januari 2026 dan mendorong mundur asal-usul ekspresi seni manusia jauh sebelum berkembangnya seni prasejarah di Eropa, sekaligus mengubah pemahaman global tentang prasejarah manusia, dilansir dari @seasia.news Jum’at (23/1/26).

Penelitian ini dipimpin oleh Adhi Agus Oktaviana dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama Maxime Aubert dari Griffith University. Keduanya menjelaskan bahwa stensil tangan di Sulawesi ini berusia sekitar 16.600 tahun lebih tua dibandingkan seni gua yang sebelumnya telah diberi penanggalan di kawasan Maros–Pangkep. Temuan tersebut juga sekitar 1.100 tahun lebih tua dari stensil tangan serupa di Spanyol yang kerap dikaitkan dengan Neanderthal, sehingga menegaskan tingkat kognisi Homo sapiens awal di kepulauan Indonesia pada kala Pleistosen Akhir.

Baca Juga  Political and Public Policy Studies (P3S) Menggelar Webinar Bertajuk “Penggalian Fosil Komunisme Untuk Kepentingan Politik"

Dalam penelitian ini, para peneliti mensurvei 44 situs gua di Sulawesi Tenggara dan berhasil menentukan usia minimum secara pasti terhadap 11 motif seni batu, termasuk tujuh stensil tangan. Penanggalan dilakukan menggunakan metode uranium-series melalui laser-ablation pada endapan kalsit atau “cave popcorn” yang terbentuk di atas lukisan. Teknik ini mengukur peluruhan uranium menjadi thorium untuk menetapkan usia minimum karya seni secara andal.

Stensil tangan tersebut dibuat dengan cara menempelkan tangan ke dinding gua lalu menyemprotkan pigmen oker merah di sekelilingnya. Menariknya, salah satu jari tampak runcing menyerupai cakar hewan—sebuah ciri gaya yang tidak lazim di Sulawesi. Detail ini menunjukkan bahwa seniman prasejarah kemungkinan telah mampu memodifikasi bentuk tubuh manusia secara imajinatif, mengisyaratkan adanya pemikiran simbolik dan kapasitas kreatif yang sebanding dengan figur therianthrope yang berasal dari sekitar 51.200 tahun lalu.

Baca Juga  Saat HASIL PERTAMA Pemilihan Amerika Dihitung, Kemenangan Trump & Biden di New Hampshire Memicu Keributan Online

Selain mencatat rekor usia tertua seni batu di dunia, penemuan ini memperkuat teori jalur migrasi Homo sapiens dari Asia menuju Australia. Pulau-pulau seperti Sulawesi diduga menjadi koridor penting menuju Papua Nugini dan daratan Sahul selama zaman es. Temuan ini sekaligus menempatkan Asia Tenggara sebagai salah satu pusat awal perkembangan seni manusia, jauh sebelum gua-gua ikonik Eropa seperti Lascaux dikenal dunia.