Tantangan Jalan Pacitan Masa Kolonial Hindia Belanda (Dana Indonesiana 2025)

Tantangan Jalan  Pacitan  Masa Kolonial Hindia Belanda (Dana Indonesiana 2025)
Tantangan Jalan Pacitan Masa kolonial Hindia Belanda (Dana Indonesiana 2025)
SHARE

PRABANGKARANEWS.COM – Jalan menuju Patjitan pada masa kolonial Hindia Belanda merupakan jalan pegunungan yang dibangun mengikuti kontur alam Pegunungan Selatan Jawa. Ruas jalan tampak berkelok tajam dengan tikungan yang dibuat pada lereng bukit melalui proses  secara manual atau dibantu dengan bahan peledak  batuan, sebagaimana dijelaskan dalam keterangan foto berbahasa Belanda.

Di sisi kiri jalan terlihat tebing batu yang dipotong untuk membuka jalur transportasi. Bekas singkapan batu menunjukkan bahwa pembangunan jalan memerlukan pekerjaan teknik yang cukup berat karena harus menembus batuan keras. Teknik pembuatan jalan dari Eropa saat itu yang paling mutakhir dipergunakan untuk membuka jalan Pacitan – Ponorogo yang medannya batu, tebing, dan jurang Sungai Grindulu.

Baca Juga  Peristiwa Luar Biasa di Pacitan Selama Perang Jawa : Transformasi Loyalitas dan Perebutan Kembali Kota

Sementara itu, di sisi kanan jalan dibangun tembok penahan (retaining wall) yang memisahkan badan jalan dengan aliran Sungai  Grindulu di bawahnya. Tembok tersebut berfungsi mencegah longsor, memperkuat badan jalan, sekaligus menjaga kestabilan konstruksi pada medan yang curam. Teknik bangunan penahan tebing juga ditransfer dari teknisi kolonial kepada masyarakat Pribumi Pacitan.

Permukaan jalan tampak belum beraspal, melainkan berupa jalan makadam atau susunan batu kerikil yang dipadatkan.  Teknik pngrasan jalan juga diperoleh dari transfer teknologi dari kolonialisme Belanda.  Jenis konstruksi ini merupakan teknologi jalan yang umum digunakan di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 sebelum penggunaan perkerasan aspal menjadi luas.

Baca Juga  Tim MMD 413 Universitas Brawijaya Malang Kolaborasi Pemkab Pacitan, Sukses Selenggarakan Event Festival Budaya Ranting Boto 2023

Lebar jalan relatif sempit, diperkirakan hanya cukup untuk dilalui satu gerobak atau satu kendaraan bermotor awal secara bergantian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa arus lalu lintas pada masa itu masih terbatas dan lebih banyak digunakan oleh gerobak, pedati, penunggang kuda, serta kendaraan bermotor berukuran kecil.

Lingkungan di sekitar jalan masih didominasi hutan tropis yang lebat, sehingga jalur transportasi ini melintasi kawasan yang masih alami. Di bagian bawah jalan tampak aliran sungai berbatu yang menjadi sumber material pembangunan tembok penahan, sebagaimana disebutkan dalam keterangan foto.

Makna Historis

Foto ini memperlihatkan besarnya tantangan pembangunan infrastruktur menuju Pacitan pada masa kolonial. Topografi yang bergunung-gunung, tebing terjal, dan lembah sungai mengharuskan pembangunan jalan dilakukan melalui pemotongan lereng batu, penggempuran batuan secara manual,  serta pembangunan tembok penahan tebing jalan.

Baca Juga  Emak-emak RT 03, RW IV Krajan Sirnoboyo, Wisata ke Sungai Maron, Pacitan

Infrastruktur tersebut menjadi jalur penting yang menghubungkan Pacitan dengan wilayah pedalaman Jawa, sekaligus mencerminkan perkembangan teknologi rekayasa jalan pada masa Hindia Belanda.

Penulis: Agoes Hendriyanto