Topografi, Pegunungan, dan Daerah Aliran Sungai Pacitan Menurut Laporan Geologi Hindia Belanda
PRABANGKARANEWS.COM – Karesidenan Madiun berbatasan di sebelah timur dengan Karesidenan Kediri, di sebelah utara dengan Rembang dan sebagian wilayah Solo, di sebelah barat dengan Semarang, di sebelah barat daya dengan Surakarta (Solo), serta di sebelah selatan dengan Samudra Hindia. Batas-batas administratif tersebut mengalami beberapa perubahan setelah dilakukan pemisahan wilayah administrasi Madiun. Distrik Patjitan (Pacitan) bersama sebagian Distrik Lorok dipindahkan ke wilayah Kediri, kemudian membentuk Distrik Ngrajoe (Ngadirojo) dan sebagian wilayah Distrik Panggul.
Keterbatasan Peta Topografi
Pada saat penyusunan laporan tahun 1896, belum tersedia lembar peta topografi skala 1:20.000 untuk wilayah Madiun. Dari wilayah Pacitan hanya sebagian kecil yang telah dipetakan. Oleh karena itu, penelitian geologi banyak menggunakan peta chorografi berskala 1:100.000 yang diterbitkan oleh Dinas Topografi Hindia Belanda.
Untuk beberapa lokasi penting bahkan digunakan salinan peta asli berskala 1:10.000 dari Topografisch Bureau di Batavia atau dilakukan pemetaan lapangan secara mandiri.
Bentang Alam
Secara umum wilayah Madiun merupakan daerah bergunung-gunung. Satu-satunya dataran luas adalah lembah Kuarter Sungai Madiun yang membentang dari Slahung melalui Ponorogo, Kota Madiun, hingga Ngawi sebelum bergabung dengan Sungai Solo.
Di bagian utara terdapat perbukitan rendah sebagai batas dengan Rembang dengan ketinggian rata-rata sekitar 150 meter, meskipun di sekitar Pandan mencapai sekitar 600 meter. Di sebelah timur berdiri Pegunungan Wilis sebagai batas dengan Kediri, sedangkan di sebelah barat daya menjulang Gunung Lawu di perbatasan Surakarta.
Bagian tenggara wilayah Madiun, termasuk Pacitan, merupakan kawasan pegunungan yang sangat terjal dengan banyak puncak berketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Dari pegunungan tersebut mengalir sejumlah sungai menuju pantai selatan Jawa.
Daerah Aliran Sungai di Pacitan
1. Daerah Aliran Sungai Grindulu
Daerah aliran Sungai Grindulu membentang dari utara ke selatan. Puncak tertingginya adalah Gunung Gadjah dengan ketinggian sekitar 1.092 meter. Dari kawasan ini berbagai sungai mengalir ke arah selatan menuju Samudra Hindia.
Di bagian timur berdiri Gunung Gadjah dan Gunung Tileng (±990 meter). Dari kedua gunung tersebut memanjang punggungan pegunungan ke arah barat hingga Gunung Apak (±1.017 meter), kemudian berbelok ke selatan mengikuti jajaran pegunungan sampai daerah Tamanasri.
Selanjutnya punggungan itu berlanjut menuju perbatasan Solo di sekitar Kebonagung, membentuk batas alam antara wilayah Maron dan Kembeng sebelum berakhir di sekitar Glonggong, tempat dimulainya daerah aliran sungai berikutnya.
2. Daerah Aliran Sungai Lorok
Daerah aliran ini mencakup wilayah sekitar Lorok di bagian utara. Sungai-sungainya mengalir ke selatan menuju pantai selatan Jawa.
Di bagian timur terdapat dataran tinggi Watu Patok, sedangkan di bagian selatan sungai-sungai bermuara di sekitar Kali Pacitan. Sungai utama menerima aliran dari beberapa anak sungai, antara lain Kali Gendol dan Kali Gedong, sebelum akhirnya mencapai laut.
Di sekitar Pacitan lembah sungai semakin melebar sehingga membentuk dataran aluvial yang lebih luas dibandingkan bagian hulunya.
3. Daerah Aliran Sungai Baksoka
Di sebelah barat Pacitan terdapat daerah aliran Sungai Baksoka yang mengalir melalui kawasan batu kapur (karst). Sungai ini beberapa kali menghilang ke dalam lorong-lorong bawah tanah, kemudian muncul kembali sebelum akhirnya bermuara ke laut.
Fenomena tersebut menunjukkan berkembangnya sistem hidrologi karst yang khas di kawasan Gunungsewu.
Sumber: Verbeek, Rogier Diederik Marius, dan Reinder Fennema. 1896. Geologische Beschrijving van Java en Madoera (Deskripsi Geologi Pulau Jawa dan Madura). Batavia: J.G. Stemler Cz.

