Kolaborasi Indonesia–India Didorong untuk Selamatkan Kompleks Prambanan
PRABANGKARANEWS.COM, Jakarta, 16 Maret 2026 – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menggelar pertemuan dengan tim pemugaran dari Archaeological Survey of India (ASI) di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta. Pertemuan ini membahas tindak lanjut kerja sama dalam upaya konservasi dan pemugaran kompleks Candi Prambanan, dilansir dari Kemenbud.go.id Kamis (19/3).
Dalam presentasinya, Janhwij Sharma selaku ADG Conservation and World Heritage menjelaskan bahwa ASI merupakan lembaga arkeologi yang telah berdiri sejak 1861 dan saat ini mengelola ribuan monumen bersejarah, termasuk berbagai situs warisan dunia. Selain di India, ASI juga aktif memberikan dukungan teknis pemugaran di sejumlah negara seperti Kamboja, Laos, Vietnam, Uzbekistan, dan Mongolia.
Berdasarkan hasil kunjungan awal di kawasan Prambanan, tim ASI menilai sejumlah candi perwara membutuhkan penanganan konservasi lebih lanjut. Salah satu metode yang direkomendasikan adalah anastylosis, yakni teknik pemugaran dengan memanfaatkan kembali batu asli yang ditemukan di lokasi. Melalui pendekatan ini, rekonstruksi dilakukan dengan material autentik sebanyak mungkin, sementara penggunaan batu baru dibatasi hanya untuk kebutuhan struktural.
Tim ASI juga menyoroti tantangan utama dalam proses pemugaran, yakni banyaknya elemen batu arsitektur yang tersebar di area situs. Kondisi ini menyulitkan proses identifikasi asal-usul batu sehingga memerlukan dokumentasi menyeluruh serta pengelompokan tipologi secara cermat. Oleh karena itu, tahap awal pekerjaan akan difokuskan pada pendataan lengkap terhadap struktur candi dan komponen batu yang ada.
Untuk memastikan efektivitas metode yang digunakan, ASI mengusulkan pelaksanaan proyek percontohan (pilot project) pada satu atau dua candi perwara. Hasil dari proyek ini nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan pendekatan terbaik sebelum pemugaran diperluas ke struktur lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Fadli Zon menyampaikan apresiasi atas pengalaman dan kontribusi internasional ASI dalam pelestarian situs warisan dunia. Ia menegaskan bahwa upaya konservasi di kawasan Prambanan harus dipahami dalam konteks lanskap budaya yang lebih luas, yang juga mencakup Candi Sewu dan Candi Plaosan sebagai bagian dari jejak akulturasi Hindu-Buddha di Nusantara.
“Kompleks Prambanan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari satu kesatuan lanskap budaya bersama Candi Sewu dan Plaosan. Karena itu, pelestarian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada bangunan, tetapi juga pada keseluruhan ekosistem budaya,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terbuka terhadap kerja sama internasional guna memperkuat upaya pelestarian warisan budaya, khususnya di kawasan Prambanan. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan dinilai dapat membantu proses identifikasi serta rekonstruksi komponen batu candi secara lebih akurat.
Lebih lanjut, pemerintah berkomitmen untuk memperluas kerja sama global dalam pelestarian situs warisan dunia. Diharapkan, kolaborasi dengan ASI dapat segera ditindaklanjuti melalui penyusunan dokumen teknis dan mekanisme kerja sama yang lebih konkret.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, Deputy Chief of Mission Bijay Selvaraj, serta Surveyor Ganesh Singh. Turut mendampingi Menteri Kebudayaan sejumlah pejabat terkait di lingkungan kementerian.
Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam menjajaki kolaborasi strategis antara Indonesia dan India untuk pelestarian kawasan Prambanan, sekaligus mempererat hubungan budaya kedua negara.
