Kearifan Lokal dalam Upacara Ruwatan Badut Sinampurna, Pacitan Jawa Timur
PRABANGKARANEWS || PACITAN – Upacara tradisional adalah ekspresi kepercayaan manusia terhadap kekuatan di luar dirinya, yang sering kali digambarkan dalam bentuk personifikasi kekuatan alam atau makhluk gaib. Upacara ini merupakan wahana komunikasi manusia dengan kekuatan besar di luar dirinya, dengan tujuan utama menjaga kehidupan dalam keadaan selamat.
Upacara tradisional adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa, mencerminkan berbagai aspek kehidupan dalam beragam upacara tradisional. Salah satu di antaranya adalah upacara ruwatan, yang memiliki makna untuk membebaskan orang, barang, atau desa dari ancaman bencana yang mungkin terjadi.
Badut Sinampurna adalah salah satu jenis upacara ruwatan yang ditemukan di Desa Ploso, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang telah diwariskan selama 10 generasi. Upacara ini memadukan mantra dan unsur dramatis dalam pelaksanaannya, menciptakan sebuah perayaan unik yang menggambarkan alur cerita yang mengandung unsur tekanan, kejutan, kebahagiaan, kesedihan, dan masalah.
Uniknya, upacara ruwatan Badut Sinampurna menggunakan media berupa badut berwarna-warni dan renda. Ia memiliki berbagai tokoh peran seperti Ki Jayaniman, Ki Demang, Kala, dan Cantrik. Selain itu, sesajen dan iringan gamelan serta gerongan sinden menjadi bagian penting dalam upacara ini.
Upacara ruwatan Badut Sinampurna telah ada selama sekitar satu setengah abad, dan keunikan lainnya adalah penggunaan mantra yang mencerminkan nilai-nilai lokal dan dilengkapi dengan unsur dramatik yang mengikuti plot kisah. Unsur-unsur ini telah menjadi fokus berbagai penelitian ilmiah, yang mengungkapkan bahwa upacara seperti ini masih memancarkan energi positif dan mengandung nilai-nilai kearifan lokal.
Upacara tradisional seperti ruwatan Badut Sinampurna adalah bagian tak terpisahkan dari budaya Jawa yang mencerminkan kepercayaan dan hubungan manusia dengan alam serta upaya untuk menjaga kehidupan dalam kondisi aman. Semoga nilai-nilai dan tradisi semacam ini dapat terus dilestarikan dan dihargai oleh generasi berikutnya.
Oleh: Agoes Hendriyanto
