Tumbuhkan Iklim Diskusi di Kalangan Mahasiswa, Aliansi Mahasiswa FIB Adakan Diskusi Publik
FIB UNS (PRABANGKARANEWS) – Selasa, 22 Oktober 2024 – Aliansi Mahasiswa FIB adakan diskusi publik dengan tema “Sejarah Pemikiran, Dari Masyarakat Mitos Menuju Masyarakat Rasional”. Diskusi ini dimulai pukul 16.00 WIB di sanggar theater, FIB UNS. Diskusi publik ini menghadirkan dua pemantik yakni Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A. selaku Kaprodi Sastra Indonesia FIB UNS dan Dr. Susanto, M.Hum.
Dalam diskusi publik ini pemantik dan peserta dibebaskan untuk mengutarakan pendapatnya tentang tema yang sudah ditentukan. Dr. Susanto, membuka diskusi dengan pemaparan historis pemikiran manusia. Mulai dari zaman teologis, positivistik, sampai zaman yang mengedepankan rasionalitas. Dalam paparannya, Susanto juga menjelaskan apa yang dimaksud mitos dan apa yang dimaksud realitas.
“Mitis atau mitos adalah pemikiran dikala seorang manusia merasa dilingkupi oleh kekuatan besar yang berasal dari luar dirinya. Dalam perkembangan selanjutnya manusia menyadari ‘keberadaan’ di luar dirinya dan memiliki alur pemikiran yang bersifat fungsional atau sistematis,” ungkap Susanto.
Selanjutnya Dr. Asep memaparkan tentang mitos yang merupakan realitas masyarakat masa lalu yang memiliki fungsi sebagai media informasi dan media edukasi dalam medium bahasa. Legenda, mitos, dongeng dan lain sebagainya merupakan fenomena ‘riil’ yang belum bisa dibahasakan dengan baik, sehingga menimbulkan interpretasi bahwa hal itu bukanlah fakta namun mitos yang tidak masuk akal.
“Mitos merupakan media transfer ilmu dan informasi yang digunakan oleh leluhur kita untuk generasi penerus (lintas generasi). Seperti fenomena Gunung Tangkuban Perahu, hal itu bukan semata-mata muncul dari legenda Sangkuriang. Setelah penelitian lebih lanjut, kemunculan Tangkuban Perahu merupakan hasil dari fenomena geologi yang saat itu tidak bisa dibahasakan secara ilmiah oleh para leluhur karena keterbatasan ilmu pengetahuan, Maka mereka memilih media mitos untuk menggambarkan fenomena gunung Tangkuban Perahu,” ujar Asep.
Setelah pemaparan dilakukan oleh kedua narasumber, beberapa memulai bertanya dan membuka diskusi. Berbagai topik dibahas dalam diskusi publik seperti dinamika pemikiran abad pertengahan, tasawuf yang dijadikan medium eskapisme umat beragama, sampai pertanyaan tentang mitos yang dijadikan sebagai legitimasi sebuah kekuasaan. Tanya jawab yang berlangsung secara interaktif.
Selain itu, materi-materi yang telah disampaikan memantik para mahasiswa yang hadir untuk mengemukakan pendapat maupun pertanyaan. Thoriq Akbar, salah satu mahasiswa dari Sastra Daerah menanyakan mengenai mitos dan perkembangannya akhir-akhir ini.
“Dalam Pilpres kemarin, misalnya, media sosial ramai mengenai berita ramalan yang dinisbatkan ke salah satu calon. Apakah mitos masih relevan untuk digunakan pada zaman sekarang?” jelasnya.
Dr. Susanto lalu menjawab dengan menjelaskan bahwa masyarakat modern pun masih percaya kepada mitos-mitos seperti itu. “Memang tidak bisa dielakkan, masyarakat modern sekarang juga masih berkutat pada pemikiran seperti itu,” imbuhnya.
Sesi diskusi lalu dilanjutkan dengan berbagai pertanyaan lanjutan dari mahasiswa lain. Setelah kurang lebih dua setengah jam, moderator lalu menutup diskusi.
Kedua pemateri lalu pamit dan berpesan agar sesi diskusi seperti ini hendaknya dilakukan secara rutin agar atmosfer akademis di lingkungan mahasiswa terus berkembang.
Penulis: Raihan Tri Atmojo
