Mengulik Pesan dari Citayam Fashion Week
PRABANGKARANEWS.COM || UPNYOGYA – Citayam Fashion Week (CFW) adalah sebuah fenomena penting yang harus dicermati secara ilmiah. CFW bukanlah fenomena remeh-temeh yang hanya cocok dijadikan meme. Ia adalah sebuah penanda zaman yang harus bisa dibaca oleh para pemangku kepentingan. Fashion juga sudah lama menjadi kajian multidisipliner seperti sejarah, antropologi, sosiologi, psikologi, komunikasi, agama dan sebagainya. Demikian disampaikan oleh Dewi Novianti, M.Si sebagai Koordinator Program Studi Hubungan Masyarakat, Jurusan Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta pada Webinar “Beyond Citayam Fashion Week” yang digelar Kamis, 4 Agustus 2022.
Dalam webinar yang diselenggarakan oleh Laboratorium Public Relations Strategic, Jurusan Ilmu Komunikasi itu, hadir tiga pembicara yaitu Muhammad Edy Susilo, M.Si sebagai kepala laboratorium, dan dua mahasiswa dari Prodi Humas yaitu dua Yolanda Ristanti dan Syiva Pramuji. Yolanda menayampaikan materi yang berjudul “Building Awareness from CFW” Adanya CFW dapat mendatangkan peluang bagi para pemilik bisnis untuk memanfaatkannya guna meningkatkan pengenalan brand. “Brand bisa diuntungkan karena CFW mendapat sorotan luas secara nasional. Bahkan, ada juga media internasional yang meliputnya. Selain usaha kecil seperti penjual minuman kelililing, saya melihat beberapa brand lokal dapat memanfaatkan momen ini”, papar Yolanda.
Pada sesi kedua, Syiva Pramuji membahas bagaimana public relations pemerintah sebaiknnya mampu menyikapi pro dan kontra mengenai CFW, melalui community management, analisis opini publik dan PR campaign. Community management adalah sebuah strategi yang perlu dilakukan oleh public relations pemerintah untuk meningkatkan hubungan dengan komunitas yang ada di CFW. “Selain itu, analisis opini publik agar terus dilakukan. Di media digital, analisis opini publik lebih mudah dilaksanakan dan lebih terukur karena berdasarkan data yang eksak. Tentu saja perlu ditambah dengan metode lain yang sifatnya kuantitatif,” ungkap Syiva.
Dalam acara yang diikuti puluhan peserta itu, Muhammad Edy Susilo menyampaikan mengenai problema sosial di balik hiruk pikuk CFW. “Jangan salah, di balik baju oversized yang dikenakan dan ceplas ceplos mereka yang kadang menggelikan, tersembunyi problema sosial yang serius seperti kemiskinan, putus sekolah dan keinginan untuk “sukses” secara instan”, terang Edy Susilo. “Jangan-jangan ini juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Ini permasalahan yang serius karena menyangkut generasi yang akan datang. Usia mereka masih sangat muda, sekitar 14 sampai dengan 16 tahun,” imbuh Edy.
Mahasiswa dan Kepekaan pada Isu Sosial
Delima Purnamasari, salah seorang peserta, sepakat bahwa CFW tidak hanya menyuarakan ekspresi melalui busana yang mereka pamerkan tetapi aspek kehidupan sosial lain yang mungkin luput dari perhatian khalayak. “Sejujurnya jawaban ini tidak terlepas dari webinar tadi. Aku pribadi sepakat bahwa di CFW ada pro dan kontra. Tapi hal paling penting menurutku generasi muda yang sedang viral itu sedang mengalami banyak problematika. Mulai dari ekonomi, pendidikan, sampai kehidupan sosial. Jadi, ketika cerita mereka mulai diangkat, harusnya persoalan ini harus mulai diselesaikan. Baik itu oleh pemerintah, swasta, ataupun publik secara luas,” ungkap Delima.

Secara keseluruhan, acara ini berjalan dengan lancar terbukti dari antusiasme dan manfaat yang dirasakan oleh peserta webinar. Dalam kesempatan yang sama Delima mengakui bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran dan kepekaan generasi muda atas isu sosial yang sedang terjadi melalui sudut pandang ilmiah.
Hal sama juga dirasakan oleh Mailinda, salah seorang peserta lainnya. “Menurut aku, seru ya pembahasannya karena isunya juga lagi happening banget. Setelah ikut webinar tuh dapet insight dan ilmu baru. Terus yang paling penting, jadi tahu kalau kita sebagai PR itu bagaimana nantinya menghadapi hal-hal yang lagi viral,” ujarnya. (Syiva PBA)
