Merajut Gagasan dari Pesisir: LKMM-TD STKIP PGRI Pacitan di Watukarung

Merajut Gagasan dari Pesisir: LKMM-TD STKIP PGRI Pacitan di Watukarung
Merajut Gagasan dari Pesisir: LKMM-TD STKIP PGRI Pacitan di Watukarung, Jum'at (17/4/26).
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, STKIP PGRI Pacitan – Debur ombak di pesisir Pantai Watukarung pagi itu seakan menjadi latar alami bagi lahirnya gagasan-gagasan baru. Di tengah bentang alam yang tenang namun penuh energi, puluhan mahasiswa berkumpul, tidak sekadar belajar—tetapi juga merumuskan arah gerak organisasi ke depan.

Jumat (17/4/2026), STKIP PGRI Pacitan menggelar kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar (LKMM-TD) dengan tema “Analisis Kondisi Lingkungan dan Perumusan Gagasan Awal”. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus refleksi bagi mahasiswa dalam memahami peran strategis mereka sebagai agen perubahan.

Acara dibuka langsung oleh Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, yang menekankan pentingnya mahasiswa tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga peka terhadap kondisi lingkungan sosial di sekitarnya.

Baca Juga  Sentuhan Spiritual dari Habib Anis Meriahkan Milad ke-27 MAN 3 Sragen

Di hadapan sekitar 50 peserta yang hadir secara langsung, semangat itu terasa nyata. Mereka merupakan delegasi dari 25 organisasi kemahasiswaan (Ormawa), masing-masing mengirimkan dua perwakilan terbaiknya. Meski jumlah mahasiswa di lingkungan kampus mencapai sekitar 1.600 orang, forum ini menjadi representasi kecil yang diharapkan mampu menularkan dampak besar.

Materi utama disampaikan oleh Wakil Ketua I, Dr. Hasan Khalawi. Dalam paparannya, mahasiswa diajak untuk tidak berhenti pada wacana, tetapi mulai membangun kerangka berpikir kritis—menganalisis kondisi nyata, mengidentifikasi persoalan, dan merumuskan gagasan awal yang aplikatif.

Di sela kegiatan, suasana diskusi berlangsung hangat. Mahasiswa saling bertukar pandangan, mengaitkan teori dengan realitas, serta mencoba membaca persoalan dari berbagai sudut. Lingkungan Watukarung yang terbuka justru memperluas cara pandang mereka—bahwa persoalan tidak selalu berada di ruang kelas, tetapi hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga  Sarasehan Budaya: Mengupas Konsep dan Implementasi Reog Santri di Ponorogo

Turut hadir pula unsur pimpinan kampus lainnya, termasuk Wakil Ketua III, yang memberikan dukungan terhadap penguatan kapasitas organisasi mahasiswa. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa kampus tidak hanya menyediakan ruang akademik, tetapi juga ruang tumbuh bagi kepemimpinan mahasiswa.

Kegiatan LKMM-TD ini bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi titik awal—tempat mahasiswa belajar memahami peran, membangun kesadaran, dan merancang langkah kecil yang berdampak.

Dari pesisir Watukarung, gagasan-gagasan itu mulai dirajut. Perlahan, namun pasti.

Dan di tangan para mahasiswa inilah, harapan akan organisasi yang lebih solid dan berdaya akan menemukan jalannya.