Kertas Daluang: Warisan Teknologi Tradisional Nusantara yang Tahan Zaman
PRABANGKARANEWS.COM – Suasana penuh semangat dan antusias mewarnai kegiatan belajar bersama pembuatan daluang, kertas tradisional Nusantara, yang diselenggarakan di Bale Pasunggingan pada Jumat, 1 Mei 2026. Sebanyak 31 mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan D3 Perpustakaan angkatan 2024 Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti kegiatan yang juga menjadi bagian dari pembelajaran mata kuliah Preservasi Informasi Budaya.
Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk mengenal, memahami, sekaligus mempraktikkan teknologi tradisional yang pernah menjadi media utama penulisan naskah kuno di Nusantara.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya mempelajari sejarah dan fungsi daluang sebagai media tulis tradisional, tetapi juga terlibat dalam setiap tahapan pembuatannya. Mulai dari pengenalan bahan baku pohon saeh, proses pengolahan serat, pengempaan, hingga pengeringan dan penghalusan lembaran daluang. Melalui praktik langsung ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya pelestarian pengetahuan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
Kegiatan ini dipandu oleh Faris Wibisono, penggiat seni kertas daluang yang saat ini tengah menempuh studi magister di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Faris dikenal sebagai salah satu generasi muda yang konsisten menekuni, mengembangkan, dan melestarikan pengetahuan tradisional pembuatan daluang. Dedikasinya menunjukkan bahwa warisan teknologi tradisional Nusantara masih memiliki ruang untuk terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep preservasi budaya secara teoritis, tetapi juga memiliki kesadaran untuk turut menjaga dan mengembangkan warisan intelektual Nusantara. Daluang bukan sekadar lembaran kertas tradisional, melainkan simbol kreativitas, kearifan lokal, dan tradisi literasi yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang peradaban Indonesia.
Kertas daluang merupakan salah satu warisan teknologi tradisional Nusantara yang telah dikenal sejak abad ke-9 Masehi. Keberadaannya tercatat dalam naskah kuno Kakawin Ramayana, yang menyebutkan bahwa daluang digunakan sebagai bahan pakaian para pandita. Seiring perkembangan zaman, fungsi kertas daluang semakin beragam, mulai dari media penulisan naskah suci, pembuatan mahkota penutup kepala (ketu), hingga menjadi bahan utama pembuatan Wayang Beber.
Wayang Beber Pacitan dengan Candra Sengkala pada cerita 4 gulung pertama berbunyi “gawe Serabi Dijamah Wong” 1614 atau 1692 M.
“Gawe serabi jinamah ing wong” merupakan sebuah candrasangkala (sistem penanggalan Jawa berwujud kalimat yang memiliki makna angka) yang menunjuk pada tahun 1614 Saka atau sekitar tahun 1692 Masehi
Pada masa penyebaran Islam di Nusantara, daluang juga dimanfaatkan sebagai media penulisan berbagai manuskrip keagamaan. Bahkan, banyak mushaf Al-Qur’an kuno yang ditemukan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI ditulis di atas kertas daluang.

Bahan baku kertas daluang berasal dari pohon saeh (Broussonetia papyrifera) yang memiliki serat kuat dan lentur. Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional dengan mengupas kulit pohon hingga diperoleh lapisan serat yang dapat diolah menjadi lembaran kertas.

Kulit tersebut kemudian dicuci dan dikempa atau dipukul pada kedua sisinya agar melebar hingga dua sampai tiga kali ukuran semula.
Meskipun proses pembuatannya membutuhkan waktu yang panjang dan ketelatenan tinggi, kertas daluang memiliki keunggulan yang tidak dimiliki kertas modern. Karena dibuat tanpa bahan kimia sintetis, daluang memiliki daya tahan yang sangat baik terhadap perubahan waktu.

Banyak naskah kuno berbahan daluang yang masih dapat dibaca hingga ratusan tahun kemudian. Ketahanan inilah yang menjadikan daluang sebagai media tulis utama bagi para pujangga, ulama, dan seniman Nusantara pada masa lampau.
Sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) kategori Teknologi Tradisional, kertas daluang merupakan bukti kecerdasan lokal masyarakat Nusantara dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk kebutuhan literasi, seni, dan keagamaan.

Pelestarian pengetahuan tentang pembuatan daluang tidak hanya penting untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai inspirasi pengembangan produk ramah lingkungan berbasis kearifan lokal di masa depan. Kertas daluang menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Nusantara yang kaya akan tradisi literasi dan inovasi budaya.
