Menelusuri Jejak Peradaban Islam Lewat Naskah Kuno dan Artefak Maritim: Mahasiswa Filologi UNS Belajar di Museum Abad 1 Hijriah

Menelusuri Jejak Peradaban Islam Lewat Naskah Kuno dan Artefak Maritim: Mahasiswa Filologi UNS Belajar di Museum Abad 1 Hijriah
Menelusuri Jejak Peradaban Islam Lewat Naskah Kuno dan Artefak Maritim: Mahasiswa Filologi UNS Belajar di Museum Abad 1 Hijriah
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM, Surakarta – Memahami naskah kuno tidak cukup hanya dengan membaca teks yang tertulis di atas lembaran kertas tua. Di balik setiap aksara, tersimpan kisah panjang tentang peradaban, perdagangan, budaya, hingga perjalanan agama yang membentuk wajah Nusantara. Kesadaran itulah yang mendorong mahasiswa Program Studi Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan kuliah lapangan di Museum Abad 1 Hijriah milik Sultanate Institute, Jumat (26/6/2026).

Kunjungan tersebut menjadi ruang belajar yang mempertemukan kajian filologi dengan bukti-bukti sejarah yang nyata. Mahasiswa tidak hanya mempelajari naskah sebagai teks, tetapi juga memahami konteks sejarah yang melahirkan dan menghidupkan teks-teks tersebut selama berabad-abad.

Dalam sesi pemaparan, perwakilan Sultanate Institute, Muhammad Sidiq Hidayah Ma’ruf, menjelaskan bagaimana jalur perdagangan maritim sejak abad ke-7 Masehi menjadi penghubung berbagai peradaban dunia. Laut bukan sekadar jalur pertukaran komoditas, melainkan juga menjadi media penyebaran ilmu pengetahuan, bahasa, kebudayaan, dan ajaran Islam hingga akhirnya mencapai kepulauan Nusantara.

Baca Juga  STKIP PGRI Pacitan; Selamat dan Sukses Atas Terselenggaranya  Sarasehan II PGRI Kab.Pacitan

Melalui penjelasan tersebut, mahasiswa memperoleh perspektif bahwa perkembangan tradisi tulis di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari dinamika perdagangan internasional yang menghubungkan Timur Tengah, India, Asia Tenggara, hingga Tiongkok.

Pengalaman belajar semakin menarik ketika para mahasiswa diajak mengelilingi Museum Abad 1 Hijriah. Beragam koleksi arkeologis tersaji sebagai saksi bisu kejayaan perdagangan maritim masa lampau. Di antaranya adalah sisa-sisa kayu kapal yang diperkirakan berasal dari abad ke-7 hingga ke-10 Masehi beserta muatan yang berhasil diangkat dari dasar laut.

Berbagai artefak seperti koin dinar dan dirham, peralatan medis, manik-manik, keramik, perhiasan, hingga gading gajah memperlihatkan betapa luasnya jaringan perdagangan internasional pada masa awal perkembangan Islam. Koleksi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Nusantara telah menjadi bagian penting dari jalur perdagangan dunia sejak berabad-abad silam.

Baca Juga  Nguri-Nguri: Evolusi Wayang Beber Panji Melampaui Zaman

Bagi mahasiswa Filologi, salah satu bagian yang paling berkesan adalah kesempatan mengamati koleksi naskah kuno yang tersimpan di Sultanate Institute. Sebagian besar naskah menggunakan bahasa Arab dengan beragam tema keislaman, sejarah, dan ilmu pengetahuan.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga diperkenalkan dengan laklak, naskah tradisional masyarakat Batak yang ditulis pada media kulit kayu. Keberadaan laklak menunjukkan kekayaan tradisi literasi Nusantara yang berkembang dengan karakter dan media penulisan yang berbeda di setiap daerah.

Kunjungan ini memperlihatkan bahwa filologi bukan sekadar disiplin yang berkutat pada proses membaca aksara kuno atau transliterasi teks. Filologi juga menjadi jembatan untuk memahami sejarah, kebudayaan, arkeologi, hingga perjalanan peradaban manusia melalui warisan tertulis yang masih bertahan hingga kini.

Baca Juga  Kertas Daluang sebagai Media Wayang Beber Tawang Alun Pacitan

Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman akademik yang lebih komprehensif dalam menghubungkan teks dengan konteks sejarahnya. Naskah kuno dipahami bukan hanya sebagai benda koleksi atau peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang terus relevan untuk mengungkap perjalanan intelektual, budaya, dan peradaban bangsa.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pelestarian warisan budaya dalam menumbuhkan generasi muda yang peduli terhadap pelestarian manuskrip, artefak sejarah, serta kekayaan intelektual Nusantara sebagai bagian dari identitas bangsa.

Penulis: Putri Aulia Nur Fauziah