Mendiktisaintek: Program Kampus Merdeka Bersifat Opsional, Sesuai Kebutuhan Kampus dan Mahasiswa
PRABANGKARANEWS || Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro menegaskan bahwa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) tidak bersifat wajib bagi mahasiswa maupun perguruan tinggi. Ia menyatakan bahwa setiap institusi pendidikan tinggi, mahasiswa, dan dosen diberi kebebasan untuk menentukan metode pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
“Jika program Kampus Merdeka tidak sesuai atau tidak bisa diterapkan, maka tidak perlu memaksakan,” jelasnya dilansir dari Antara, Sabtu (23/11/24).
Menurut Satryo, ide utama program ini adalah memberikan fleksibilitas dalam belajar dan memperkaya pengalaman mahasiswa. Namun, sesuai konsep “merdeka”, penerapannya juga harus dilakukan secara sukarela tanpa tekanan.
“Makna merdeka adalah kebebasan untuk memilih, bahkan termasuk kebebasan untuk tidak memilih. Jadi, tidak mengikuti juga tidak masalah,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa ada perguruan tinggi yang mungkin tidak mampu atau merasa program ini kurang relevan dengan bidang studi yang dimiliki. Karena itu, pelaksanaannya disarankan hanya jika program tersebut memberikan manfaat dan kecocokan.
Satryo juga mengingatkan pentingnya bimbingan dosen dalam membantu mahasiswa memilih opsi yang sesuai, agar tidak terjadi kesalahan dalam menentukan program. “Yang penting adalah hasilnya—apakah kampus mampu mendukung keberhasilan mahasiswa, baik melalui MBKM maupun dengan pendekatan lain,” pungkasnya.
