Jejak Awal Peradaban Pacitan: Dari Budaya Pacitanian hingga Mbah Sayem di Song Terus (Dana Indonesiana 2025)

Jejak Awal Peradaban Pacitan: Dari Budaya Pacitanian hingga Mbah Sayem di Song Terus (Dana Indonesiana 2025)
Jejak Awal Peradaban Pacitan: Dari Budaya Pacitanian hingga Mbah Sayem di Song Terus (Dana Indonesiana 2025)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, OPK PACITAN – Sejarah dan asal-usul Pacitan tidak terlepas dari beragam cerita, mitos, dan legenda yang berkembang di masyarakat. Meskipun bersifat tutur lisan, berbagai kisah tersebut saling berkaitan dan memiliki pijakan historis yang cukup kuat. Jejak awal kehidupan di Pacitan dapat ditelusuri sejak masa praaksara, yang menunjukkan bahwa wilayah ini telah dihuni manusia sejak zaman berburu dan meramu. Hal ini dibuktikan melalui penemuan berbagai alat batu sederhana yang digunakan sebagai perlengkapan kerja manusia purba.

Pengakuan Pacitan sebagai kawasan penting dalam kajian arkeologi bermula sekitar tahun 1935, ketika Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald bersama M. W. F. Tweedie menemukan situs Kali Baksoka di Kecamatan Punung. Situs ini kemudian dikenal sebagai salah satu bengkel manusia purba terbesar dari masa Paleolitikum, yang melahirkan istilah Budaya Pacitanian dalam studi prasejarah.

Baca Juga  Dinkes Pacitan Kick Off Semarak Satu Tekad: Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer Menuju Indonesia Emas

Penelitian lanjutan di Gua Song Terus dipimpin oleh Truman Simanjuntak dan François Sémah. Ekskavasi di lokasi ini menemukan sejumlah kerangka manusia pada kedalaman hingga 16 meter, yang menunjukkan adanya lapisan hunian prasejarah yang sangat tua. Sejak penelitian dimulai pada tahun 1994, lebih dari 70.000 artefak telah berhasil ditemukan dari berbagai lapisan tanah, menandakan intensitas aktivitas manusia purba dalam jangka waktu yang panjang.

Salah satu temuan penting dari situs ini adalah kerangka manusia yang dikenal sebagai “Mbah Sayem”. Berdasarkan hasil analisis, individu tersebut diperkirakan berusia sekitar 40–50 tahun saat meninggal dan telah terkubur selama kurang lebih 10.000 tahun. Temuan ini menjadi bukti penting keberadaan manusia prasejarah di kawasan Pacitan.

Secara fisik, Gua Song Terus memiliki panjang sekitar 150 meter, lebar antara 10 hingga 20 meter, serta tinggi langit-langit mencapai 10 meter. Situs ini semakin menarik perhatian sejak ditemukannya kerangka manusia prasejarah pada tahun 1999. Saat ditemukan, posisi kerangka dalam keadaan terlentang, dengan kedua tangan menggenggam alat batu dan alat dari tulang. Di sekelilingnya ditemukan sisa-sisa tulang hewan, termasuk monyet ekor panjang, serta indikasi praktik penguburan seperti penggunaan daun pakis dan sisa makanan yang telah dibakar, yang mengarah pada adanya tradisi ritual.

Baca Juga  PASTIKAN SESUAI TRACK, DANSESKOAD KUNKER KE DEPSOSTEK

Tidak jauh dari lokasi tersebut, sekitar 3 kilometer, terdapat Gua Song Keplek yang juga menjadi fokus penelitian arkeologi. Gua ini merupakan hunian manusia ras Australomelanesid yang hidup pada kisaran 8.000 hingga 4.500 tahun lalu. Temuan artefak di lokasi ini memiliki kesamaan dengan Song Terus, seperti alat serpih batu, alat tulang, dan alat dari cangkang kerang. Hingga kini, sedikitnya lima individu manusia telah ditemukan di situs tersebut, baik dewasa maupun anak-anak.

Secara umum, gua-gua di kawasan karst Pacitan diperkirakan berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus pusat aktivitas manusia prasejarah, mulai dari memasak hasil buruan hingga berkembang biak. Kawasan ini juga diduga menjadi salah satu jalur penting migrasi manusia purba seperti Homo erectus, sebagaimana yang ditemukan di Situs Sangiran.

Baca Juga  Joko Wiyono Juara I Lomba Karya Jurnalistik TMMD ke-118: Menghapus Nestapa, Hadirkan Sumber Kehidupan

Dengan demikian, rangkaian penelitian sejak 1994 hingga kini, yang menghasilkan puluhan ribu artefak, semakin menegaskan bahwa Pacitan merupakan salah satu pusat penting kehidupan manusia prasejarah di Indonesia. Temuan-temuan tersebut tidak hanya memperkaya khazanah arkeologi, tetapi juga memperkuat identitas sejarah Pacitan sebagai wilayah yang memiliki peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu.

Penulis: Dr. Agoes Hendriyanto, M.Pd